• img
Reuters
Mengapa Manusia Harus Berdoa?
Seorang Muslim tengah berdoa di depan Masjid Kashmiri Taqiya, Kathmandu, Nepal.

REPUBLIKA.CO.ID, Sebagian manusia ada yang berpendapat seandainya Allah menciptakan manusia sedemikian rupa sehingga mereka tidak membutuhkan apa dan siapapun, dengan demikian manusia tidak lagi menjulurkan tangannya meminta kepada seseorang atau Allah.

Kebutuhan, kemiskinan dan kesulitan yang dihadapi manusia yang membuatnya melakukan perbuatan rendah dan hina. Kondisi seperti ini memaksa manusia meminta sesuatu baik kepada orang atau kepada Allah. Manusia bahkan terkadang siap menjadi budak seseorang untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

Mereka juga tidak segan untuk membunuh dan menjarah untuk meraih apa yang diinginkannya. Bila Allah menciptakan manusia tidak membutuhkan sesuatu, maka kebanyakan dari kezaliman, penjarahan dan pembunuhan tidak akan terjadi.

Menjawab pemikiran yang semacam ini harus diperhatikan bahwa yang penting dalam masalah ini adalah makrifat atau pengenalan makhluk akan khalik atau penciptanya. Dalam kajian tauhid telah dibuktikan bahwa hanya Allah Swt yang tidak membutuhkan secara mutlak. Sementara setiap makhluk membutuhkan-Nya dan dalam wujudnya ada yang disebut Faqr Wujudi atau kefakiran ontologi. Menciptakan manusia yang tidak membutuhkan itu artinya menyekutukan makhluk dengan khalik dan ini mustahil terjadi.

Makhluk sebagai makhluk pasti membutuhkan. Tapi kebutuhan atau faqr ontologi yang ada bersamaan dengan hidayah takwini di seluruh makhluk dan hidayah tasyri'i bagi manusia mendorong makhluk mencapai kesempurnaan.

Pemberian akal, pengutusan para nabi dan diturunkannya Kitab Samawi merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Dalam kondisi inilah doa, permohonan dan kekhusyuan menjadi kebutuhan yang paling tinggi bagi manusia agar dapat terbang bersama akal dan agama melewati jalur Shu'udi, menanjak menuju Zat yang tidak membutuhkan, menjadi seperti "Allah".

Manusia akan meraih makrifat dan dengan bertumpu padanya melawan segala keburukan dan kejelekan. Dengan makrifat itu manusia memerangi kezaliman. Manusia bangkit menghancurkan setan dalam diri dan di luar dirinya lalu menawan dirinya dalam penjara ilahi.

Benar, bila hanya ada kebutuhan akan air dan makanan dalam diri manusia dan tidak ada petunjuk lain dalam memilih dan memilah antara racun dan air, maka apa yang dikeluhkan tentang manusia dapat dibenarkan. Tapi yang terjadi adalah Allah Swt dengan pintu rahmat-Nya telah menyiapkan hidayah bagi setiap makhluk.

Berkaitan dengan manusia, Allah telah menganugerahinya dengan akal, mengirim nabi dan menurunkan wahyu. Dengan semua ini, pada hakikatnya Allah telah memenuhi kebutuhan manusia dan juga memberi arah terkait kebutuhannya. Sarana yang diberikan kepada manusia ini memberikannya kemampuan untuk memilih dan memilah antara yang baik dan buruk. Di sinilah hamba Allah yang saleh hanya akan melihat kebutuhannya kepada Allah menjadi kelezatan yang paling puncak. Dari pintu inilah mereka mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah.

Oleh karenanya, bila doa, munajat dan memohon tidak pernah ada, maka tidak pernah ada derajat yang bakal diraih manusia. Dengan demikian, doa menjadi alat pengantar terbaik yang mampu menghubungkan antara pencipta dan makhluk. Mereka yang telah mencicipi manisnya munajat melihat doa itu sebagai pengkabulan doa itu sendiri.

Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: irib/irna
Source: www.republika.co.id
sfgate.com
Memperbaiki Rasa Malu
Ilustrasi

Oleh: Muhammad Khoirul Munadi

Manusia memiliki sifat malu yang dapat menggerakkan nalurinya, menilai mana yang benar dan salah. Dengan rasa malu itu, setiap manusia berjalan di atas ketetapan fitrah dari Rabbnya.

Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu tak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu." Beliau juga mengatakan bahwa salah satu dari bagian iman adalah sifat malu.

Jika manusia dibekali malu untuk hidup, lain halnya dengan binatang. Allah memberikan nikmat kepada binatang sesuai dengan kebutuhannya. Hewan hanya memiliki insting dipadu dengan nafsu untuk hidup.

Ia tak butuh malu karena memang Allah tidak memberikan sifat itu. Begitulah Allah telah mengatur hamba-Nya untuk menjalani hidup di alam fana ini.

Malu dapat menjamin kualitas batin manusia. Karena itu, manusia tak pernah terpisahkan dengan sifat malu dan malu selalu berkaitan erat dengan ketebalan iman seseorang terhadap Rabb-nya.

Sebagian besar sahabat Rasulullah SAW menjaga dan mengedepankan rasa malunya di atas kepentingan duniawi mereka. Usman RA, misalnya, dia adalah sahabat yang paling besar sifat malunya hingga Nabi SAW pun sangat menghormatinya.

Di masa hidupnya, Rasul pernah berbaring di pangkuan istrinya, lalu datang Abu Bakar RA sedang bagian tubuhnya terbuka, tetapi nabi membiarkan hingga datang sahabat Umar RA. Akan tetapi, ketika datang Usman RA, Rasulullah dengan serta-merta merapikan pakaiannya agar tak terlihat olehnya.

Ketika ditanya istrinya mengapa berbuat demikian kepada Usman dan tidak kepada Abu Bakar dan Umar, Nabi menjawab bahwa Usman sangat pemalu. Di lain waktu, nabi pun menyanjung keistimewaan Usman di hadapan para sahabat beliau. Usman terhormat karena menjaga malu yang melebihi malunya seorang gadis.

Kekuatan iman seorang Muslim dapat dilihat dari sifat malu dalam dirinya. Seorang Muslim hakiki akan menjaga dirinya dengan benteng malu terhadap Tuhannya bila berbuat dosa.

Ia akan menaati semua perintah-Nya sekuat tenaga. Ia akan sangat menyesal, merasa bersalah dan malu kepada Rabbnya jika meninggalkan satu saja syariat-Nya. Begitulah ciri kehidupan seorang Muslim yang teguh hati menjaga malunya.

Sebagaimana diterangkan Rasulullah SAW, seorang Muslim yang tidak punya rasa malu sama sekali, dipersilakan berbuat sesuka hatinya. Mereka telah terlepas dari tali umat Muhammad yang menghormati kalam Allah dan sabda beliau, mereka akan dikirim ke dalam azab-Nya yang pedih dan menyakitkan, kehinaan mereka peroleh di dunia dan siksaan mereka terima di neraka.

Dunia seakan telah mejadi rumah abadi bagi manusia-manusia rakus dan pengekor hawa nafsu. Mereka tak lagi memikirkan siapa Rabb-nya dan apa saja perintah serta larangannya.

Harta, tahta, dan wanita memang tombak serang setan untuk menyerang manusia. Maka dari itu, mari kita hargai diri dengan menjaga sifat malu sebagai fitrah manusia. Wallahu a'lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Source: www.republika.co.id
oneida.uwex.edu
Manajemen Lebah
Ilustrasi

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

Rasulullah SAW mengumpamakan Muslim itu seperti lebah. "Mukmin itu bagaikan lebah. Jika hinggap pada tanaman berbunga, ia memakan sarinya yang baik, tidak mematahkan maupun merusak yang dihinggapinya." (HR Ahmad, Abu Syaibah, dan Thabrani).

Hadis di atas memberi isyarat kuat bahwa setiap Mukmin harus belajar dari manajemen lebah. Setiap Mukmin harus selalu mencari dan mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalan thayyiban) sekaligus tidak membuat kerusakan lingkungan.

Makanan yang halal dan bergizi adalah sumber energi kehidupan yang penuh keberkahan, mendatangkan manfaat, dan memacu produktivitas. Tidak merusak lingkungan berarti bersikap harmoni pada alam, dan selalu berusaha memakmurkan dan menyejahterakan umat manusia di muka bumi. Merusak lingkungan berarti berakibat buruk bagi dirinya dan orang yang ada disekitarnya.

Menurut mufassir Tantowi Jauhari, manajemen lebah itu sungguh unik dan perlu diteladani. Lebah itu tidak ada yang hidup egois dan individualis. Sarangnya senantiasa bersih dan terlindung. Hidupnya selalu bersatu, bekerjasama secara kompak dan saling melengkapi.

Meskipun dipimpin seekor "lebah ratu", komunitas (koloni) lebah selalu berbagi tugas secara rapi. Ada yang membuat sarang, mencari sari madu, mengumpulkan bahan makanan, pembuat madu, prajurit, peneliti (terutama untuk mencari tempat baru), dan sebagainya. Semua bekerja secara "profesional". Hasil kerjanya dipergunakan untuk kemanfaatan semua pihak lain, terutama manusia.

Manajemen lebah sungguh efektif dan produktif. Satu koloni lebah yang berisi puluhan ribu lebah, mampu menghasilkan dua sampai tiga liter madu dalam satu musim. Bukan hanya madu, lebah juga mampu memberi manfaat lainnya. Sengatan lebah bermanfaat untuk terapi akupuntur.

Dengan demikian, nilai-nilai manajemen lebah yang patut diaktualisasikan dalam kehidupan Mukmin adalah kebersihan (lingkungan maupun makanan yang dikonsumsi), visi dan misi yang terorganisasi secara rapi (menghasilkan produk yang bermanfaat).

Selain itu, lebah juga sangat menjaga kesatuan dan kerja sama, mengikuti jalan Tuhan (ketaatan), mobilitas dan produktivitas tinggi, hidup harmoni dengan alam (tidak merusak, tapi justru membantu penyerbukan bunga pada suatu tanaman), dan selalu berprinsip memberi kemanfaatan (obat dan minuman sehat) bagi orang lain. Perhatikan (QS an-Nahl [16]: 68-69).

Nabi SAW menegaskan ayat di atas dengan menambahkan; “Jika engkau bergaul dengannya, ia memberimu manfaat; jika engkau ajak bermusyawarah, ia pun memberi manfaat; jika engkau ajak berdiskusi, ia mau memberi manfaat. Segala aktivitas (hidupnya) memberi manfaat. Demikianlah, lebah dengan segala aktivitas dan produknya selalu bermanfaat." (HR al-Baihaqi).

Meneladani manajemen lebah itu, mengharuskan setiap Mukmin untuk bersikap, berpikir, berbuat, dan berkarya demi kemanfaatan dan kemaslahatan bagi orang lain. Karena, sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. (HR at-Thabrani).

Jika setiap Mukmin selalu belajar manajemen lebah, niscaya umat dan bangsa ini akan sejahtera, dan terhindar dari perbuatan buruk seperti korupsi. Wallahu a’lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Source: www.republika.co.id
blogspot.com
Memuliakan Anak Yatim
Ilustrasi

Oleh: Syahruddin El-Fikri

Siang itu, di salah satu sudut Kota Madinah, sejumlah anak sedang asyik bermain. Semuanya mengenakan pakaian baru dan sangat gembira. Hari itu bertepatan dengan Idul Fitri. Di belakangnya, seorang anak tampak bersedih.

Seorang lelaki dengan penuh saksama memerhatikan mereka, tak terkecuali anak yang bersedih itu. Lelaki ini pun mendekatinya, kemudian bertanya, “Wahai ananda, mengapa engkau tak bermain seperti teman-temanmu yang lainnya?”

Dengan berurai air mata, ia menjawab, “Wahai tuan, saya sangat sedih. Teman-teman saya gembira memakai pakaian baru, dan saya tak punya siapa-siapa untuk membeli pakaian baru.”

Lelaki ini kembali bertanya, “Kemanakah orang tuamu?” Anak kecil ini menuturkan ayahnya telah syahid karena ikut berperang bersama Rasulullah. Sedangkan ibunya menikah lagi, sedangkan semua harta ayahnya dibawa serta, dan ayah tirinya telah mengusirnya dari rumah.

Lelaki ini pun kemudian memeluk dan membelainya. “Wahai ananda, mau engkau kalau saya menjadi ayahmu, Aisyah sebagai ibumu, dan Fatimah jadi saudarimu?”

Anak kecil itu pun tampak sangat gembira. Lelaki itu lalu membawa anak itu ke rumahnya, dan memberikan pakaian yang layak untuknya.

Beberapa saat kemudian, anak itu kembali menemui teman-temannya. Ia tampak sangat bahagia dengan pakaian yang lebih baru. Menyaksikan hal itu, teman-teman sebaya heran dan bertanya-tanya. “Kemarin aku lapar, haus, dan yatim. Tetapi sekarang aku bahagia, karena Rasulullah SAW menjadi ayahku. Aisyah ibuku, Ali adalah pamanku dan Fatimah saudariku. Bagaimana aku tak bahagia,” ujarnya.

Setelah mendengarkan perubahan itu, giliran teman-temannya yang bersedih. Mereka iri dengan anak itu, karena kini lelaki yang membawanya telah menjadi orang tua asuhnya yang tak lain adalah Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah SAW wafat, anak itu kembali menangis dan bersimpuh di atas pusara Rasul SAW dengan berlinang air mata. “Ya Allah, hari ini aku menjadi yatim yang sebenarnya. Ayahku yang sangat mencintaiku sudah tiada. Apakah aku harus hidup sebatangkara lagi?”

Mendengar hal itu, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq menghampirinya sambil membujuk dan memeluknya. “Akulah yang akan menjadi pengganti ayahmu yang sudah tiada.” (Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA).

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa menyantuni, memelihara, dan mengasuh anak yatim merupakan tanggung jawab kita semua. Kita berkewajiban untuk memberinya makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak, serta pendidikan yang memadai hingga mereka dewasa.

Rasulullah SAW adalah teladan umat manusia. Beliau sangat mengasihi dan menyayangi anak-anak yatim. Dalam salah satu sabdanya, Rasul menjelaskan, bahwa kedudukan orang yang memuliakan, menyantuni dan mengasihi anak yatim, akan mendapatkan surga yang jaraknya bagaikan jari telunjuk dan jari tengah.

Rasul SAW sangat membenci orang-orang yang menelantarkan anak yatim. Dalam Alquran, Allah SWT mengecam orang-orang yang suka menghardik anak yatim, dan enggan memberi makan fakir miskin. Allah menyebut mereka itu sebagai pendusta agama. (QS al-Ma’un [107]: 1-7). Wallahu a’lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Source: www.republika.co.id
4shared.com
Hati yang Pemaaf
Ilustrasi

Oleh: KH Toto Tasmara

Pada saat Perang Uhud, kaum Muslim banyak yang gugur, bahkan wajah Rasulullah terluka tersayat pedang. Darah bercucuran dan satu gigi beliau tanggal terkena tombak musuh.

Pada saat itu, ada sebagian sahabat yang berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah untuk kebinasaan orang-orang musyrik.”

Dengan suara lirih menahan rasa sakit, beliau menjawab, “Tidak, aku bukan tukang laknat. Sesungguhnya aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR Muslim)

Ketika Rasulullah berdakwah di Thaif, beliau disambut dengan lemparan batu. Akibatnya, sekujur tubuhnya bersimbah darah. Beliau berjalan tertatih-tatih menyeret kakinya yang penuh darah dan berlindung di kebun anggur milik Utbah dan Saibah bin Rabi'ah.

Malaikat Jibril merasa iba menyaksikan penderitaan kekasih Allah yang telah dinista. Kemudian Jibril berbisik, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah sudah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan apa yang mereka lakukan terhadap dirimu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung. Agar engkau memerintahkan sesuatu menurut apa yang kau kehendaki.”

Beliau bersabda, “Sungguh, aku berharap bahwa kelak Allah akan mengeluarkan dari mereka anak-anak yang menyembah Allah dan tidak pernah mempersekutukannya.” (HR Bukhari-Muslim)

Betapa berat penderitaan Rasulullah di Thaif. Penderitaan itu terasa sangat menyakitkan, bahkan lebih berat dari yang dialami beliau sewaktu Perang Uhud. Namun, beliau tetap memperlakukan mereka yang telah menganiayanya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Peristiwa lain yang sangat spektakuler adalah ketika Rasulullah bersama kaum Muslim memasuki Kota Makkah dan meraih kemenangan (Fathu Makkah). Kaum Quraisy yang telah menganiaya dan membunuh kaum Muslim, hatinya terasa kecut karena takut akan pembalasan Rasulullah.

Namun, Rasul memahami kegelisahan dan kegundahan mereka. Beliau bersabda, “Aku akan mengucapkan apa yang diucapkan oleh saudaraku Yusuf bahwa pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampunimu.” (QS Yusuf: 92).

Berbagai peristiwa yang dialami Rasulullah bukan saja sebuah keteladanan tentang pemaafan dan kebesaran jiwa yang agung, melainkan sebuah pelajaran bagi kita bahwa menyampaikan kebenaran harus diiringi dengan sikap lemah lembut, penuh kasih sayang, dan menjauhi sikap kasar.

“Maka, disebabkan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka...” (QS Ali Imran [3]: 159).

Karena keagungan akhlak Rasulullah itu pula, beliau mendapat dua gelar dari Asma Allah, yakni Ro'ufur Rahim, yang berarti penyantun dan penyayang. (QS at-Taubah [9]:128 ).

Sifat pemaaf, penyayang, dan bersikap lemah lembut adalah mutiara akhlak setiap pribadi Muslim. Ibaratnya, bila ada rombongan yang membenci dan dendam datang untuk menginap, seorang Muslim itu akan berkata, “Maaf Tuan, kamar hatiku telah penuh dengan tamu-tamu cinta, tidak ada lagi ruangan kosong yang tersedia di kamar hatiku.” Inilah sikap seorang Muslim yang tidak lain hanyalah menghasilkan untaian cinta. Wallahu a'lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Source: www.republika.co.id
coconia.com
Keteladanan sang Pemimpin
Ilustrasi

Oleh: Khairunnas

Ali bin al-Ma'mun al-Abbasi dikenal sebagai seorang gubernur dan putra seorang khalifah.

Ia menjalani hidup mewah di sebuah istana yang besar. Apa pun yang ia inginkan di dunia ini dengan mudah ia peroleh.

Suatu hari, ia melongok ke bawah dari balkon istananya. Ia melihat seseorang yang sedang bekerja keras di ladang. Orang itu terlihat sangat bahagia dengan pekerjaannya. Dia bekerja penuh semangat.

Pada hari-hari berikutnya, Ali terus memerhatikan orang yang bekerja di ladang itu. Dia sangat tertarik melihat orang yang selalu bekerja sejak pagi itu. Dia begitu rajin dan tak pernah mengeluh. Di sela-sela kesibukannya, dia tetap melaksanakan shalat lima waktu.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai diri orang itu, Ali mengundangnya ke istana. Ia mengajukan beberapa pertanyaan, hingga akhirnya Ali mengetahui si pekerja itu mempunyai seorang istri, dua adik perempuan, dan ibu yang semuanya berada di bawah tanggungannya. Untuk membiayai mereka, ia harus bekerja keras.

Mengetahui hal itu, Ali semakin kagum terhadapnya. Ia tak bisa membendung hasratnya untuk mengenal orang itu lebih jauh lagi. "Adakah sesuatu yang bisa membuatmu mengeluh?"

Orang itu menjawab, "Tidak. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

Ali terpesona dengan jawaban ringkas nan padat yang disampaikan orang itu, Ali pun memutuskan untuk meninggalkan istananya dan mundur dari jabatannya sebagai gubernur. Ia mengembara dari satu kota ke kota lain, untuk melihat lebih dekat kehidupan rakyat kecil. Ia menemukan ketenangan batin dan kebahagiaan sejati kala menjadi rakyat jelata.

Selama pengembaraannya, Ali merasakan langsung denyut nadi kehidupan rakyat kecil. Ia bekerja menjadi seorang tukang kayu dan mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah diraihnya saat berada di istana. Hingga ia pun memilih hidup sederhana hingga akhir hayatnya di daerah Khurasan.

Sosok pemimpin seperti Ali, mungkin sudah sulit ditemukan saat ini. Kita tentu tidak menginginkan pemimpin kita pergi dan meninggalkan jabatannya. Kita ingin mereka tetap di posisinya untuk memimpin rakyatnya menuju kehidupan yang lebih baik.

Pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah ini adalah pentingnya seorang pemimpin untuk menengok ke bawah dan melihat dari dekat kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin tidak selayaknya hanya menunggu laporan bawahannya. Ia harus turun ke lapangan untuk memastikan laporan itu sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Dengan turun ke bawah, seorang pemimpin bisa mendengar langsung keluhan rakyat. Sehingga, mudah merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan rakyat, sekaligus menaikkan taraf hidup rakyat yang dipimpinnya.

Ini semua menjadi pelajaran bagi pemimpin untuk selalu memperhatikan kondisi rakyat. Mendengarkan keluh kesahnya dan menentukan langkah yang tepat untuk memberikan solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan.

Sebab, kepemimpinan itu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Rasul SAW bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin."

Redaktur: Chairul Akhmad
Source: www.republika.co.id
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa

Sabda Rasulullah saw :
“aku lebih utama dari setiap orang beriman atas diri mereka sendiri, maka barangsiapa yg wafat dan menanggung hutang dan ia tidak meninggalkan harta untuk melunasinya, maka akulah yg akan menanggung hutangnya, dan barangsiapa yg wafat dan meninggalkan harta, maka untuk ahli warisnya”(Shahih Bukhari)


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Limpahan Puji Kehadirat Allah Maha Raja Langit dan Bumi. Nama Yang Maha Suci dan Maha Abadi. Barangsiapa yang mensucikan Allah maka ia akan suci dan abadi dalam kenikmatan, kesucian, kehidupan yang abadi, kesucian setelah kehidupannya abadi dalam Kasih Sayang Allah yang abadi, Kasih Sayang yang tiada pernah ada akhirnya, Kasih Sayang yang membuka segala anugerah sepanjang waktu dan zaman. Allah yang paling berhak dimuliakan dan diagungkan. Yang dengan mengagungkannya terangkatlah derajat manusia kepada kemuliaan dan keagungan. Dan tiada keagungan yang abadi kecuali mereka yang memuliakan Sang Maha Agung, Dialah (Allah) yang mensucikan (kehidupan),
Maha Suci Dia (Allah). (yang barangsiapa mensucikan Allah maka) Kehidupannya akan tersucikan, (yaitu) mereka yang memuji (Allah) yang paling berhak dipuji, Dialah (Allah) maka kehidupan mereka akan terpuji.

Hadirin – hadirat, dan Allah Swt memuliakan hamba – hambaNya, mereka yang mau kembali kepada Allah setelah bertaubat, mereka yang mau kembali kepada Allah setelah berdosa lalu bertaubat dan setelah bertaubat lalu bertaubat dan ia terus menaiki tangga – tangga keluhuran taubat, dari satu derajat menuju derajat lainnya, dari satu gerbang kesucian taubat menuju gerbang cahaya taubat selanjutnya. Demikian keadaan Sayyidina Muhammad Saw, orang yang tidak pernah berdosa dan ma’shum (terjaga dari dosa). Namun memahami rahasia kemuliaan taubat maka beliau bertaubat 70X setiap harinya bahkan sampai 100X setiap harinya kepada Allah Ya Rahman Ya Rahim. Wahai Yang Maha Mencintai hamba yang bertaubat, jadikan kami hamba yang selalu bertaubat, jadikan kami hamba yang mencintai taubat.

Hadirin – hadirat, Allah berfirman “Alladziina yahmiluunal arsya waman haulahu yusabbihuuna bihamdi rabbihim wa yu’minuuna bihi wayastaghfiruuna lilladziina amanuu Rabbana wasi’ta kulla syai’in rahmatan wa’ilman, faghfir lilladziina taabuu wattaba’uu sabiilaka waqihim adzabaljahiim” Mereka – mereka para malaikat yang menopang arsy-nya Allah Swt, mereka yang mengangkat arsy-nya Allah; QS. Ghafir : 7.

Arsy itu hadirin – hadirat, bumi ini, langit yang pertama penuh dengan triliyunan bahkan jutaan triliyun bintang adalah langit pertama dan langit pertama jika masuk ke langit kedua bagaikan debu ditengah lautan. Sebagaimana langit kedua jika masuk ke langit ketiga, bagaiakan debu di tengah lautan. Demikian lagit keempat, kelima, keenam, ketujuh dan diatasnya adalah Lauhul Mahfudz yang jika 7 lapis langit, bumi dan segala isinya dimasukkan ke lauhul mahfudz bagaikan debu ditengah lautan dan diatasnya adalah Al Kursiy yang jauh lebih besar dari lauhul mahfudz. Dan diatasnya adalah Al Arsy yang jika seluruh Al Kursiy, Lauhul Mahfudz dan 7 lapis langit dimasukkan ke dalam Arsy, bagaikan debu di tengah lautan. Para malaikat yang menopang Arsy Allah, mereka bertasbih mensucikan Nama Allah dan beriman kepada Allah.

“Wayastaghfiruuna lilladziina amanuu” Mereka (para malaikat penopang arsy itu) beristighfar untuk orang – orang bertaubat kepada Allah. “Rabbana wasi’ta kulla syai’in rahmatan wa’ilman faghfir lilladziina taabuu..” Wahai Tuhan kami, (mereka para malaikat itu berdoa) Kau-lah Yang Maha Luas Kasih Sayang-Mu dan Pengetahuan-Mu maka ampunilah orang – orang yang bertaubat. “Wattaba’u sabiilaka..” dan yg mengikuti jalan-Mu yang benar (yaitu jalan Sayyidina Muhammad Saw)..

“Rabbana wa adkhilhum jannaati” Dan berikan kepada mereka surga; QS. Al-Mu’min : 8. “ ‘Adnillatii wa‘adtahum waman shalaha min a-baa-ihim wa azwaajihim wa dzurriyyaatihim” Dan juga berikan pula kepada yang baik dari keluarga mereka, ayahbunda mereka, keturunan mereka, suami atau istri mereka; QS. Al-Mu’min : 8.


Cahaya taubat menggetarkan para penopang Arsy-nya Allah. Jiwa pendosa yang ingin taubat kepada Yang Maha Menerima Taubat. “Innahu yuhibbu tawwabin” Sang Pemilik alam semesta mencintai hamba yang bertaubat. Merugilah jiwa yang lepas dari kemuliaan taubat. Semoga aku dan kalian selalu dalam cahaya taubat, Ya Rahman Ya Rahim. Sedemikian banyak diantara kita yang hadir ini yang masih berat bertaubat kepada Allah, padahal hal itu mengguncang Arsy-nya Allah Swt sehingga para malaikat mendoakannya, mendoakan anaknya, mendakan ayahbundanya, mendoakan kerabatnya, suami atau istrinya dan demikian Allah memuliakan hamba-Nya yang bertaubat.

Dan hadirin – hadirat, pemimpin orang – orang yang bertaubat adalah Sayyidina Muhammad Saw. “Wannajmi idza hawaa” Demi cahaya bintang yang berpijar terang – benderang; QS. An-Najm : 1. “Maa dhalla shahibukum wama ghawaa; wama yanthiqu ‘anil hawaa; in huwa illa wahyun yuuhaa; ‘allamahu syadiidulquwaa; dzuu mirratin fastawaa; wa huwa bil ufuqil a’laa; tsumma danaa fatadallaa; fakanaqaaba qausaini aw ‘adnaa; fa awhaa ilaa ‘abdihi maa awhaa; maa kadzabal fuadu maa ra-aa” QS. An-Najm : 2-11.

Najm didalam bahasa arab ada 2 makna, yaitu Najm dan Kawkab. Kawkab adalah bintang yang tidak bercahaya tapi mendapat cahaya dari bintang lain yaitu diantaranya bulan. Kalau Najm adalah bintang yang mempunyai cahaya sendiri dan berpijar. Inilah makna Najm. Sebagian para ulama menafsirkan makna Najm ini adalah Sayyidina Muhammad Saw. “Idza hawaa” ketika sedang berpijar indah. Dan “hawaa” itu sendiri juga mempunyai makna yang jelas. Hawaa itu adalah ketika hati sedang bergetar dan gemuruh dengan cinta dan rindu.

“Wannajmi idza hawaa” Demi jiwa yang berpijar dengan cahaya Allah; QS. An’Najm : 1. Gemuruh dan cinta kepada Allah. “Maa dhalla shahibukum wama ghawaa” teman kalian (Sayyidina Muhammad Saw) itu bukan orang yang tertipu dan bukan pula orang yang penipu; QS. An-Najm : 2. “Wama yanthiqu ‘anilhawaa; in huwa illa wahyun yuuhaa” Sang Nabi tidak bicara dari keinginannya (hawa nafsunya) tapi setiap ucapannya adalah kalimat Allah Swt; QS. An-Najm : 3-4. Ucapan beliau saw adalah wahyu Illahi. “‘allamahu syadiidulquwaa” Jibril as yang menyampaikan wahyu dan mengajarinya; QS. An-Najm : 5. “Dzumirratin fastawaa” yang memiliki kekuatan dan kewibawaan; QS. An-Najm : 6. “Wa huwabil ufuqil a’laa” dan ketika Sang Nabi saw itu berada di cahaya ufuk yang maha tinggi; QS. An-Najm : 7. Sebagian para mufassir menerangkan maksud dari “ufuqil a’laa” adalah cahaya Rabbul Alamin ketika Sang Nabi saw menghadap-Nya di malam Isra wal Mi’raj di bulan Rajab mubarrak ini. Dan disaat itu “tsumma danaa fatadallaa” Sang Nabi saw semakin dekat; QS. An-Najm : 8. Diperintahkan untuk semakin dekat kehadirat Allah.

“Fakaana qaaba qausaini aw ‘adnaa” sangat dekat sekali dengan Rabbul Alamin; QS. An-Najm : 9. “Fa awhaa ilaa ‘abdihi maa awhaa” maka diwahyukan kepada Sang Nabi apa – apa yang diwahyukan dari Allah langsung tanpa perantara Jibril as, langsung kepada Nabi Muhammad Saw; QS. An-Najm : 10 . Nabi saw berhadapan langsung dengan Allah. “Maa kadzabal fuadu maa ra-aa” sanubari Sang Nabi tidak dusta atas apa yang dilihatnya; QS. An-Najm : 11. Beliau saw telah melihat Rabbul Alamin, Allah mengucapkan Sang Nabi dengan kalimat “Al Fuad” sang sanubari. Maksud dan isyarat betapa dicintainya Nabi Muhammad Saw oleh Allah sehingga Allah mengatakan “maa kadzabal fuadu maa ra-aa” sanubari itu tidak berdusta atas apa yang dilihatnya. Karena apa? Karena manusia sering bicara tapi hatinya berdusta. Lidahnya menyampaikan kalimat dusta. Namun Sang Nabi saw ini ucapannya adalah kalimat Allah dan sanubarinya tidak dusta atas apa yang dilihatnya. “Afatumaaruunahu a’laa maa yaraa” apakah kalian masih mendustakan dan masih tidak percaya atas apa yang dilihat Nabi Muhammad Saw? QS. An-Najm : 12.

Hadirin – hadirat, masih muncul hingga saat ini orang yang menyangkal bahwa Sang Nabi saw berjumpa dengan Allah di malam Isra wal Mi’raj. Hadirin, ucapan ini telah dijawab oleh Allah “Afatumaaruunahu a’laa maa yaraa?” apakah ada diantara kalian yang masih meragukan apa yang dilihat Sang Nabi saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Sampailah kita kepada hadits mulia yang jika mereka merenungkannya, ia akan lebur dengan cinta kepada Sang Nabi saw. Hadits ini menerangkan betapa cintanya Sang Nabi saw kepadaku dan kepada kalian. “Ana awla bil mu’miniina min anfusihim” Aku lebih utama, lebih patut didahulukan oleh orang – orang mukmin dari diri mereka sendiri. Inilah bentuk kemuliaan Allah Swt kepada Sang Nabi saw untuk setiap pribadi muslimin – muslimat. Betapa dekat dan eratnya dan tidak bisa terputusnya Sang Nabi saw dengan umatnya karena beliau “awla bil mu’miniina min anfusihim”.

Lalu apa Sang Nabi saw memberikan kepada kita? “Faman mata wa alaihi dainun, walam yatruk wafa’an fa’alaina qadhauhu” jika ada diantara kalian (di masa itu) yang wafat dan tidak punya harta untuk membayar hutang – hutangnya, maka aku yang membayar hutangnya. Sang penebus hutang umatnya, ialah Sayyidina Muhammad Saw. “Waman taraka malan faliwa rasytihi” kalau masih meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya. Jadi pada hakikatnya yang lebih berhak kepada ahli waris itu adalah Nabi Muhammad Saw. Karena beliau saw lebih berhak daripada keluarganya tapi Sang Nabi saw mengatakan kalau ada hutang, baru aku yang ambil. Kalau ada hartanya ambil oleh keluarganya tapi kalau ada hutangnya, aku (Nabi Saw) yang akan membayarnya. Inilah sang penebus umatnya di dunia dan di akhirat. Sehingga di yaumal qiyamah, beliau saw juga yang berusaha menebus dosa umatnya dengan bersujud untuk pengampunan demi seluruh pendosa diantara aku dan kalian. Inilah Sayyidina Nabi Muhammad Saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Hadits ini merupakan penjelasan dari firman Allah “Annabiyyu awla bil mu’minina min anfusihim”QS. Al Ahzab : 6. Bahwa Nabi Saw itu lebih mulia dan lebih patut didahulukan dari orang yang beriman atas diri mereka sendiri. Paling pantas dicintai lebih dari diri kita yaitu Sayyidina Muhammad Saw. Karena apa? Karena beliaulah manusia yang paling mencintai kita. Kalau selain Sang Nabi saw, tidak ada yang lebih mencintai kita kecuali Allah. Sang Nabi saw manusia yang paling cinta kepada kita karena disaat semua yang cinta pada kita lupa pada kita, beliau saw tidak lupa kepada kita. Saat semua orang menghindar, para Nabi dan Rasul menghindar, beliau saw tidak menghindar bahkan mencari kita dimanapun umatnya berada. Di jembatan ashshirat, keberatan dosa didalam timbangan amal atau sudah jatuh ke dasar neraka?

Beliau saw tetap tidak ingin senang sebelum umatnya terangkat dan terbebas dari neraka. Inilah idola, inilah Sayyidina Nabi Muhammad Saw yang sudah dijelaskan oleh Allah bahwa beliau saw lebih patut didahulukan daripada diri kita sendiri. Kenapa? Karena beliau saw mendahulukan kita daripada diri beliau sendiri. Beliau saw mendahulukan umatnya daripada diri beliau sendiri. Sampai musuh – musuhnya pun masih didoakan, masih menginginkan hidayah-Nya. Beliau saw memerangi musuh – musuh yang memeranginya tentunya. Jika membahayakan muslimin, beliau memerangi dengan senjatanya. Namun besarnya keinginan Sang Nabi saw agar musuh- musuhnya itu kembali ke dalam hidayah. Mereka yang sudah diperangi tentunya sudah jelas diperangi untuk membela dirinya dan tidak membiarkan dirinya mereka bunuh begitu saja.

Akan tetapi beruntung mereka yang berada di jalan Sayyidina Muhammad Saw. Mereka bersabar dan ketika mereka melawan musuhnya, jika mereka menang maka mendapatkan ghanimah (hasil rampasan perang) dan jika mereka kalah maka mereka sebagai syuhada (orang yang wafat dijalan Allah). Tidak ada kerugian sebagai para pembela Muhammad Rasulullah Saw. Menang mendapat pahala dan ghanimah, kalah maka syahid. Kalau tidak wafat maka ia mendapatkan pahala besar dihadapan Allah Swt sebagai fisabilillah. Tidak ada ruginya mengikuti Muhammad Rasulullah Saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Di bulan yang agung ini kita bermunajat kepada Allah Swt dan saya juga ingin menyampaikan bahwa hari Rabu atau mungkin esok hari, Insya Allah Rabu sore saya pamit untuk menuju ke Madinah Al Munawwarah diberi amanat oleh Guru Mulia kita untuk berdoa di Raudhatul Nabawiy untuk kemaslahatan bangsa ini. Namun belum jelas, barangkali Rabu sore. Dan saya baru akan pulang hari Sabtu petang atau Ahad. Demikian hadirin yang dimuliakan Allah, semoga Allah Swt memberikan ijabah kepada doa dan harapan kita.

Dan keberangkatan saya menuju Madinah Al Munawwarah tidak lain mendoakan agar bangsa ini mendapatkan kedamaian dengan munculnya pemimpin yang baru di negeri muslimin terbesar di muka bumi ini. Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Keberkahan. Kita malam hari ini berdoa kepada Allah demi kemuliaan Isra wal Mi’raj Sayyidina Muhammad Saw. Dan demi cinta Allah Swt kepada muslimin – muslimat dan demi cinta Sang Nabi Saw kepada umat beliau saw. Dan kita memanggil Nama Allah Swt, berdzikir bersama, masukkan seluruh hajat dan doa – doamu dan kita berdoa agar Allah memperkuat bentang dakwah Sayyidina Muhammad Saw di bumi Jakarta ini, diwilayah Poso, diwilayah Bintuni, di wilayah Denpasar dan di seluruh wilayah muslimin. Ya Rahman Ya Rahim perkuatlah dan tolonglah seluruh para Da’i illaAllah yang membangkitkan dakwah Nabi kita Nabi Muhammad Saw.

Ya Rahman Ya Rahim percepatlah datangnya janji Nabi-Mu Muhammad Saw bahwa setelah beliau wafat akan muncul perpecahan, akan muncul gempa bumi, akan muncul sedemikian banyak pembunuhan dan setelah itu akan muncul banyaknya yang mengaku Nabi dan setelah itu akan muncul kemakmuran. Rabbiy pembunuhan dan saling bunuh banyak terjadi di negeri muslimin terbesar di muka bumi dan demikian juga paling banyak terjadi perpecahan dari golongan – golongan muslimin yang terjadi di Indonesia. Negeri muslimin terbesar di muka bumi. Demikian pula gempa bumi terbesar yaitu tsunami yang kini paling banyak terjadi di Indonesia paling banyak memakan korban. Dan demikian pula yang mengaku Nabi, paling banyak terjadi di negeri muslimin terbesar di muka bumi. Maka setelah itu akan muncul kemakmuran. Maka pastikan kemakmuran terbesar di bangsa muslimin terbesar di muka bumi ini, percepat kemakmuran. Kami telah melihat goncangan gempa bumi, perpecahan, pembunuhan, pengakuan Nabi dan itu semua telah lewat dan gantikan dengan munculnya kemakmuran. Ya Rahman Ya Rahim jadikan pemimpin yang akan muncul ini membawa kemakmuran muslimin – muslimat dan juga di negeri muslimin terbesar ini. Ya Dzaljali Wal Ikram Ya Dzaththauli Wal In’am.

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman Ya Rahim

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah


Hadirin – hadirat, dengan ini kita akhiri majelis kita dengan doa bersama. Dan juga semoga Allah Swt menyingkirkan kita dari segala fitnah, menjaga kita dari segala apa yang akan menghancurkan dakwah Nabi Muhammad Saw. Apakah berupa terror atau berupa selebaran atau berupa apapun yang bersifat ingin memecah belah dan menghancurkan dakwah kita. Semoga Allah hancurkan dan singkirkan mereka, beri mereka hidayah agar mereka kembali kepada keluhuran. Kita berdoa bersama memohon, kita semua malam ini berdoa dengan sungguh – sungguh mendoakan seluruh muslimin- muslimat sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw “barangsiapa yang mendoakan saudara muslimnya dengan 1 doa, maka malaikat berkata “amin walaka mitsluh” amin untukmu sebagaimana doamu untuk saudaramu. Kita mendoakan pertolongan untuk seluruh muslimin, semoga Allah menolong mereka. Berapa jumlah seluruh muslimin di muka bumi, kembali keberkahannya kepada kita. Dan juga kita berdoa kepada Allah agar Allah Swt memberikan pemimpin yang terbaik bagi bangsa muslimin terbesar di muka bumi, pemimpin yang membawa kedamaian, pemimpin yang membawa ketenangan, pemimpin yang membawa kemakmuran, menindas kedhaliman, dan menolong yang lemah.

Ya Rahman Ya Rahim inilah doa kami, hantarkan keberangkatan saya pergi ke Madinah Al Munawwarah dengan doa kita bersama dengan doa Ya Arhamarrahimin Farij a’lal Muslimin.

Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Source: www.majelisrasulullah.org
Dari Anas bin Malik Ra: Sungguh ketika Rasulullah SAW mencukur rambutnya (di perjanjian Hudaibiyah) bahwa Abu Thalhah (Ra) yang pertama kali mengambil rambut beliau SAW” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Luhur, Yang Maha Berhak atas segala pujian antara satu makhluk dan yang lainnya, Dialah Allah subhanahu wata’ala Sang Pencipta Yang paling berhak untuk dipuji. Dimana dengan memujiNya akan terangkatlah iman seseorang setinggi-tinggi derajat, karena Allah subhanahu wata’ala mengetahui bahwa pujian yang timbul dari manusia menunjukkan kecintaan kepada yang dipuji. Maka ketika seseorang memuji Allah subhanahu wata’ala, hal tersebut menunjukkan bahwa ia mencinta Allah, meskipun kadar kecintaannya kepada Allah sebutir debu kecil di dalam hatinya, namun ketahuilah bahwa cinta tersebut tidak akan ada di dalam sanubari seseorang kecuali dari keinginan dan kehendak Allah subhanahu wata’ala. Dialah Yang telah meletakkan di dalam sanubari kita agar kita kembangkan dan tumbuhkan hingga cahaya cinta kepada Allah semakin berpijar dan terang benderang di dalam setiap sanubari kita, yang dapat menjadikan semua anggota tubuh kita jauh dari perbuatan dosa dan mendekat kepada hal-hal yang dicintai Allah subhanahu wata’ala. Dan kita semua yang hadir di majelis ini telah mempunyai butiran-butiran cinta dari tetesan rahmat Ilahi yang diturunkan di majelis-majelis ta’lim, karena Allah subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang hadir pada majelis-majelis dzikir seperti malam ini, dan sungguh Allah subhanahu wata’ala tiada akan menolak cinta hamba-hambaNya . Dialah Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Dekat, Maha Lembut dan berkasih sayang, Yang menyambut dan menerima hamba-hambaNya serta tidak mengecewakan mereka, sehingga di malam ini Allah telah mengumpulkan kita sebagai tamu-tamuNya dalam istana keridhaanNya untuk dilimpahi rahmat dan kelembutanNya. Maka janganlah seorang hamba bersangka dengan buruk kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana berprasangka buruk terhadap manusia merupakan hal yang sangat hina dan tercela, maka terlebih lagi berprasangka buruk terhadap Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana kita ketahui bahwa prasangka baik terhadap manusia merupakan hal yang luhur, maka terlebih lagi jika prasangka baik kepada Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Tunggal mencipta seluruh makhluk, Maha Sempurna dan Abadi dalam cahaya keluhuran, Yang Maha Mampu mencurahkan cahaya kebahagiaan dalam sanubari sehingga menjadi tenang, Yang senantiasa menerima dan member seluruh hajat hamba-hambaNya , dan betapa banyak hajat yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya dan belum mereka minta kepadaNya.

Allah subhanahu wata’ala menciptakan alam semesta dengan sempurna. Di zaman ini para Ilmuwan menemukan dalam penelitian mereka, sehingga menyingkap kebenaran dan keluhuran sebuah ayat dalam Al qur’an Al Karim. Para Ilmuwan berkata bahwa lempengan atau lapisan-lapisan bumi yang berada di atas bumi bergerak seperti gelombang-gelombang di lautan, namun kita semua mengetahui bahwa manusia dan makhluk hidup yang lainnya menempati permukaan bumi dan tidak merasakan guncangan dari gerakan lempengan-lempengan tersebut, karena ada gunung-gunung sebagaimana para Ilmuwan mengatkan bahwa kedalaman sebuah gunung sama dengan ketinggian gunung tersebut, yang mana gunung-gunung tersebut bagaikan paku atau pasak yang tertancap kuat dan kokoh yang berfungsi untuk menjaga bumi dari goncangan dan getaran, meskipun terkadang bumi berguncang, namun hal tersebut sangat kecil dibandingkan getaran gelombang-gelombang di lautan. Dan hal tersebut telah Allah kabarkan pada 14 abad yang silam, dengan firmanNya
“Dan gunung-gunung sebagai pasak”. (QS. An Naba’ : 7)
Sunggguh semakin seseorang belajar dan bertafakkur akan alam semesta maka akan semakin berpijar cahaya iman di dalam jiwanya, semakin ia menemukan dan memahami lebih dalam akan keagungan Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita untuk semakin memahami keagungan-keagunganNya.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Sebuah riwayat dari sayyidina Anas bin Malik yang telah kita baca, dimana beliau mengatakan bahwa sayyidina Abu Thalhah Al Anshari adalah orang yang pertama kali mengambil helaian rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mencukur rambut. Hal ini menunjukkan besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga rambut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diperebutkan oleh mereka. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fath Al Bari syarh Shahih Al Bukhari mengatakan bahwa sayyidina Abu Thalhah Al Anshari telah menunggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggunting rambut beliau dalam Haji Wada’ dan kemudian mengambil rambut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi pada peristiwa yang terjadi 4 tahun sebelumnya yaitu Perjanjian Hudaibiyyah, yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H, dan di saat itu para sahabat dalam suasana kebingungan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujui perjanjian terhadap kuffar quraisy, yang mana perjanjian tersebut bagi mereka sangat merugikan kaum muslimin, sehingga di saat itu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah para sahabat untuk mencukur rambut (Tahallul), mereka semua hanya diam dan tidak melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena dalam suasana kebingungan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke kemah dan berkata kepada istri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa para sahabat tidak mentaati perintah beliau untuk mencukur rambut, lalu istri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Wahai Rasulullah, engkau lakukanlah hal itu maka pastilah mereka akan mengikutimu”, sehingga ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencukur rambut maka Abu Thalhah segera mengambil helaian rambut dari tangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian para sahabat pun juga mencukur rambut mereka. Sayyidina Abu Talhah Al Anshari yang mengambil rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah seorang yang sangat mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau adalah orang yang memiliki harta yang sangat berharga di Madinah Al Munawwarah, yaitu sebuah kebun yang sangat luas dan mewah yang disebut dengan Bairuha. Kemudian ia memberikan kebun tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerimanya dengan gembira, namun demikian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ingin memberi teguran kepada Abu Thalhah karena ia kurang memperhatikan keluarga dan kerabatnya yang miskin, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Wahai Abu Thalhah, betulkah dengan rela dan ikhlas engkau akan menghadiahkan kebun Bairuha ini kepadaku ?”, Abu Thalhah menjawab : “Iya betul wahai Rasulullah”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam berkata : “Maukah engkau membantuku untuk membagikan tanah tersebut kepada yang berhak?” , kemudian Abu Thalhah menyanggupi hal tersebut, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjual kebun tersebut. Lalu uang tersebut diserahkan kepada Abu Thalhah untuk diberikan kepada saudara dan kerabatnya yang miskin, mendenagar hal tersebut Abu Thalhah menangis dan berkata : “Wahai Rasulullah, engkau lebih memperhatikan kerabat dan saudara-saudaraku daripada aku yang kerabat mereka”, demikianlah budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan lambang kelembutan dan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala. Disebutkan bahwa dalam salah satu peperangan Abu Thalhah menjatuhkan lututnya dan berkata :
“Wajahku adalah benteng bagi wajahmu, dan jiwaku adalah penebus untuk jiwamu (dari segala serangan musuh)”
Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa Abu Thalhah memiliki kekuatan dari Allah subhanahu wata’ala bagaikan kekuatan 1000 orang, karena besarnya kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sepatutnya kita teladani.

Kita memohon dan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, dan memanggil namaNya, semoga Allah subhanahu wata’ala mengangkat derajat kita kepada keluhuran. Diriwayatkan bahwa seorang wanita tua memasak dengan menggunakan kayu bakar, dan ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati wanita tersebut, lantas wanita itu memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “ Wahai Rasulullah !”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Labbaik wasa’daik (Aku datang)”, lalu wanita tersebut berkata : “Wahai Rasulullah, apakah Allah subhanahu wata’ala akan melemparkan seseorang yang mengucapkan “Laa ilaaha Illallah” ke dalam api neraka, seperti kayu yang dilemparkan ke tempat pembakaran ini?”, mendengar hal tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalirkan air mata dan berkata :
“Sesungguhnya Allah mengharamkan apin neraka terhadap orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah karena mengharapkan ridha Allah.”
Demikian rahasia kelembutan dan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala. Dan Allah tidak akan menolak cinta siapapun dari hamba-hambaNya, maka limpahkanlah cinta kita kepada Yang paling berhak untuk dicintai dan tidak akan pernah berkhianat seperti makhluk, yang mana segala kejadian berada dalam kehendakNya, maka panggil dan ingatlah selalu nama Yang Maha Luhur, dimana satu kali menyebut namaNya maka hal itu lebih mulia dari alam semesta, dan telah berfirman di dalam hadits qudsi :
“ Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku dan bergetar bibirnya (menyebut nama-Ku)”
Ketika seseorang meningat dan menyebut nama Allah, maka kebersamaan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang menyertainya akan mencabut kesulitan-kesulitan di masa mendatang dalam kehidupannya di dunia dan akhirat, dan membukakan untuknya segala pintu kemudahan dalam kehidupan di dunia dan akhirat dan menjadikannya senantiasa semakin mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala, menjadikannya semakin cinta dan senang untuk menyebut namaNya dan mengingatNya, dan menjadikannya tenang dalam beribadah kepadaNya tanpa terganggu oleh kebutuhan dan permasalahan dunia. Maka bukalah segala pintu-pintu kedermawananMu untuk kami Ya Allah…
Source: www.majelisrasulullah.org
Inilah Doa Pembersih Dosa
Menyambut pagi dengan sholat malam

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu

Sahabatku tercinta ada hal sederhana yang mudah kita lakukan setiap selesai shalat. Hanya butuh waktu lima menit kurang lebih tetapi menjadi "mimsakhohthul dzunuubi" pembersih dosa-dosa kita, kecuali dosa besar wajib disertai tobat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Siapa yang membaca subhanallah setiap selesai shalat 33 kali, membaca Alhamdulillah 33 kali, dan membaca Allahu Akbar 33 kali sehingga jumlah 99 Kali, kemudian ia menggenapkannya 100 kali dengan membaca La Ilaaha Illalaah Wahdahu la Syariika Lahu Lahul Mulku wa Lahulhamdu Yuhyi wa Yumiitu wa Huwa Alaa Kulli Syain Qodiir. Maka segala kesalahannya akan diampuni meskipun "mitsla jabadil bahri" seperti buih di lautan banyaknya". (HR Muslim).

Subhanallah betapa besar rahmat cinta kasih sayang dan magfiroh ampunan Allah untuk kita semua, padahal baru sekali baca saat selesai sholat, bayangkan kalau dibaca setiap selesai sholat, sebelum tidur, saat dijalan dan setiap kesempatan alangkah bersih terangnya hati-hati mukmin itu.

Karena itu sahabatku berjanjilah setiap selesai shalat tidak beranjak sebelum membacanya. Insya Allah... Aamiin.

Redaktur: Slamet Riyanto
Source: www.republika.co.id
Kisah Sang Penjaga Rahasia
Pemakaman di dekat Masjid Nabawi, Madinah

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Prof Yunahar Ilyas

Namanya Hudzaifah bin al-Yaman, terkenal dengan julukan Shahibu Sirri Rasulillah (penjaga rahasia yang dipercaya oleh Rasulullah). Orangnya sangat disiplin dan teguh memegang rahasia. Siapa pun tidak akan bisa membujuk atau memaksanya untuk membuka rahasia.

Salah satu problem besar yang dihadapi oleh umat Islam di Madinah adalah keberadaan kaum munafiqin, yang secara sengaja menyebarkan isu-isu yang tidak benar terhadap Nabi dan kaum Muslimin. Mereka suka membuat intrik-intrik dan tipu muslihat yang menyulitkan kaum Muslimin.

Rasulullah SAW tahu siapa saja mereka dan siapa tokoh-tokohnya, tetapi beliau tidak bisa mengumumkannya karena sehari-hari mereka menampilkan diri sebaimana orang-orang beriman lainnya, bahkan juga datang shalat berjamaah di masjid bersama Nabi-kecuali shalat Subuh dan Isya yang berat bagi mereka melakukannya.

Nabi memberikan daftar nama-nama kaum munafiqin kepada Hudzaifah dan memintanya untuk merahasiakannya kepada siapa pun. Hudzaifah juga ditugasi mengawasi gerak-gerik dan kegiatan mereka untuk mencegah bahaya yang mungkin akan mereka timpakan kepada kaum Muslimin. Rahasia itu dipegang sangat erat oleh Hudzaifah sampai Rasulullah SAW wafat.

Tatkala menjabat khalifah, Umar bin Khathab pernah bertanya kepada Hudzaifah apakah ada pegawainya yang munafik. Hudzaifah menjawab, ada satu orang, tapi dia tidak mau menyebutkan namanya. "Maaf wahai Amirul Mukminin, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."

Hudzaifah bukanlah berasal dari Yaman walaupun bapaknya bernama al-Yaman. Bapaknya orang Makkah, dari Bani 'Abbas. Oleh karena suatu utang darah dari kaumnya, al-Yaman terpaksa menyingkir ke Yatsrib-yang kemudian bernama Madinah. Di Yatsrib, al-Yaman berlindung dan bersumpah setia pada Bani 'Abd Asyhal, sampai kemudian menikah dengan perempuan dari suku tersebut. Dari perkawinan itulah lahir Hudzaifah. Walaupun sering bolak-balik ke Makkah, al-Yaman lebih banyak menetap di Madinah.

Dengan latar belakang orang tua seperti itu, tatkala pertama kali bertemu dengan Nabi di Makkah-sebelum beliau hijrah-Hudzaifah menanyakan apakah dia termasuk Muhajirin atau Anshar. Nabi menjawab: "Jika engkau ingin digolongkan kepada Muhajirin, engkau memang Muhajir. Dan, jika ingin digologkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai." Sekalipun kedua-duanya disayangi oleh Rasulullah, ternyata Hudzaifah memilih digolongkan kepada Anshar.

Kedua orang tua Hudzaifah sudah masuk Islam sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Dan, Hudzaifah pun sudah masuk Islam sebelum bertemu dengan Nabi. Setelah Nabi hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau, turut bersama Nabi dalam seluruh peperangan kecuali Perang Badar. Dalam Perang Khandaq, Hudzaifah mendapatkan tugas yang sangat berat dari Nabi. Tugas yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang cerdas, tangggap, dan berdisiplin tinggi.

Pada malam gelap gulita, Hudzaifah ditugaskan oleh Nabi masuk ke jantung pertahanan musuh, mengintai gerak-gerik mereka. "Hai Hudzaifah," kata Nabi. "Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali melapor kepadaku."

Hudzaifah sukses menjalankan tugas itu. Dia bahkan bisa berada sangat dekan dengan Abu Sufyan, panglima perang musuh. Kata Hudzaifah: "Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku." Demikianlah sekelumit tentang Hudzaifah bin al-Yaman RA, sang penjaga rahasia.

Redaktur: Heri Ruslan
Source: www.republika.co.id
sacred-destinations
Inilah Tempat Turunnya Nabi Isa AS
Masjid Umayyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syahruddin El-Fikri

Nabi Isa Alaihissalam (AS) adalah salah seorang dari lima nabi dan rasul yang diberi gelar 'Ulul Azmi, yakni memiliki sejumlah keistimewaan. Kelima nabi dan rasul yang mendapat gelar itu adalah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW.

Sejak dilahirkan, Isa sudah memiliki keistimewaan (mukjizat), yakni bisa berbicara sejak dalam buaian (QS Ali Imran [3]:46, Almaidah [5]:110, Maryam [19]:29-33), menghidupkan orang mati dengan izin Allah, menciptakan burung dari tanah, menyembuhkan orang buta, sakit sopak (kusta) (lihat QS Ali Imran [3]:49), dan menyuguhkan hidangan dari langit (Almaidah [4]:114). Selain itu, Allah SWT juga memberikan padanya sebuah kitab suci, yakni Injil (QS Almaidah [5]:46).

Saat muncul rencana jahat dari kaum Bani Israil (Yahudi) yang bermaksud membunuhnya, Allah SWT kemudian menyelamatkannya dengan mengangkatnya ke langit. Orang yang dibunuh oleh Yahudi itu adalah orang yang diserupakan dengan Isa. Yang dibunuh tersebut adalah pengikut Isa yang telah berkhianat, yakni Yudas Iskariot.

''Dan, karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya, kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.'' (Annisaa' [5]: 157).

Isa diselamatkan oleh Allah dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan di suatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. Alquran menjelaskan peristiwa penyelamatan ini.

''Tetapi, (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan, adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Annisaa' [5]:158). (bersambung)

Redaktur: Heri Ruslan
Source: www.republika.co.id
Antara
Inilah Tujuh Ciri Kedatangan Nabi Isa
Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, Nabi Isa AS -- yang oleh orang Nasrani disebut Yesus -- menjadi bahan kontroversi antara Islam, Nasrani, dan Yahudi. Orang Yahudi mempercayai bahwa mereka telah membunuh Isa, dan orang-orang Nasrani meyakini bahwa Isa telah disalib dan dikubur.

Namun, kaum Muslimin meyakini dengan jelas dan tegas bahwa Nabi Isa tidak disalib atau dibunuh, melainkan 'diangkat' oleh Allah SWT. Nabi Isa akan kembali ke dunia, di suatu masa, di akhir zaman.

''Ada 33 hadis shahih yang menegaskan bahwa Nabi Isa akan kembali turun ke bumi. Bahkan, ada yang mengatakan sampai 90 hadis,'' tutur Dr Muslih A Karim, dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, pada sebuah kesempatan.

Dia lalu menyebutkan, ada tujuh ciri kedatangan kembali Nabi Isa:

  • Pertama, Nabi Isa akan turun di Menara Putih, yakni Masjid Bani Umayyah di Damaskus Timur.
  • Kedua, Isa akan membunuh Dajjal (gembong penjahat yang mengaku sebagai penyelamat) di Dataran Tinggi Golan (Syria).
  • Ketiga, Isa akan bertemu Ya'juz dan Ma'juz, dan semua tokoh jahat dan pengikutnya itu akan tewas.
  • Keempat, Isa akan mendakwahkan agama Tauhid seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad maupun nabi-nabi lain sebelumnya.
  • Kelima, Isa akan melakukan haji dan umrah.
  • Keenam, Isa datang, dunia penuh keberkahan. Misalnya, sebutir buah delima bisa membuat 40 orang kenyang.
  • Ketujuh, setelah Isa datang, selama tujuh tahun kondisi dunia sangat aman.

''Intinya, Nabi Isa sekarang ini belum meninggal. Dia akan turun lagi di akhir zaman untuk menegakkan Islam,'' ungkap Muslih.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: irwan kelana
Source: www.republika.co.id
.churchyearinthehome.blogspot.com
Barnabas dan Kedatangan Nabi Muhammad
Barnabas

REPUBLIKA.CO.ID,ANKARA --

Deden Mauli Darajat (Kontributor Rol di Ankara, Turki)

Perdebatan tentang kitab yang disimpan di museum etnogari Turki memang belum selesai. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki masih meneliti dan menerjemahkan isi kitab tersebut di Laboratorium Pusat Bahasa Turki untuk memeriksa keaslian Injil Barnabas itu. Siapakah Barnabas itu?

Barnabas lahir di Siprus sebagai Yusuf. Barnabas adalah termasuk orang yang pertama menganut keyakinan yang dibawa oleh Yesus atau Nabi Isa yang kemudian dinamai rasul. Kisahnya muncul dalam Kisah Para Rasul. Paulus menyebutnya dalam beberapa suratnya.

Namun, tradisi Kristen menyatakan ia menjadi martir di Salamis, Siprus. Dia secara tradisional diidentifikasi sebagai pendiri Gereja Siprus, dengan hari pestanya pada 11 Juni.

Dalam tradisi itu, Yesus menyangkal menjadi Mesias (juru penyelamat) dan mengklaim bahwa ia akan menjadi Ismael, istilah yang digunakan untuk orang Arab. Alkitab ditulis oleh Barnabas sehingga sebagian besar waktunya dicurahkan untuk menulis pesan Yesus.

Sebelum ditemukan kitab di Turki, memang ada dua Injil Barnabas sebagai manuskrip kitab yang dibuat pada abad ke-16 dalam bahasa Italia dan Spanyol. Umat Kristen memang tidak mengakui Injil Barnabas karena Barnabas dianggap tak pernah menulis kitab apa pun.

Secara umum sangat tidak selaras dengan laporan yang juga ditemukan dalam Injil-Injil karena Injil Barnabas bukanlah manuskrip yang ditulis para rasul Yesus seperti Injil Kanonik. Dalam batas tertentu, kitab ini mengikuti penafsiran Islam tentang asal-usul Kristen.

Komunitas Kristen Suriah mengklaim kepemilikan Injil kuno yang ditemukan otoritas Turki pada 2000 lalu itu. Komunitas itu telah mengirim surat resmi kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Er tugrul Gunay, untuk mengembalikan kitab suci itu kepada mereka.

Kepala Budaya Komunitas Kristen Suriah, Sabo Hanna, mengatakan Alkitab bersejarah memiliki makna material yang besar bagi Kristiani. “Jika Turki tidak menyerahkannya, kami meminta Turki membuka akses bersama dengan membangun museum di Distrik Midyat, Suriah,” kata Sabo kepada Hurriyet Daily News.

Komunitas Kristen Suriah ini adalah penganut Kristen ortodok di wilayah Arab. Mereka tersebar dari Lebanon, Suriah, hingga perbatasan Turki. Penganut Kristen ini telah menggunakan bahasa Aramik sejak awal berdirinya gereja mereka. “Banyak biara pada awal Kristen di wilayah Suriah di tenggara Turki telah dijarah oleh Turabidin. Karena itu, kami minta agar Injil kuno itu dikembalikan,” ujar Sabo Hanna.

Kelompok Kristen Suriah ini telah menyebar hingga Eropa. Kurang lebih delapan perwakilan komunitas ini ada di Eropa. Mereka juga menyebar di Asia Kecil dengan kitab teks Yunani dan bahasa Aram. Namun, belum dilakukan penelitian secara mendalam apakah Injil ini benar memiliki keterkaitan dengan Kristen Suriah. Secara geografis, letak negara Siprus tempat kelahiran Barnabas berada di Selatan Turki yang dipisahkan Laut Mediterania.

Sedangkan Suriah, juga berdekatan dengan Siprus yang dipisahkan laut pembatas benua Afrika, Asia, dan Eropa itu. Polisi Turki menggerebek kelompok penyelundup benda purbakala di Turki Selatan, 12 tahun lalu. Mereka hendak membawa sebuah kitab ke Ankara. Kitab itu langsung dimasukkan ke brankas kantor Pengadilan Tinggi Turki.

Injil kuno yang diperkirakan berusia 1.500 tahun menjadi perhatian setelah dipublikasikan Pemerintah Turki. Kontroversi muncul karena isi Injil ini meyakini Yesus sebagai nabi. Injil ini memprediksi kedatangan Muhammad SAW setelah Yesus.

Jika benar bahwa kitab ini merupakan Injil Barnabas, ramalan rahib Buhaira saat Muhammad SAW kecil ada hubungannya. Saat itu, Muhammad SAW berusia 12 tahun. Abu Thalib, sang paman, hendak melakukan ekspedisi niaga dari Makkah ke Syam (Suriah).

Saat tiba di sebuah tempat pertapaan di Bushra, antara Syam dan Hijaz, mereka bertemu dengan Buhaira. Sang rahib takjub menyaksikan Muhammad. Sebab, awan selalu bergerak memayungi kemanapun Muhammad melangkah. Buhaira memeriksa tubuh Muhammad untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kitab-kitab suci.

Ia akhirnya menemukan tanda kenabian di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya. Ia lalu mencium tanda itu. Sang rahib pun berpesan agar Abu Thalib menjaga keponakannya itu karena dia adalah calon rasul yang dinantikan. Prediksi Buhaira dari Kota Bushra itu menjadi kenyataan. Ketika menginjak usia 40 tahun, Muhammad memperoleh wahyu saat menyendiri di Gua Hira. Muhammad menjadi rasul penutup bagi umat manusia.

Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Source: www.republika.co.id
Terompet Setan
Sejumlah pengunjukrasa dari Forum Umat Islam (FUI) dan Front Pembela Islam (FPI) melakukan aksi menolak konser Lady Gaga di depan Kedubes AS, Jakarta, Jumat (25/5). (Edwin Dwi Putranto/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr A Ilyas Ismail

Di zaman edan, manusia mengalami dehumanisasi secara besar-besaran, sehingga banyak dari mereka mengidap penyakit skizofrenia. Hal ini lantas membuat mereka lupa ingatan dan kehilangan kesadaran tentang fitrah kebenaran (logika), baik buruk (etika), dan keindahan (estetika).

Di zaman edan, manusia tak hanya bersekutu dan menjadi teman dekat setan (QS al-Nisa [4]: 38), tetapi sebagian telah menjadi seperti setan. Dalam arti selalu membisikkan (meniupkan) kejahatan ke dalam hati manusia. (QS an-Nas [114]: 4-5).

Terompet (nyanyian) setan itu disenandungkan dalam aneka rupa, sehingga manusia berpaling dari jalan Allah. Di antaranya, rayuan agar manusia bersifat kikir serta melakukan kejahatan, fakhsya’, (QS al-Baqarah [2]: 268), seperti berbuat zina, mabuk-mabukan, judi, dan semgala tindakan sesat lainnya.

Dalam Alquran disebutkan bahwa sebagian manusia memang senang dan gemar membeli terompet setan itu (lahwa al-hadits). (Lihat QS Luqman [31]: 6).

Dalam satu riwayat, Abdullah bin Masud ditanya tentang makna perkataan tidak berguna (lahwa al-hadits) dalam ayat di atas. Ia menjawab, “Demi Allah, tiada tuhan selain Dia, perkataan tak berguna itu adalah nyanyian (al-Ghina’). Abdullah mengulangnya hingga tiga kali sambil bersumpah. (Tafsir Ibnu Katsir [6]: 330).

Imam Hasan al-Bashri memahami lahwa al-hadits sebagai sesuatu yang memalingkan manusia dari mengingat Allah. Seperti candaan, lelucon, gosip murahan, serta lirik dan lagu yang membangkitkan birahi. (Tafsir al-Alusi [15]: 408).

Namun, ini tidak berarti bahwa Islam anti dengan seni (kesenian). Seni dalam pengertian yang sebenarnya sebagai rasa (akan) keindahan, sensibilitas estetis (syu`ur bi al-jamal), dan kemampuan mengekspresikannya (wa al-ta`bir `anhu).

Bahkan, menurut ulama besar dunia, Syekh Yusuf Qaradhawi, tak ada agama yang memberikan apresiasi kepada seni melebihi agama Islam. Dalam al-Fann fi al-Islam, Qaradhawi menjelaskan bahwa seni musik, nyanyian, syair, lirik, dan lagu, tidak tergolong terompet setan manakala memenuhi lima syarat.

Pertama, mengandung pesan yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran dan moral Islam. Kedua, dibawakan dengan cara yang bagus, tidak erotis, sensual, dan membangkitkan nafsu birahi.

Ketiga, tak ikut serta di dalamnya barang yang haram, seperti narkoba, miras (al-khamr), dan perjudian (maysir). Keempat, musik dan nyanyian tidak ekstrem atau berlebihan (ghuluw). Kelima, penonton musik atau konser wajib memiliki pertahanan diri, semacam early warning system jika ada hal-hal buruk yang tak diinginkan.

Apabila tidak memenuhi lima syarat di atas maka musik dan nyanyian itu tergolong terompet setan (mizmar al-syaithan). Inilah maksud sabda Nabi, “Lonceng (dentuman musik) tergolong terompet setan.” (HR Ahmad dari Abu Hurairah).

Di zaman edan, kehidupan dunia bisa jungkir balik. Setan atau terompet setan bisa dianggap sebagai kebaikan dan dibela mati-matian atas nama seni dan kebebasan berekspresi. Benarkah? Wallahu a`lam.

Redaktur: Heri Ruslan
Source: www.republika.co.id
Republika/Edwin Dwi Putranto
Mencintai Alquran adalah Sunnah Rasulullah
Membaca Alquran (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sumatera Selatan, Gatot Pudjo Nugroho mengajak para orang tua mendidik anak-anaknya untuk mencintai dan mengamalkan nilai-nilai Alquran sejak dini. Sebab, menanamkan nilai-nilai Alquran sejak dinni adalah upaya demi menciptakan generasi muda yang berkarakter.

"Tanamkan nilai-nilai Alquran pada anak sejak dini. Karena mengajarkan anak mencintai Alquran merupakan sunnah Nabi (Muhammad SAW)," katanya pada wisuda santri TKQ/TPQ se-Kota Medan yang diikuti 2.415 santri di Auditorium Universitas Negeri Medan, Senin (4/6).

Ia mengatakan, dengan menanamkan nilai-nilai Alquran sejak dini pada anak, maka kedepannya diharapkan mereka menjadi generasi muda yang memiliki mental cerdas. Sehingga menjadi pribadi yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.

"Tadi pagi saya baru melepas beberapa Khalifah kontingen Sumut untuk mengikuti MTQ tingkat nasional di Ambon. Beberapa di antaranya masih berusia muda mulai dari tingkat SD hingga SMA. Yang lebih menggembirakan mereka semua sudah hafal beberapa juz Alquran," sebutnya.

Dengan hafal Alquran, masih kata Gatot, kedepannya anak-anak bangsa diharapkan dapat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran ke kehidupan sehari-harinya. Akhirnya, tunas-tunas bangsa itu diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang berahlak dan berjiwa mulia.

"Hari ini anak-anak kita yang diwisuda sangat bahagia. Saya ingin kebahagian itu terus menyertai pendidikan mereka hingga ke jenjang pendidikan selanjutnya. Ini menjadi tugas bersama bagimana kedepan keceriaan mereka tidak hilang karena kurangnya perhatian dari orang tua," katanya mengakhiri.

Redaktur: Karta Raharja Ucu
Sumber: Antara
Source: www.republika.co.id
Bersedekalah, Agar Terhindar dari Musibah!
"Sesungguhnya dalam hartamu ada hak anak yatim dan fakir miskin"
RASULIULLAH Shallahu ‘alaihi Wassallam bersabda: “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah." (HR. Imam Baihaqi)

Alkisah, di jaman dahulu kala di sebuah negeri ada seorang pedagang sukses yang terkenal sholeh dan berjiwa sosial. Namanya Tuan Tajir. Tempat usaha dan tempat tinggalnya lebih dari satu. Usahanya adalah berdagang barang-barang antik mewah dan jual beli rumah. Di negerinya penduduk mengenalnya sebagai orang yang selalu menjaga sholat lima waktu berjamaah tepat waktu di masjid, berkawan dengan dengan orang-orang sholeh, ramah pada setiap orang, dan senang membantu baik saudara dekat, saudara jauh maupun orang lain yang bukan saudara.

Suatu hari, datanglah seorang ulama bernama Syeikh Mukhtar bersilaturahmi ke rumahnya. Setelah mengobrol membicarakan berbagai hal termasuk masalah keagamaan, Tuan Tajir meminta dido’akan oleh Syeikh Mukhtar agar dirinya terhindar dari musibah seperti yang baru saja dialami rekan bisnisnya yang dirampok barang-barang dagangannya oleh kawanan penyamun di tengah perjalanan bisnisnya. Sebelum Syeikh Mukhtar berpamitan, Tuan Tajir tidak lupa memberikan sumbangan uang sebesar 5 dirham kepada Syeikh Mukhtar sebagai zakat dari pendapatannya hasil penjualan salah satu rumahnya yang baru saja laku 350 dinar.

Pada kesempatan silaturahmi tersebut, Syeikh Mukhtar mengungkapkan maksud dan tujuan kedatangannya. Beliau mengharapkan bantuan Tuan Tajir berkenan membeli satu-satunya rumah yang dimilikinya seharga 50 dinar. Syeikh Mukhtar mengatakan pada Tuan Tajir, uang hasil penjualan rumahnya akan digunakannya untuk membiayai anaknya melanjutkan pendidikan di sebuah madrasah di negeri seberang, mendukung usaha-usaha dakwahnya, dan modal untuk berbisnis agar dia bisa meningkatkan taraf kehidupannya yang memang masih kurang dari cukup.

Dengan halus dan hati-hati, Tuan Tajir sambil memohon maaf mengatakan tidak bisa membantu Syeikh Mukhtar dengan mengemukakan dua alasan, Pertama, dia tidak ada rencana untuk membeli rumah, dan kedua, dia berencana akan membantu saudara kandungnya –bernama Tuan Tajir Muda- untuk mengembangkan usahanya.

Beberapa bulan kemudian, penduduk negeri itu dikagetkan dengan berita Tuan Tajir menderita sakit yang cukup parah dan harus menjalani pengobatan di rumah sakit yang menelan biaya sebesar 50 dinar. Tak berapa lama setelah itu, penduduk kembali dikagetkan dengan berita Tuan Tajir Muda mengalami kecelakaan di jalan, terjatuh dari unta yang dikendarainya dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Beberapa bulan kemudian, Tuan Tajir mengalami musibah lagi, Beberapa barang dagangannya di salah satu tempat usahanya raib. Kerugian ditaksir sekitar 50 dinar. Tuan Tajir tidak tahu bagamaina bisa raib. Kemungkinan besar pelakunya adalah pegawainya sendiri.

Kisah di atas adalah kisah nyata dengan sedikit perubahan, yakni pada setting waktu, tempat dan nama-nama orang. Kisah-kisah serupa yang menceritakan dan membuktikan keajaiban sedekah kini mudah didapat dari siaran TV, buku-buku dan majalah-majalah.

Apalagi dari internet, akan sangat mudah didapat kisah-kisah sejenis yang sangat banyak ragam dan jumlahnya. Namun ternyata kemudahan-kemudahan itu tidak mudah membuat setiap diri Muslim tergerak hati menjadikan sedekah sebagai gaya dan pola hidupnya.

Masih banyak ditemui atau bahkan diri kita sendiri yang merasa mampu ketika memenuhi segala kebutuhan dan keinginan termasuk untuk hal-hal dan barang-barang yang bukan primer, tapi tiba-tiba merasa miskin ketika ingin bersedekah atau ketika datang seseorang yang memohon bantuannya untuk keperluan orang tersebut, orang lain, lembaganya, atau keperluan dakwah. Sehingga tidak sepersen pun yang keluar dari sakunya, atau jika memberikan bantuan nilai nominalnya kecil.

Contohnya, hampir setiap orang kini mempunyai handphone. Ketika membeli handphone meskipun harganya mencapai ratusan ribu hingga jutaan, bisa dipastikan hampir setiap orang kini mampu membelinya. Juga untuk keperluan membeli pulsa. Pasti ada saja uang untuk membeli pulsa setiap kali habis. Tapi ketika datang seseorang dari sebuah lembaga sosial memohon bantuan infak atau sedekah untuk keperluan anak yatim, tidak setiap orang yang mempunyai handphone dan selalu beli pulsa memberikan sumbangan. Jika memberi, nilai nominalnya kecil, jauh di bawah harga handphone bahkan masih di bawah jumlah pulsa selama satu bulan sekalipun.

Gaya hidup seperti di atas menurut Islam jelas salah. Sesungguhnya bersedekah itu kebutuhan setiap orang. Orang yang bersedekah lah yang membutuhkan orang yang disedekahi. Mengapa demikian? Karena setiap orang ingin hidupnya di dunia barokah, jika sakit ingin sembuh dari sakit, terhindar dari musibah, di alam barzah mendapatkan kiriman pahala terus menerus, dan kelak di akhirat selamat dari api neraka dan mempunyai timbangan amal sholeh yang berat.

Sesungguhnya uang seseorang yang dikeluarkan untuk keperluan sosial dan perjuangan agama adalah yang benar-benar miliknya. Sedangkan uang yang disimpannya atau yang dikeluarkannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya bukanlah miliknya. Mengapa? Karena yang pertama manfaatnya akan dirasakan hingga setelah mati, menyelamatkan dirinya dari api neraka dan memperberat timbangan amal sholehnya di Hari Kemudian. Sedangkan yang kedua, manfaatnya hanya dirasakan ketika hidup di dunia, kecuali jika hal-hal atau barang-barang yang dibelinya digunakan untuk beribadah apalagi untuk berdakwah, manfaatnya akan dirasakan di alam barzah dan di alam akhirat.

Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari 'Uqbah bin Harits r.a., ia berkata, "Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi saw., di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke rumah salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau saw. Ketika Rasulullah saw. keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, 'Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan." (HR. Bukhari)

Sehingga dapat disimpulkan, Tuan Tajir yang paling tidak mempunyai harta 350 dinar dari hasil penjualan rumahnya semestinya membantu Syeikh Mukhtar dengan membeli rumahnya. Lebih baik lagi jika Tuan Tajir memberikan 50 dinar cuma-cuma tanpa mendapakan rumah tersebut. Dengan demikian selain terhindar dari musibah-musibah, uang yang dikeluarkannya untuk membantu Syeikh Mukhtar benar-benar menjadi miliknya.

Dalam banyak hadits Rasulullah sering mengatakan membentengi diri kita dengan bersedekah agar terhindar dari musibah.

Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (HR Thabrani)

Seandainya ada banyak Tuan Tajir di sebuah negeri yang mengeluarkan hartanya untuk mendukung perjuangan di jalan Allah, Allah Subhanahu Wata'ala tidak akan melenyapkan atau memusnahkan penduduk negeri itu untuk diganti dengan kaum lain yang lebih baik. Naudzu billahi min dzalik!

هَاأَنتُمْ هَؤُلَاء تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاء وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak; dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (QS. Muhammad [47]:38).

Nah, saatnya kita bersedekah!*

Abdullah al-Mustofa. Penulis peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia

Red: Cholis Akbar
Source: www.hidayatullah.com
Beginilah Akhlak Suami-Istri Keluarga Muslim
Pemandangan seorang istri mencium tangan suaminya di Masjid Istiqlal Jakarta
Oleh: Ali Akbar bin Agil

PROF. Dr. Sayyid Muhammad Al-Maliki, ulama besar dari kota Makkah, dalam bukunya Adabul Islam Fi Nidzaamil Usrah, mengetengahkan adab, etika, dan akhlak pasangan suami-istri dalam berkeluarga. Dalam bukunya dijelaskan tentang pentingnya akhlak pergaulan baik dari pihak suami maupun istri. Keduanya sama-sama memiliki kewajiban dan keharusan untuk menjadikan akhlak rumah tangga nabi sebagai pedoman paripurna.

Bagi seorang suami hal pertama yang wajib diketahui dalam mempergauli istri adalah mengedepankan sikap welas asih, cinta, dan kelembutan.

Dalam Al-Qur`an, Allah berfirman;

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً

Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An-Nisa` : 19)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah,

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku.”

Kedua, Sebagai seorang kepala keluarga, suami dianjurkan untuk memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan kasih sayang dan menjauhkan diri dari sikap kasar.

Adakalanya seorang suami menjadi tokoh terpandang di tengah masyarakat, ia mampu dan pandai sekali berlemah lembut dalam tutur kata, sopan dalam perbuatan tapi gagal memperlakukan keluarganya sendiri dengan sikapnya saat berbicara kepada masyarkat.

Ketiga, seorang suami sangat membutuhkan pasokan kesabaran agar ia tangguh dalam menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan. Suami tangguh adalah suami yang tidak mudah terpancing untuk lekas naik pitam saat melihat hal-hal yang kurang tepat demi cinta dan rasa sayangnya kepada istri.

Betapa sabarnya Rasulullah sebagai seorang suami dalam mengurusi para istrinya.
Begitu sabarnya, sampai-sampai sebagai sahabat beliau mengatakan, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih pengasih kepada keluarganya melebihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.” (HR. Muslim).

Contoh seorang suami yang penyayang lainnya dapat kita simak dari kisah Sayidina Umar bin Khaththab Ra. Beliau yang terkenal ketegasan dan sikap kerasnya dalam mengahadapi kemunkaran, pernah berkata saat didatangi oleh orang Badui yang akan mengadukan sikap cerewet istrinya. Di saat bersamaan, Umar pun baru saja mendapat omelan dari istri dengan suara yang cukup keras.

Umar memberi nasihat kepada si Badui, “Wahai saudaraku semuslim, aku berusaha menahan diri dari sikap (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak atas istriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saya menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya. Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada orang yang memuliakan mereka (kaum wanita), selain orang yang mulia dan tidak ada yang merendahkan mereka selain orang yang suka menyakiti. Aku sangat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.”

Umar meneruskan nasihatnya, “Wahai Saudaraku orang Arab, aku berusaha menahan diri, karena dia (istriku) memiliki hak-hak atas diriku. Dialah yang memasak makanan untukku, membuatkan roti untukku, membuatkan roti untukku, menyusui anak-anakku, dan mencucui baju-bajuku. Sebesar apapun kesabaranku terhadap sikapnya, maka sebanyak itulah pahala yang aku terima.”

Keempat, seorang suami hendaknya mampu mencandainya. Adanya canda dan tawa dalam kehidupan berumah tangga lazim selalu dilakukan. Bayangkan apa yang terjadi jika pasangan suami-istri melalui hari-harinya tanpa canda. Lambat laun rumah tangganya menjadi bak areal pemakaman yang sepi, senyap, hampa.

Suami yang ingin menunaikan hak-hak istrinya akan berusaha mengundang canda, gurauan, yang mencairkan suasana dengan senyum dan tawa; berusaha untuk bermain perlombaan dengan istri seperti yang dilakukan Rasulullah kepada istrinya Aisyah Ra.

Dalam diri setiap manusia terdapat sifat kekanak-kanakan, khususunya pada diri seorang wanita. Istri membutuhkan sikap manja dari suaminya dan karenanya jangan ada yang menghalangi sikap manja seorang suami untuk istrinya.

Maurice J. Elias Ph. D dkk dalam bukunya Emotionally Intelligent Parenting: How to Rise a Self-Disiplined, Responsible, Socially Skilled Child, menyinggung fungsi humor dalam proses kimiawi dan psikologis tubuh kita. “Humor kecil sehari-hari seperti vitamin ampuh untuk membangun dan mempertahankan kemampuan Anda secara positif menanggapi tugas-tugas keayahbundaan dan tantangan hidup lainnya.”

Menyisipkan humor dalam hubungan dengan pasangan dan anak-anak, menurut Maurice, dimaksudkan untuk menjaga agar kita tetap dalam kerangka berpikir optimis. “Cobalah melakukan hal-hal yang bisa membawa Anda ke dalam suasana humor setiap hari, meskipun hanya sebentar. Kalau tidak bisa setiap hari, coba sesering yang bisa Anda lakukan,” pesannya dalam buku yang telah dialih bahasakan berjudul Cara-cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ.

Akhlak Seorang Istri

Adapun kewajiban bagi pihak istri adalah tidak akan membebani suaminya dengan hal-hal yang tidak sanggup ia kerjakan dan tidak menuntut sesuatu yang lebih dari kebutuhan. Sikap ini dapat menjadi bantuan untuk suami dalam urusan finansial.

Alangkah mulianya seorang wanita yang berjiwa qana`ah, cermat dalam membelanjakan harta demi mencukupi suami dan anak-anaknya. Dahulu kala, para wanita kaum salaf memberi wejangan kepada suami atau ayahnya, “Berhatilah-hatilah engkau dari memperoleh harta yang tidak halal. Kami akan sanggup menahan rasa lapar namun kami tak akan pernah sanggup merasakan siksa api neraka.” Inilah akhlak pertama bagi pihak istri.

Kedua, istri shalihah adalah istri yang berbakti kepada suaminya, mendahulukan hak suami sebelum hak dirinya dan kerabat-kerabatnya. Termasuk dalam masalah taat kepada suami adalah berlaku baik pada ibu mertua.

Ketiga, istri sebagai guru pertama bagi anak-anak, hendaknya mendidik mereka dengan pendidikan yang baik, memperdengarkan kata-kata yang baik, mendoakan mereka dengan doa yang baik pula. Semuanya itu merupakan implementasi bakti istri kepada suaminya.

Keempat, karakter istri dengan adab baik adalah tidak mengadukan urusan rumah tangga dan mengungkit-ungkit perkara yang pernah membuat diri si istri sakit hati dalam pelbagai forum. Hal yang sering terjadi pada diri seorang wanita yaitu menceritakan keadaan buruk yang pernah menimpanya kepada orang lain. Seakan dengan menceritakan masalah yang melilit dirinya urusan akan terselesaikan. Namun yang terjadi sebaliknya, keburukan dan aib keluarga justru menjadi konsumsi orang banyak, nama baik suami dan keluarga terpuruk, dan jalan keluar tak kunjung ditemukan.

Bentuk adab kelima, tidak keluar dari rumahnya tanpa memperoleh izin terlebih dahulu dari suami. Mengenai hal ini, Nabi telah mewanti-wanti dengan bersabda, “Hendaknya seorang wanita (istri) tidak keluar dari rumah suaminya kecuali dengan seizin suami. Jika ia tetap melakukannya (keluar tanpa izin), Allah dan malaikat-Nya melaknati sampai ia bertaubat atau kembali pulang ke rumah.” (HR. Abu Dawud, Baihaqi, dan Ibnu `Asakir dari Abdullah bin Umar).

Demikian halnya dalam masalah ibadah non-wajib seperti puasa sunnah, hendaknya seorang istri tidak melakukannya kecuali setelah suami memberi izin.

Betapa indah kehidupan pasangan suami-istri yang menjadikan rumah tangga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai titik singgung dalam menghidupkan hubungan harmonis. Tidak ada yang sempurna dari pribadi pria sebagai suami dan wanita sebagai istri. Kelebihan dan kekurangan pasti adanya. Suami-istri yang sadar antara hak dan kewajibannya akan melahirkan generasi penerus kehidupan manusia yang saleh, pribadi bertakwa, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Membina rumah tangga bahagia perlu keterampilan, kepandaian, dan kebijakan pengelolalnya. Masing-masing pasangan dituntut untuk pandai dan bijak mengelola rumah tangga keduanya, pandai dan bijak mengelola hubungan dengan buah hati mereka, pandai dan bijak mengatur waktu antara bekerja dan bercengkrama dengan pasangannya, pandai dan bijak mengelola keuangannya, bahkan pandai dan bijak mengelola cintanya.

Pengasuh Sebuah Majelis Ta`lim dan Ratib Al-Haddad di Malang

Red: Cholis Akbar
Source: www.hidayatullah.com
Inilah Warisan Rasulullah SAW
Mencintai Nabi Muhammad SAW (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Dr A Ilyas Ismail

Diceritakan, sepeninggal Nabi SAW, putrinya, Siti Fatimah, meminta kepada Khalifah Abu Bakar agar diberikan warisan dari harta peninggalan Nabi. Namun, Abu Bakar menolak permintaannya. Dasarnya, sabda Rasulullah SAW, “Kami para nabi tidak mewariskan harta. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah [milik umat].” (HR Bukhari dari Aisyah).

Dalam riwayat lain, dikisahkan pula bahwa sahabat Abu Hurairah merasa heran melihat banyak orang di salah satu pasar di Madinah, yang begitu sibuk berbisnis. Lalu, ke pada mereka Abu Hurairah bertanya, “Kalian di sini, tahukah kalian bahwa warisan Nabi sedang dibagikan di Masjid Nabawi?”

Mereka pun bergegas menuju masjid. Merasa tak ada pembagian warisan di sana, mereka dengan rasa kecewa kembali menemui Abu Hurairah. “Tak ada pembagian warisan di masjid,” sanggah mereka.

Jawab Abu Hurairah, “Apa kalian tidak melihat di sana ada orang-orang yang sedang shalat, membaca Alquran, dan belajar tentang hukum-hukum Allah? Itulah warisan Nabi.” (HR Thabrani dari Abu Hurairah).

Dua kisah ini menegaskan kepada kita bahwa warisan penting yang ditinggalkan Nabi SAW bukanlah harta, tetapi ajaran Islam. Karenanya, ahli waris Nabi bukanlah keturunannya an sich, tetapi para ulama. Nabi SAW, seperti diungkapkan para perawi hadis (ash-hab al-Sunan), berkata, Ulama adalah ahli waris para Nabi.

Sebagai ahli waris nabi, para ulama memikul beban dan tanggung jawab dakwah, yaitu kewajiban menyeru dan mengajak manusia ke jalan Allah, ila sabil-i rabbik(QS an-Nahl [16]: 125) melalui tabligh , amar makruf, dan nahi munkar, serta beramal saleh dan keluhuran budi pekerti (QS Fu shshilat [41]: 33). Hal inilah yang ditunjukkan sahabat Abu Bakar Shiddiq dan Abu Hurai rah, dalam kisah di atas.

Belajar dari dakwah sahabat Abu Hurairah di atas maka ada dua hal yang secara absolut harus dimiliki oleh para ulama dan para dai. Pertama, hikmah, yakni ilmu dan kearifan dalam mengidentifikasi masalah dan memberikan jawab an (solusi) yang tepat dalam mengatasi masalah tersebut.

“Allah menganugerahkan al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Alquran dan assunah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS al- Baqarah [2]: 269).

Kedua, qudwah hasanah, yakni keteladanan baik dalam sikap maupun perilaku, sehingga sang dai layak menjadi tokoh panutan (patron client), atau model peran (role model). (QS al-Ahzab [33]: 21).

Warisan yang sesungguhnya adalah agama dan hikmah atau kebenaran yang bersifat universal. Setiap orang beriman, setingkat dengan ilmu dan kesanggupan yang dimiliki, diminta untuk menjaga “warisan suci” ini.

Rasul Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara [pusaka]. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan sunah Rasul.” (HR Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan). Wallahu a`lam.

Redaktur: Heri Ruslan
Source: www.republika.co.id
>>