• img
Julianus Kriswantoro

Liputan6.com, Jakarta: Satu lagi film karya Garin Nugroho yang menyajikan sebuah cerita film dengan pendekatan sejarah populer romantis. Film Soegija berkisah tentang Romo Soegijapranata yang diangkat Vatikan, untuk menjadi Uskup Pribumi pertama di Indonesia.

Dengan properti, artistik, kostum, dan warna-warna sephia, penonton akan terbawa kepada nuansa perjuangan kemerdekaan di era 40 sampai 50-an. Secara emosional, penonton akan kembai mengenang sejarah perjuangan para prajurit saat melawan tentara Belanda, Jepang, dan sekutu.

Meski memakai tokoh Romo, seorang Soegijapranata merupakan Uskup pribumi pertama di Indonesia. Meski banyak memakai setting Gereja Katholik, film ini sama sekali bukan film agama.

Ini adalah sebuah film tentang keberagaman, nasionalisme, dan pluralisme yang humanis. Sosok Soegija tidak hanya membawakan diri sebagai seorang pemimpin agama, tapi juga sebagai pemimpin bangsa.

Dalam garapannya, Garin memakai semua tokoh untuk bertutur tentang humanisme dan patriotisme. Berbagai referensi tentang kehidupan Soegijapranata digali selama enam tahun lebih, untuk selanjutnya dituangkan dalam sebuah skenario film.

Film yang memecahkan rekor MURI untuk pemain terbanyak berjumlah 2775 orang itu menggunakan enam bahasa, termasuk bahasa latin. Film berdurasi 115 menit itu mulai tayang pada 7 Juni mendatang.(ALI/SHA)
Source: showbiz.liputan6.com
Ronggeng dan Sang Penari
Setelah FTV “Undangan Kuning” ditayangkan SCTV 30 September 2011 yang lalu satu lagi Film yang berlatar belakang budaya Banyumas yaitu Film Sang Penari. Film yang di adaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya maestro banyumas, Ahmad Tohari. Saya sempat membaca satu dari trilogi buku ini yaitu saat duduk di Sekolah Menengah Pertama, dari situ saya tahu bahwa sang pengarang berasal dari Banyumas, daerah saya dbesarkan.

Dari Sinopsisnya Film Sang Penari menceritakan tentang kisah cinta yang terjadi di desa miskin, Dukuh Paruk di tahun 1960an. Cerita seorang bernama Srintil, seorang penari ronggeng dengan Rasus, teman masa kecilnya. Srintil yang sejak kecil suka menari bahkan oleh para sesepuh di anggap mempunyai “indang” ronggeng dan akhirnya ia memang menjadi penari ronggeng yang terkenal, apalagi dengan kecantikannya. Dengan menjadi ronggeng, ia tidak hanya menari tapi lebih dari itu ia siap melayani orang yang membayar mahal dirinya. Ini yang tidak bisa diterima oleh Rasus dan akhirnya ia pergi dari Dukuh Paruk dan menjadi Tentara Republik Indonesia.

Kehidupan memang terus berputar, setelah jaman keemasan ronggeng Dukuh Paruk akhirnya di cari-cari oleh Tentara karena di anggap “terlibat” dalam Gerakan 30 September dan Rasus sebagai tentara harus memilih loyal kepada negara atau cintanya kepada Srintil. Ketika Rasus berada dalam dilema, ia sudah kehilangan jejak kekasihnya. Pencariannya tidak mudah dan baru membuahkan hasil sepuluh tahun kemudian (filmindonesia.or.id).

Di Banyumas sendiri istilah ronggeng memang tidak banyak digunakan, masyarakat lebih kenal dengan istilah Lengger atau Calung. Lengger, sebuah jenis hiburan rakyat dimana ada calung (gamelan yang terbuat dari bambu) dan ada penarinya. Penari ini menggunakan selendang dimana laki-laki yang nyawer dengan jumlah banyak akan menari bersamanya. Istilah lain selain ronggeng dan lengger adalah calung atau tayub (Jawa Barat), Gandrung (Banyuwangi), Ledhek (yogyakarta). (Nyai Ronggeng, FISIP, UI)

Di jaman dulu lengger atau ronggeng kesannya memang merendahkan perempuan, sebab pada pertunjukan lengger penonton yang “ketiban sampur (selendang)” boleh bertindak lebih dari menari seperti mencium pipi, mencubit pantat, merangkul tubuh bahkan ada yang di bawa ke luar arena pertunjukan. Perbuatan yang asusila inilah yang menggeser makna lengger atau ronggeng menjadi lenge angger atau ronge angger, leng atau rong artinya lubang sedangkan angger artinya anak.(Banyumas : Sejarah, Budaya, Bahasa dan Watak).

Sekarang ini lengger sudah sangat jarang bahkan hilang, walaupun ada hanya untuk pertunjukan budaya saja. Saya sempat menonton ketika masih kecil, tetapi berbeda dengan yang di gambarkan dalam novel atau film ini. Tidak ada mistis, walau masih ada sawer sudah tidak ada rangkul, raba atau perbuatan merendahkan perempuan lainnya. Selain itu sang penari juga bukan idola, jadi kesenian lengger murni untuk hiburan semata.

Seharusnya Lengger atau Ronggeng tetap ada seperti halnya kesenian Kuda Kepang atau Jaranan yang masih bertahan di Banyumas. Kemungkinan hilangnya budaya Ronggeng karena masyarakat memandang negatif kepada penari lengger atau kesenian lengger itu sendiri dan juga larangan Islam terhadap kemusyrikan karena kesenian lengger memang dekat dengan mistik.

Itulah budaya yang sebenarnya masih bisa di pertahankan jika memang masyarakat menginginkan, sayangnya budaya popular modern telah memati habis kesenian lengger sebagai identitas keberagaman Indonesia.

Photo : inspired-ground.com
Source: sosbud.kompasiana.com
BATAS TAK BERBATAS

Penyanyi : Iwan Fals
Ciptaan : Iwan Fals
Lirik : Slamet Rahardjo Djarot

Sendiri menanti pagi
Setitik embun bergantung di ujung daun
Sang dara melamun
Mimpi menelan matahari

Reff :
Suci embun segar perawan
Bergaun cahaya
Melintas batas
Ambisi dan kenyataan
Melambung tinggi, jauh
Ke alam impian

Bridge :
Dimana sungai dan pepohonan
Berkelindan menganyam kehidupan

Jejak telah dilangkahkan
Seribu kehendak harus terlahirkan
Urai jerat keangkuhan
Melepas belenggu
Rasa tahu berlebihan

Reff :
Memang gaun ini mesti berganti
Cahaya tak lagi menyilaukan
Dan menjelma menjadi pelurus hati
Kini sang dara menyanyi lagi

Bridge :
Tak lagi dia mau merasa sepi
Tak lagi dia mau merasa sendiri

Segar perawan berdandan
Atas cermin bercahaya kenyataan
Mimpi indah adalah
Fatamorgana

Walau samar cakrawala
Adalah kenyataan
Tampak jauh untuk ditempuh
Tapi itulah batas
Dari kehendak manusia yang tak berbatas
Oooh hmmmmm....

Reff :
Suci embun segar perawan
Bergaun cahaya
Melintas batas ambisi dan kenyataan
Melambung tinggi, jauh
Ke alam impian

Bridge :
Dimana sungai dan pepohonan
Berkelindan menganyam kehidupan
Dimana sungai dan pepohonan
Berkelindan menganyam kehidupan


SINOPSIS FILM

JALESWARI, dengan ambisi dan kepercayaan diri yang penuh, mengajukan diri untuk mengambil tanggung-jawab memperbaiki kinerja program CSR bidang pendidikan yang terputus tanpa kejelasan. Dia menyanggupi masuk ke daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan dan menjanjikan dalam dua minggu ketidak-jelasan itu dapat diatasi


Ternyata suatu kehendak belum tentu sejalan dengan kenyataan. Daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan memiliki pola kehidupannya sendiri. Mereka memiliki titik-pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Konflik bathin terjadi ketika dia terperangkap pada masalah kemanusiaan yang jauh lebih menarik dan menyentuh perasaan dibanding data perusahaan yang sangat teoritis dan terasa kering karena pada hakekatnya masalah rasa sangat relatif dan memiliki kebenaran yang berbeda

JALESWARI berada dalam tapal batas pilihan. Karisma hutan dan pola hidup masyarakat telah menyadarkan dirinya bahwa upaya memperbaiki kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan adat istiadat setempat. Jaleswari sangat memahami ADEUS, seorang guru yang dipercaya menjalankan program pendidikan, kini menjadi pribadi pendiam dan apatis, karena sistem pendidikan yang diinginkan perusahaan di Jakarta, tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Masyarakat lebih memilih untuk jadi tenaga kerja yang dijanjikan jadi kaya oleh penjual jasa bernama OTIK. Salah satu korbannya adalah UBUH, pekerja TKI yang melarikan diri dari negeri tetangga. Oleh masyarakat Dayak disana, UBUH tak hanya beroleh perlindungan namun juga kehangatan dan keramahan yang perlahan membuatnya berangsur pulih dari trauma

Tragedi kemanusiaan ini, merubah pemikiran JALESWARI. Semua peristiwa terjadi di depan matanya. Jiwanya goncang dan PANGLIMA ADAYAK, kepala suku menuntunnya memahami "Bahasa Hutan" yang mengetengahkan rasa hormat dan cinta untuk tidak merusak dan sebaliknya malah menjaga dan meningkatkan harkat manusia dan lingkungan kehidupannya. Langkah JALESWARI sangat membantu ARIF sebagai instrumen negara yang dalam penyamaran dan ditugaskan di wilayah perbatasan.

Mampukah JALESWARI bangkit, melewati batasnya dan terus berjuang untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik?

BATAS rilis 12 Mei di bioskop seluruh Indonesia
Jenis Film : Drama
Produser :Marcella Zalianty
Produksi :Keana Production

Pemain :
Marcella Zalianty
Arifin Putra
Ardina Rasti
Jajang C Noer
Piet Pagau
Marcell Domits
Alifyandra

Sutradara :
Rudi Soedjarwo

Penulis :
Slamet Rahardjo Djarot *** (red/21cineplex) ***
Source: iwan-fals.blogspot.com
>>