• img
Tari Saman, Budaya Indonesia Asal Aceh

Tari Saman, Budaya Indonesia Asal Aceh - Tari Saman merupakan salah satu tari daerah yang paling terkenal dari Aceh saat ini. Tarian ini berasal dari Dataran Tinggi Gayo Tengah. Tari Saman penggunaan puisi Arab dan bahasa Aceh. Di masa lalu, Tari Saman biasanya ditampilkan untuk merayakan peristiwa - peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Selain itu, tarian ini biasanya juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Bahkan nama "Samantha" diperoleh dari salah satu ulama besar Aceh, Syech Saman.

Tari Saman biasanya ditampilkan menggunakan iringan alat musik, drum dan menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha, dan melemparkan tubuh mereka sebagai sinkronisasi dalam arah yang berbeda. Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang biasanya disebut Syech. Karena keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam tarian, para penari wajib memiliki konsentrasi tinggi dan latihan serius untuk tampil sempurna. Tarian ini dilakukan dalam kelompok, menyanyi dengan duduk berlutut tanpa iringan musik.

Karena gerak dinamis, tarian ini banyak dimainkan oleh laki-laki, tapi sekarang perkembangan tarian ini telah dimainkan oleh penari wanita, banyak serta campuran antara penari pria dan penari wanita. Tarian ini adalah menari sekitar 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 sebagai pemberi isyarat sambil bernyanyi.
Source: unikboss.blogspot.com
Tari Remo - Seni Budaya Tradisional Jawa Timur
Tari Remo adalah tari yang mengisahkan perjuangan seorang pangeran yang berjuang di medan pertempuran. Untuk menari tari Remo ini dibutuhkan kemaskulinan karena pada umumnya tari remo dibawakan oleh penari lelaki. Pada awalnya, sen tari Remo adalah tari yang digunakan untuk dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring waktu, tari Remo menjadi tari pembuka ludruk, lalu menjadi tari penyambut tamu, pada khususnya tamu penting. Tari Remo sendiri asalnya dari Jombang, Jawa Timur. Kesenian tari Remo sendiri saat ini tidak hanya dibawakan oleh penari pria, namun juga penari wanita. Hal ini dilakukan untuk menjaga khasanah kekayaan budaya Jawa Timur.

Maka kemudian berkembanglah tari Remo putri yang penarinya memakai sanggul lengkap dengan satu selendang yang disampirkan di bahu, sedangkan penari Remo pria menggunakan busana khas Surabaya dan Jombang. Keindahan tari Remo adalah karakteristik dalam membuat gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Pagelaran tari Remo umumnya diiringi dengan alat musik saron, bonang, seruling dan gambang. Tari Remo sekarang bahkan berkembang menjadi tari penyambutan tamu negara seperti tari Yosakoi di Jepang.

Banyak sekali penari-penari dari berbagai daerah yang mengikuti Tari Remo dan Yosakoi, dan hal tersebut membuat keseniat tari ini banyak disukai oleh masyarakat. Apalagi jika dikaitkan dengan kesenian Jepang, dalam hal ini Tari Yosakoi, karena kedua jenis tarian ini memiliki keindahan yang hampir sama.

Fungsi Tari Remo

Tari Remo sering disebut sebagai dengan tari pembukaan acara, dalam suatu hiburan yang dipertontonkan kepada para pecinta seni tari tersebut. Tari Remo kemudian berkembang karena perkembangan seni pertunjukan ludruk. Tari Remo sendiri kemudian berkembang menjadi tari penyambutan tamu-tamu penting dalam pemerintahan. Tari ini disimpulkan sebagai koreografi yang merupakan pemahaman simbolik, sehingga bisa diitepretasikan bermacam-macam oleh yang melihatnya.

Alat Musik Tari Remo

Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari Remo sehingga menjadi satu pertunjukan yang indah dan menyenangkan dilihat. Alat-alatnya adalah gending, gender, gambang, seruling, kenong, slentem, kempul dan gong. Tarian ini menggunakan irama Suroboyo terpongan atau dengan gedong rancak, krucilan dan walang kekek. Tarian ini dapat dilakukan lebih dari satu orang, baik pria dan wanita serta dilakukan bersamaan atau juga bergantian.

Tata Busana Tari Remo

Tata busana tari Remo dapat dibagi menjadi empat, yakni:

  • Surabayan
  • Malangan
  • Sawunggaling, dan
  • Remo putri

Keempat jenis busana ini hampir sama. Hanya saja pada Remo Surabayan menggunakan lonceng kecil di pergelangan kaki yang mengakibatkan suara yang dinamis. Mengenai celana, Surabayan mengenakan celana pendek selutut, sedangkan malangan menggunakan celana sampai mata kaki. Sedangkan untuk putri menggunakan sanggul dan mekak hitam di bagian dada.

Budaya ragam Indonesia dalam seni tarian sangat kaya sekali. Dengan mengenal kebudayaan tarian di setiap daerah di negeri ini, maka kita dapat mencintai kebudayaan kita dan mungkin bisa mengembangkannya. Kalau bukan kita yang mengagumi dan melestarikannya, siapa lagi yang mau? Menunggu Malaysia nge-klaim lagi? Tentu tidak.
Source: semangatku.com
Rengkong Hatong Upacara Hasil Panen, Mengeluarkan Suara seperti Katak
Budaya asli Bogor dan termasuk satu dari 13 kesenian yang ternacam punah

Rengkong Hatong sendiri merupakan kesenian budaya Sunda yang dimaknai sebagai permohonan doa terhadap Yang Maha Kuasa (Dewi Sri). Tujuannya, agar dihindarkan dari segala bentuk bencana pascapanen padi.

Rengkong merupakan salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Kesenian ini muncul sekitar 1964 di Kabupaten Cianjur. Orang yang pertama kali memperkenalkannya adalah H Sopjan. Sedangkan bentuk kesenian ini dikenal dari tata cara masyarakat Sunda zaman dahulu, ketika menanam padi sampai dengan menuainya.

Pada saat itu, belum ada alat transportasi untuk mengangkut padi ke lumbung. Para petani menggunakan bambu sebagai alat pikul padi. Pikulan yang membawa berat beban kurang lebih 10 sampai 20 kilogram ini diikat dengan tali ijuk. Setiap berjalan, pikulan ini menghasilkan bunyi, yang dihasilkan dari pergesekan tali ijuk dengan pikulan. Dari sini kesenian rengkong bermula. Istilah rengkong sendiri diambil dari alat untuk memikul padi dari sawah ke lumbung.

Peralatan untuk memainkan seni rengkong terbilang sederhana. Terdiri dari bambu gombong, tali ijuk, minyak tanah, dan satu impitan tangkai padi. Bambu gombong berfungsi sebagai pikulan. Tali ijuk berfungsi sebagai pengikat padi yang digantung pada pikulan.

Padi, yang kisaran beratnya 10-20 kg sebagai beban pikul. Sedangkan minyak tanah fungsinya sebagai pengesat gesekan antara tali dan pikulan untuk menghasilkan suara yang keras. Dogdog dan angklung buncis merupakan peralatan lainnya sebagai pengiring.

Hatong juga lazim digunakan sebagai instrumen pembantu. Hatong merupakan alat tiup yang terbuat dari bambu. Suara yang dihasilkan rengkong sangat khas, menyerupai suara katak. Pemain rengkong biasanya menggunakan celana pangsi, baju kampret, ikat kepala, dan tanpa alas kaki.

Pemainnya berjumlah lima atau enam orang dengan durasi bermain selama satu jam. Pertunjukan rengkong selalu dilakukan di alam terbuka. Cara memainkannya, pikulan yang berisi padi diletakkan di bahu kanan.

Si pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan teratur. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak, gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara. Jika diamati, kesenian ini memang sangat khas keseharian petani desa.
Source: www.radar-bogor.co.id
Kuda Renggong, Ketika Kuda Menari Ronggeng
Mungkin kita sudah tidak asing menyaksikan sirkus dari luar negeri yang menggunakan hewan sebagai bintang utamanya. Tapi tahukah Anda di Indonesia aksi “sirkus” tradisional menggunakan hewan tersebut sudah ada lebih dari 100 tahun yang lalu ?. Tepatnya di kota Sumedang, Jawa Barat kita bisa menyaksikan kuda – kuda yang terlatih menari bahkan beradu silat dengan diiringi musik tradisional layaknya pertunjukkan sirkus. Pertunjukkan itu dikenal dengan kesenian kuda renggong.

Kesenian ini sudah mulai dikenal sejak tahun 1880-an di Desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Dahulu kesenian ini dikenal dengan nama kuda igel yang artinya kuda yang menari, namun sekarang kesenian ini lebih dikenal dengan sebutan kuda renggong. Kata renggong merupakan metatesis dari kata “ronggeng” yaitu kamonesan atau keterampilan menari mengikuti irama musik.

Menurut sejarahnya kesenian ini tidak terlepas dari tokoh yang bernama Sipan yang mencoba melatih kuda miliknya yang diberi nama si Cengek dan si Dengkek untuk mengikuti gerakan yang diinginkannya. Setelah beberapa bulan dilatih akhirnya ia berhasil melatih kudanya tersebut hingga bisa “menari” diiringi alunan musik.

Keberhasilannya ini kemudian diketahui oleh Pangeran Aria Surya Atmadja yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Sumedang. Sang Bupati kemudian memerintahkan Sipan untuk melatih kuda-kudanya yang didatangkan langsung dari Pulau Sumbawa. Dari situlah kemudian kesenian ini semakin dikenal dan berkembang tidak hanya di Sumedang, tetapi kemudian berkembang juga di daerah sekitarnya.

Kesenian ini biasanya dimainkan pada acara khitanan anak. Anak yang telah dirias dengan pakaian wayang atau pakaian adat sunda dinaikan ke atas kuda renggong yang juga telah dihias dengan berbagai aksesoris warna – warni. Kemudian dengan diiringi tetabuhan sunda rombongan kuda renggong melakukan arak-arakan berkeliling kampung.

Dalam rombongan tersebut selain kuda dan penunggangnya biasanya terdiri dari pelatuk (pemimpin rombongan), beberapa orang pemain waditra (tetabuhan), sinden, beberapa pesilat dan diramaikan juga oleh warga masyarakat yang ikut menari bersama. Dalam arak-arakan tersebut biasanya para pesilat beraksi bersama kuda renggong mempersembahkan gerakan-gerakan yang atraktif seperti gerakan “perkelahian” antara kuda dengan pesilat.

Dalam perkembangannya kuda renggong tidak hanya dipentaskan dalam acara khitanan saja, sekarang kesenian yang sudah menjadi ciri khas kota Sumedang ini juga biasa dipentaskan dalam acara penyambutan tamu agung, pawai peringatan hari kemerdekaan dan berbagai acara lainnya.

Untuk menjaga kelestarian kesenian ini pemerintah daerah Sumedang setiap tahun menggelar acara festival kuda renggong. Festival kuda renggong ini diikuti oleh puluhan grup kesenian yang berasal dari seluruh penjuru Sumedang bahkan dari luar Sumedang. Dengan dilaksanakannya festival ini diharapkan terjadi peningkatan kualitas pertunjukan kuda renggong, baik dalam hal kreatifitas gerakan tarian, waditra, aksesoris yang digunakan, kekompakan dan sebagainya sehingga kesenian yang telah menjadi salah satu ikon wisata Jawa Barat ini semakin berkembang. (Budiana Yusuf)
Source: palingindonesia.com
Seni Tradisional Banyak Mengandung Tuntunan
RETNO HERIYANTO/"PRLM" KESENIAN Jipeng memiliki kekayaan harmoni nada.*

BANDUNG, (PRLM).- Kesenian tradisional maupun kesenian buhun bukan hanya sekadar tontonan ataupun hiburan semata, tapi juga banyak hal yang berisikan tuntunan. Generasi muda harus sering disuguhi tontonan tradisional agar lebih mengenal jati diri bangsa dan seni budayanya serta menimba nilai-nilai didalamnya.

“Pemerintah ataupun instansi terkait, terutama DPRD selaku pengambil kebijakan seharusnya lebih tahu kalau pegelaran kesenian tradisional tidak hanya sekedar bentuk hiburan yang mengedepankan sisi pelestarian ataupun pengembangan. Tapi lebih dari itu, seharusnya mereka mengetahui kalau di dalam kesenian tradisional juga banyak terdapat nilai-nilai kehidupan yang masih relevan dengan kondisi kekinian, dan hal ini berbeda dengan kesenian saat ini yang lebih mengarah pada sisi hiburan dan sekadar tontonan saja,” ujar Ceu Yeti Mamat, tokoh seni tari Jabar, mengomentari pegelaran kesenian tradisional Jipeng Satia Pulun Kampung Adat Banten Kidul Ciptagelar hasil Program Pewarisan Seni Tradisional, bertempat di Teater Terbuka Taman Budaya Jabar, Sabtu (10/11) malam.

Hal senada diungkapkan oleh actor senior Rahmat Hidayat, kalau pegelaran seni tradisional bukan hanya dimaksudkan untuk pengembangan dan pewarisan saja agar kesenian tetap terjaga dan tidak punah. “Tapi ada misi atau tujuan yang lebih luhur dari sekedar pegelaran tersebut, yaitu agar generasi muda lebih mengenal jati diri bangsa dan seni budayanya serta menimba nilai-nilai didalamnya,” ujar Rahmat Hidayat.

Sementara Hanna dan beberapa rekannya sesama mahasiswa asal Canada yang sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri Kota Bandung, mengatakan kalau kesenian Jipeng merupakan kesenian yang memiliki kekayaan harmoni nada yang berbeda atau memiliki kekhasan. “Suara klarinetnya seakan tidak asing terdengar, juga suara trombon dan baritonya. Hanya yang aneh suara snare dan bas drum yang mirip suara gendang,” ujar Hanna (22). (A-87/A-147)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
Kepiawaian Mimi Rusini Menari Topeng Klasik Gaya Palimanan
RETNO HY/"PRLM" MIMI Tursini (63) masih piawai menarikan tari Topeng Klasik Cerbon gaya Palimanan pada pegelaran seni dan budaya “Sawengi Ning Cerbon” Sabtu (1/12/12) malam, bertempat di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House).*
BANDUNG,(PRLM).- Rasa penasaran penonton untuk menyaksikan Tari Topeng Klasik Cerbon (Cirebon) gaya Palimanan akhirnya terpuaskan. Tampilnya Mimi Tursini (63) pewaris Topeng Klasik Cerbon gaya Palimanan yang merupakan puteri (alm) Mimi Suji Sang Maestro Topeng Cerbon, mengundang decak kagum.

Meski hanya membawakan satu tarian, penampilan Mimi Tursini sebagai pewaris tunggal Topeng Klasik Cerbon gaya Palimanan pada pegelaran seni dan budaya “Sawengi Ning Cerbon” Sabtu (1/12) malam, mampu mengundang kekaguman. Tari Topeng Klana yang dibawakan selama hampir 15 menit diakhiri tepuk tangan penonton yang memenuhi sebagaian tempat duduk Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House).

MimiTursini adalah putri maestro Topeng Klasik Cerbon gaya palimanan (alm) Mimi Suji. Di usianya yang tidak lagi muda masih berkiprah untuk terus melestarikan topeng gaya Palimanan, aktifitasnya kini menjadi guru tari di sanggarnya Mekar Suji Arum.

“Nenek yang sudah banyak cucu dan cicit gerakannya masih lincah seperti Tursini muda dulu, apalagi kalau menari Wanda Klana, banyak orang berdecak kagum,” ujar Rucita, dari Dewan Kesenian Kab. Cirebon yang turut mendampingi para seniman dan seniwati Cirebon yang mendukung terselenggaranya pegelaran seni dan budaya “Sawengi Ning Cerbon”. (A-87/A-88)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
Oleh : Rachmad Yuliadi Nasir

Wayang merupakan karya seni yang memiliki keunikan yang luar biasa. Dari sebuah pergelaran wayang, kita tidak hanya memperoleh tontonan, namun juga mendapatkan tuntunan.

Dengan keindahannya, wayang menjadi media hiburan. Namun wayang juga bisa menjadi sarana penyebaran informasi efektif untuk mendidik masyarakat melalui penyampaian pesan-pesan, terutama pesan nilai-nilai moral.

Wayang Indonesia sepatutnya menjadi salah satu warisan dunia. Hal ini kemudian diakui oleh oleh United Nations Education Social and Culture Organization (UNESCO) pada tanggal 7 November 2003 yang lalu bahwa Wayang Indonesia merupakan Karya Agung Budaya Dunia atau Masterpiece of the Oral Intangible Heritage of Humanity.

Di masa yang lalu, wayang adalah wujud dari upaya penggambaran nenek moyang yang menceritakan tentang kehidupan manusia. Dulu, nenek moyang kita meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti mempunyai roh, ada yang baik dan jahat. Sehingga saat itu (barangkali sekitar tahun 1500 SM) dibuatlah wayang dalam bentuk gambar ilusi bayangan atau dalam bahasa Jawanya “wewayangan”.

Agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, kemudian wayangan tersebut disembah dan diberi sesajen. Namun, setelah agama-agama besar masuk ke Indonesia, wayang berubah peran menjadi alat peragaan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, sehingga muncullah banyak lakon yang disesuaikan dengan konteks ajarannya yang mengusung dan bermetamorfosis dengan realita jamannya.

Di era modern ini, wayang merupakan sebuah kesenian. Wayang merupakan warisan budaya klasik yang mengakar turun temurun. Wayang berasal dari kata wayangan, yang berarti sumber pengilhaman untuk menggambarkan wujud tokoh dan cerita yang terbeber jelas dalam hati si penggambar.

Wayang juga bisa diartikan sebagai bayangan atau cermin, karena dalam kesenian wayang terdapat beberapa pencerminan karakter manusia yang sangat dalam dari tokoh-tokoh yang diusung para dalang.

Wayang Summit 2012 menjadi bagian dalam rangka memelihara dan melestarikan budaya bangsa. Perhelatan multi event mengenai Wayang itu mempertemukan tokoh, pakar dan seniman dalang serta pertunjukan wayang dari pelosok nusantara dan mancanegara.

Wayang Summit 2012 juga memberikan penghargaan kepada 4 orang Pemerhati Wayang yakni H. Ekotjipto, SH. (Ketua PEPADI, Amb), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum Senawangi), Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijaksanaan Senawangi) dan Elsabeth Proust (Total E & P Indonesia).

Penghargaan juga diberikan dalam bentuk wayang kepada 5 wakil dalang, yakni Fedelis Kithome dari Kenya, Tang Dayu dari China, dalang cilik Canggih, Ki Wawan Ajen dan Ki Dalang Sukarlana.

Wayang Summit 2012 menggelar pergelaran Wayang Dunia yang menampilkan Wayang dari Amerika, Iran, China dan Kenya.

Sementara itu Pergelaran Wayang Nusantara menampilkan Wayang Beber Pacitan menghadirkan dalang Mesran Guna Asmara dan dalang kontemporer Tri Ganjar Wicaksono, Wayang Kulit Dalang Bocah (Tri Atmodjo), Wayang Kulit Palembang (Ki Sukartana), Wayang Golek Ajen (Ki Wawan Ajen), Wayang Kulit Palembang (Kgs. Wirawan Rusdi), Wayang Suket (Slamet Gundono), Wayang Golek Menak Jogja (Dr. Junaidi, S.Kar., M.Hum.), Wayang Orang Bharata dan Wayang Kulit Purwa Solo dengan dalang Ki Manteb Soedharsono yang memainkan lakon Bima Bangkit. (*)
Source: www.kabarindonesia.com
Wayang Orang Bekasi, Jembatan Seni Tradisi dan Modern
RETNO HY/"PRLM"KEHADIRAN Punakawan Cepot dan Dewala dalam setiap pegelaran wayang selalu mengundang tawa, demikian pula saat pegelaran seni tradisional Wayang Orang Bekasi di Teater Terbuka Taman Budaya.*

BEKASI, (PRLM).- Kesenian Wayang Orang Bekasi merupakan satu-satunya kesenian yang masih mampu menjembatani seni budaya tradisi dan modern di Kota Bekasi dengan warganya yang multikultur. Karenanya keberadaan seniman Wayang Orang Bekasi perlu untuk diberi bantuan dan dukungan dalam upaya melestarikan dan menjaga tradisi.

Walikota Bekasi Dr. H. Rahmat Effendi menegaskan bahwa jajarannya merasa sangat sedih manakala pemerintah DKI Jakarta memberikan bantuan kepada seniman Wayang Orang Bekasi dengan dalih yang dimainkan para seniman dan seniwati adalah Wayang Orang Betawi.

“Hal tersebut tidak dapat dipersalahkan karena Bekasi berada di perbatasan dan para seniman serta seniwati banyak yang melakukan aktivitas maupun mengembangkan kreativitas di Jakarta,” ujar Rahmat Effendi dalam sambutannya pada acara pegelaran Wayang Orang Bekasi hasil Program Pewarisan seni Tradisi yang dilaksanakan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, bertempat di Sanggar Seni Mekar Jaya, Jalan Mandor Demong, Kel Mustika Sari, Kec. Mustika Jaya, Kota Bekasi, Minggu (7/10/12).

Diungkapkan Rahmat Effendi, pertunjukan Wayang Orang Betawi selama ini sudah jarang dipertunjukan lagi kecuali untuk acara-acara besar maupun event-event tertentu saja. Masyarakat sudah sangat sulit untuk menemukannya, karenanya keberadaan sanggar seni Mekar Jaya dengan dalangnya Ki Sukarlana menjadi barang langka.

“Karenanya, saya menginginkan seni budaya yang merupakan warisan nenek moyang kita dapat terus abadi. Pemerintah Kota Bekasi dalam hal ini akan memberikan bantuan yang akan dianggarkan di APBD 2013 untuk tiap-tiap sanggar tari ataupun grup-grup kesenian lain yang telah berbadan hukum untuk dapat terus melestarikan budaya leluhur kita,” ujar Rahmat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.Si., bahwa dirinya melihat potensi besar pada sanggar seni Mekar Jaya pimpinan Ki Dalang Sukarlana. “Karenanya tahun ini kami memasukannya dalam program revitalisasi dan pewarisan seni tradisi,” ujar Rosdiana.

Saat ini, di Kota Bekasi sendiri terdapat beberapa sanggar kesenian yang tersebar di 12 kecamatan, diantaranya adalah Sanggar Kesenian Topeng Bekasi Nomir, Sanggar Sadilla dan Sanggar Norisa Bekasi yang seluruh banyak menampilkan budaya asli Bekasi. “Namun karena kondisi pendanaan yang sangat terbatas mungkin baru tahun akan datang kami akan melakukan program serupa ke sanggar lain,” ujar Rosdiana. (A-87/A-108)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
Tari Topeng Losari, Gerakan Geometrik dan Luwes
ERIYANTI NURMALA DEWI/"PRLM" NUR Anani membawakan tari topeng "Klana Bandopati".*
BANDUNG, (PRLM).- Mata terpejam, tangan gemulai mengikuti irama, badan sesekali didorongkan ke kiri ke kanan, kadang melenggak ke belakang (galeyong). Kakinya yang putih kecil diangkat setengah badan dan kaki satunya lagi berjinjit di lantai (gantung sikil). Begitulah kalau Nur Anani membawakan "Klana Bandopati", salah satu tarian dalam khazanah tari Topeng Losari.

Pentas Keliling "Tari Topeng Babakan Losari" digelar di Gedung Sunan Ambu, STSI, Jln. Buah Batu, Kota Bandung. Pentas keliling ini merupakan pentas terakhir setelah sebelumnya, pentas di Yogyakarta dan Jakarta.

Sebagai penari generasi penerus Mak Dewi (maesto tari Topeng Losari) dan Sawitri (maestro tari Topeng Cirebon), Nur Anani bersama Sanggar Prwa Kencana ingin membuktikan bahwa tari Topeng Losari bisa bangkit kembali. Setelah sebelumnya terpuruk bahkan sempat menjual gamelannya demi menyambung hidup.

Menurut maestro tari topeng Irawati Durban Ardjo, lokasi Losari yang berbaatasan dengan Brebes, Jawwa Tengah, membuat topeng Losari Banyak dipengaruhi gaya Jawa Tengah. Gaya itu tampak pada gerakan-gerakannya yang tidak dijumpai dalam tari topeng wilayah barat. Semisal topeng Palimanan, topeng Slangit, topeng Gegesik, topeng Susukan, atau topeng Tambi di wilayah Indramayu. Tetapi antar mereka tetap berhubungan satu sama lain.

Gerakan topeng Losari lebih pada gerakan geometrik dan luwes. Sedangkan pada tari topeng wilayah Cirebon barat hanya geometrik. "Ini yang menarik, malah dalam topeng Losari ada gerakan gantung sikil (gantung kaki) yang dilakukan cukup lam tetapi tidak ditemui dalam gerakan tari topeng yang lain," demikian Irawati.

Hal senada disampaikan Pembantu Ketua I Bidang Pendidikan STSI Bandung yang juga penari, Dr. Een Herdiani. Banyak perbedaan yang menjadi ciri khas topeng Losari. Perbedaan itu tampak pada musik (gamelan) pengiring, gerakan tari, maupun pakaian tari.

Pentas semalam dibuka dengan suguhan Tari Pamindo yang lembut gemulai. Disusul dua tarian dari Luh Saraswati dan dua anak didik Nur Anani. Dilanjutkan "Bobordan Topeng Losari" yang menjadi jeda di sela-sela babak. Bodoran ini berkiatan dengan beberapa babakan cerita dalam topeng Losari.

Suguhan Klana Bandopati yang menjadi penutup pertunjukkan, menjadi tarian paling tidak terlupakan. Nur Anani membawakannya dengan sangat maksimal. Sebuah pentas yang mengundang penonton melemparkan "saweran"nya tanpa henti. (A-146/A-147)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
 Tari Topeng orang
Tari topeng adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.

Seperti yang saya sebutkan diatas, masing-masing warna topeng yang dikenakan mewakili karakter tokoh yang dimainkan, sebut saja misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (tempramental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari sendiri adalah biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng.

Jika anda berminat untuk menyaksikan tarian yang dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe ini, silahkan datang saja ke Cirebon. Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan, hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya.
Source: informasicirebon.blogspot.com
Sendratari Ramayana Masuk Rekor Dunia
MUKHIJAB/"PRLM"PENTAS Sendratari Ramayana episode “Api Suci” masuk rekor dunia.*

YOGYAKARTA, (PRLM).- Sendratari Ramayana episode “Api Suci” yang melibatkan 260 penari dan pemusik (pengrawit) tercatat sebagai gelaran seni terbanyak melibatkan seniman. Sendratari yang digelar di Panggung Ramayana Prambanan, Yogyakarta, Senin (15/10) malam pun, masuk Guinees World of Records kategori pentas seni Ramayana yang melibatkan penari terbanyak.

Episode ‘Api Suci’ berdurasi 25 menit, menggambarkan pergumulan konflik percintaan antara Rama dan Dewi Sita. Keduanya telah berpisah. Sita bermaksud menjalin ulang jalinan cinta dengan Rama. Untuk menguji ketulusan dan kesucian Sita, Rama menjatuhkan syarat agar Sita bersedia dibakar. Jika sekujur tubuhnya tak terbakar, itu tanda Sita masih suci dan bisa Rama bisa menerima kembali cintanya. Terbersit niat jelek dari Rama, karena itu Dewa Api menyelamatkan Sita sekaligus membuktikan Sita tak hangus dibakar api yang berarti dia masih suci.

Para penari yang terlibat mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Peran mereka dideskripsikan dalam beberapa elemen, yaitu 12 penari utama, 82 penari putri, 9 penari sesaji, 17 penari raseksi, 32 penari parkan Sita, 70 penari api, 60 penari wanara, 40 penari rasekso (raksasa).

Para penari merupakan pemain tetap yang biasa pentas di tempat tersebut dan sebagian gabungan dari Fakultas Ilmu Budaya UGM. Sutradara, Penari dan Pembina Sendratari Ramayana Prof. Dr. Timbul Haryono menyatakan penghargaan Guiness World Records memompa semangat para seniman maupun manajemen pentas untuk melestarikan sendratari ini. Selain itu, penghargaan ini menjadi suntikan semangat bagi penari muda yang menjadi tulang punggung sendratari.

Direktur Prodi Seni Pertunjukan Sekolah Pascasarjana UGM tersebut menyatakan para penari merasa jerih oayahnya tak sia-sia. Rasa letihnya berlatih selama dua bulan terbayar oleh pengakuan dari badan dunia tersebut.

Pentas sendratari tersebut juga menandai sukses pentas tari di panggung Ramayana Prambanan yang dirintis sejak 1961 dan masih aktif hingga saat ini. Konsistensi pentas dan penjagaan nilai-nilai sendratari tersebut diakui oleh Perwakilan Guinness World Records Lucia Sini Gagliesi saat menyerahkan penghargaan kepada Diretur Utama PT. TWC Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Purnomo Siswoprasetjo. (A-84/A-147)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
Sasando diusulkan dapat penghargaan UNESCO
Alat musik tradisional, Sasando. (FOTO ANTARA/GreenLee)
Kupang (ANTARA News ) - Alat musik tradisional, sasando, berasal dari Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, diusulkan mendapat penghargaan konservasi budaya dari badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (UNESCO).

"Saat ini sedang dalam proses dan diharapkan segera rampung terutama pemenuhan dan kriteria agar layak masuk dalam kategori UNESCO, sehinggga dapat meraih penghargaan tersebut," kata Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Faried Moertolo di Kupang, Selasa.

Faried di Kupang dalam rangka rapat koordinasi persiapan festival wisata perbatasan Timor Leste Indonesia (Timoresia) di Atambua pada akhir Oktober 2012.

Ia mengatakan, kegiatan itu juga akan dimatangkan bersama pemerintah daerah terkait dan lembaga berkompeten lainnya sehingga usulan Sasando dapat penghargaan UNESCO terwujud.

Ia mengatakan, sasando yang instrumen musik petik itu berasal dari Pulau Rote.

Saat ini, alat musik tersebut telah menjadi ikon nasional, bahkan dunia, selain Komodo dan Kelimutu di NTT, sehingga wajar kalau mendapat penghargaan dari badan PBB itu.

Selain ikon nasional dan dunia, pendaftaran alat musik yang bentuknya mirip dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola, dan kecapi itu juga untuk menghindari klaim atau penjiplakan model dan bentuk musik seperti yang terjadi untuk beberapa alat dan jenis lainnya kebudayaan Indonesia.

"Mari kita mencegah hal-hal itu dengan mendukung usulan alat musik sasando didaftarkan dan mendapatkan penghargaan dari UNESCO dengan berbagai cara, sebagai bukti cinta akan budaya sendiri," katanya.

(ANT-084)

Editor: Aditia Maruli
Source: www.antaranews.com
Perlawanan Santri Buntet dan Sejarah Lahirnya Kesenian Rudat
oleh: Kiki Rizki Noviandi

Dominasi penjajah Belanda atas lingkungan kraton-kraton di Jawa, membuat para sultan terdesak dalam menghadapi aturan yang dipaksakan Belanda. Banyak dari lingkungan keraton yang keluar untuk bergabung dengan laskar untuk menyusun kekuatan mengusir penjajah. Hal inipun berlaku bagi Kesultanan Kasepuhan dan Kanoma di Cirebon.

Di antara para bangsawan yang keluar dari lingkungan kraton adalah Pangeran Muhammad Khaeruddin putra Kraton Kanoman dan Pangeran Muhammad Asyrofuddin dari putra Kraton Kasepuhan. Beliau berbagi tugas mendatangi pondok-pondok pesantren mempersiapkan kekuatan yang terdiri dari beberapa santri. Ilmu dan seni bela diri pencak silat menjadi pelajaran yang digalakkan dan sangat intensif pada saat itu. Tekad untuk mengusir penjajah di kalangan mereka tertanam kuat dan dikaitkan dengan doktrin jihad pesantren. Demi keamanan perjuangan yang mereka cita-citakan, mereka membungkus kegiatan ini dengan Kesenian Rudat.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, pihak Belanda kemudian mengepung basis perjuangan Pangeran Muhammad Khaeruddin (Pangeran Raja Kraton Kanoman) di Pondok Pesantren Buntet yang pada saat itu sedang bersama gurunya, Mbah Kyai Muqoyim. Pertempuran yang tidak seimbangpun terjadi, Belanda dengan persenjataan modern membantai para santri yang mengandalkan beladiri silat tangan kosong. Pesantren dibakar oleh Belanda. Mereka berdua akhirnya meloloskan diri ke daerah Pesawahan Mandirancan, Kuningan. Para penjajah kaget karena tidak menemukan orang yang mereka cari. Di Pesawahan, Belanda kembali mengepung mereka, dan pada saat itulah Pangeran Muhammad berhasil ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke penjara Victoria di Ambon. Sementara Mbah Kyai Muqoyim berhasil lolos dan melarikan diri hingga sampai ke Malang, Jawa Timur.

Mendengar perjuangan mereka yang berada di Cirebon dihabisi Belanda, Pangeran Muhammad Asyrofuddin (Pangeran Raja Kasepuhan) yang pada saat itu sedang berada di Conggeang Sumedang, akhirnya meneruskan perjuangan dengan mendirikan Pesantren Asyrofuddin. Di pesantren Sumedang inilah Pangeran Muhammad Asyrofuddin menggodok para kader yang belum dikenali wajah perjuangannya oleh Belanda, sehingga mereka menjadi orang yang militan dan sangat ditakuti Belanda.

Di antara para penerus perjuangan dengan kaderisasi pencak silat di pesantren melalui Seni Rudat, adalah Bagus Arsitem, Bagus Serit, dan Bagus Rangin. Ketiga nama ini adalah pentolan kader-kader binaan dari para pendekar silat dan Seni Rudat pendahulu, yang kemudian menjadi pemimpin pemberontakan Cirebon pada tahun 1818 M. (Sumber: Catatan - Gusman Natawidjaja *)
Source: www.wikimu.com
Penulis : Gregorius Magnus Finesso
Kuda Lumping Seni Adiluhung
Kompas/Raditya Mahendra Yasa
Grup jathilan Krido Turanggo mementaskan jathilan sebagai bentuk keprihatinan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, di Kota Semarang, Rabu (12/9/2012).

KEBUMEN, KOMPAS.com- Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih menegaskan, kesenian tradisional tidak terkecuali kuda lumping atau jathilan atau juga banyak disebut jaran kepang, merupakan warisan budaya bangsa yang bersifat adiluhung. Pegiat seni didukung pemerintah dan masyarakat berkewajiban melestarikannya.

Hal itu disampaikan Rustriningsih atau akrab disapa Mbak Rustri kala hadir dalam silaturahmi keluarga besar Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) bersama pengurus organisasi seni dan budaya tradisional Kabupaten Kebumen di rumah sesepuh Pepadi, R Suman Sri Husodo, di Desa Jatiluhur, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Rabu (12/9/2012) malam.

"Kuda lumping adalah seni tradisional yang harus dilestarikan. Tak hanya dari aspek budaya, namun juga dari sisi penampilan karena terkadang kostum yang dipakai kurang mendapat perhatian. Ini yang mungkin harus diperbaiki," jelasnya.

Rustri menceritakan, dia pernah berkunjung ke suatu daerah di Jateng dan dia disuguhi atraksi seni kuda lumping yang menyedot banyak sekali penonton. Sayangnya, para pemain kuda lumping tadi hanya memakai kostum apa adanya. Bahkan ada yang sudah sobek-sobek.

Namun, saat memberi sambutan dalam acara tadi, Rustriningsih mengaku tidak mau menyinggung penampilan aksi kuda lumping tersebut, apalagi marah. "Saya memilih, selesai acara, berkonsultasi dengan seniman setempat bagaimana agar kelompok kuda lumping tadi bisa lebih menarik," ujar Rustri.

Polemik mengenai kuda lumping mengemuka setelah Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengatakan bahwa kesenian kuda lumping adalah kesenian yang paling jelek se-dunia. Pernyataan tersebut dilontarkan Bibit saat pembukaan The 14th Merapi and Borobudur Senior's Amateur Golf Tournament Competing The Hamengku Buwono X Cup di Borobudur International Golf and Country Club, Kota Magelang, Minggu (9/9) malam.

Saat itu Bibit dalam sambutannya menyebut jathilan sebagai "kesenian terjelek di dunia, yang tidak pantas ditampilkan di acara berskala internasional."

Editor :Marcus Suprihadi
Source: regional.kompas.com
Menelisik Beragam Nilai Kesenian Jathilan
SENI TRADISI: Kelompok kesenian tradisional jathilan tampil di kampus SMPN 3 Sawangan, hari ini. Seni Jathilan dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. (suaramerdeka.com/MH Habib Shaleh)

MAGELANG, suaramerdeka.com - SMPN 3 Sawangan Kabupaten Magelang ikut melestarikan berbagai kesenian tradisional khas Magelang. Hal ini sebagai bentuk dukungan pada upaya pelestarian seni dan budaya rakyat.

Kepala Sekolah SMPN 3 Sawangan, Cipto Jati Kusumo S.Pd mengatakan, bentuk pelestarian tersebut dilakukan dengan cara membuka ekstrakurikuler kesenian daerah. Ekstrakurikuler tersebut di antaranya kesenian jathilan atau jarang kepang, jalantur, tari buto-buto, tari gambyong, reog ponorogo, karawitan, dan topeng ireng.

Adapun untuk seni modern, sekolah yang berada di antara lereng Gunung Merbabu dan lereng Merapi ini juga mengembangkan tari kreasi baru dan cheers leader. "Sekolah punya peran penting dalam melestarikan seni tradisi, karena itu kamu membuka ekstrakurikuler," kata Cipto Jati Kusumo, hari ini (13/9).

Menurut dia kesenian tradisional memiliki nilai-nilai sejarah dan filosofi yang sangat tinggi. Kesenian tersebut bukan sekedar olah gerak namun mengandung nilai-nilai, edukasi, dan pesan perjuangan.

Dia menjelaskan bahwa minat warga Kabupaten Magelang terutama yang tinggal di pedesaan dan pegunungan memiliki minat yang tinggi terhadap kesenian. Hampir di setiap desa memiliki berbagai macam seni tradisi mulai jathilan, dayakan, kubro siswo, campur, angguk, dan lainnya.

Atas dasar ini, sejumlah sekolah menyediakan kegiatan di luar akademik yang menarik minat siswa. "Selain bidang akademik kami memfasilitasi minat terhadap kesenian. Siswa tertarik dengan kegiatan ekstra kami sehingga memutuskan mendaftar ke sini," kata Cipto di sela- sela lomba dalam rangka peringatan HUT SMPN 3 Sawangan, baru-baru ini.
( MH Habib Shaleh / CN32 / JBSM )
Source: www.suaramerdeka.com
Oleh : Ary
Tarian Caci
Tari caci
Foto : Ist
Labuan Bajo tak hanya terkenal dengan wisata alamnya yang menawan.

Namun selain terkenal akan beragam tempat wisatanya, Labuan Bajo sebagai pintu masuk wisatawan untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo ternyata memiliki beragam keunikan budaya, salah satunya adalah pertunjukan Tarian Caci.

Tarian Caci awal mulanya dimainkan oleh para pejuang perang untuk merayakan dan mengenang perang.

Dalam budaya Manggarai, tarian caci menjadi simbol pertobatan manusia dalam hidup. Nama Caci sendiri bersal dari dua kata yaitu "Ca", yang berarti satu, dan "Ci" artinya uji. Jadi, Caci bermakna ujian satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang benar dan salah.

Tidak semua orang Manggarai layak menjadi peserta Caci, selain harus pria, persyaratan lain adalah harus mahir memukul lawan, terampil menangkis serangan, luwes menari, merdu menyanyikan lagu daerah, dan berbadan atletis.

Dalam pelaksanaan pertunjukan tarian ini, didahulukan dengan tarian Danding atau biasa disebut Tandak Manggarai.

Tarian ini dimainkan oleh perempuan dan laki-laki yang membentuk lingkaran. Tarian pembuka ini dimaksudkan untuk memompakan semangat para pemain Caci saat bertanding.

Pertunjukan Tarian Caci terbagi atas dua kelompok, setiap kelompok terdiri dari delapan pemuda, masing-masing mendapatkan kesempatan bertarung menghadapi lawan. Sambil menari, pemain Caci menyanyikan lagu daerah untuk menantang lawannya.

Dalam pertunjukan Tarian Caci, masing-masing kelompok akan bergantian untuk bertahan dan menyerang. Penari dengan menggunakan cambuk berfungsi sebagai penyerang dan penari dengan tameng hanya berfungsi untuk bertahan. Ketika teriakan ini berlangsung diiringi oleh alunan musik khas manggarai barat.

Pada dasarnya, Tarian Caci dimainkan sebagai wujud rasa syukur pada saat musim panen tiba, Ritual Tahun Baru (Penti), menyambut tamu penting, maupun upacara adat besar lainnya.

Dewasa ini tarian Caci bagi orang Manggarai dipentaskan untuk memeriahkan acara-acara khusus baik yang bersifat adat maupun tidak, seperti syukuran hasil panen, pentahbisan imam, atau penerimaan tamu adat maupun kenegaraan.

Pertunjukan Tarian Caci dapat dinikmati di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeling, Manggarai Barat. Kampung ini dapat ditempuh selama 1 jam perjalanan darat dari Labuan Bajo.
Source: travel.ghiboo.com
ANGIN laut terus berembus dengan kencang menerbangkan butiran pasir halus ke atas panggung yang kosong. Sementara di atas panggung tidak terlihat satu pun alat musik tradisional atau waditra. Hanya kerlap-kerlip lampu yang menyinari.

Semakin malam embusan angin laut semakin kencang. Sejumlah penonton pun mulai merasa kedinginan. Namun mereka mencoba bertahan untuk bisa menyaksikan evaluasi pewasiran seni terbang sejak karuhun Kampung Dukuh, di Pantai Santolo, Cikelet, Kabupaten Garut.

Setelah beberapa saat tertunda, pimpinan warga Kampung Dukuh, Yayan Hermawan, mengumumkan proses pewarisan seni terbang sejak karuhun Kampung Dukuh. Diawali dengan jampi-jampi dan doa-doa, ritual pun dilakukan walaupun tanpa ada pembakaran kemenyan dan dupa.

Singkat namun penuh makna, ketika Bah Ason dan Bah Ayin menyerahkan atau mewariskan seni terbang sejak kepada generasi keempat, yakni Yayan Hermawan. Tanpa menunggu lama, usai menerima warisan, Yayan pun mulai ngahaleuang lagu yang berisi tentang kisah berdirinya Kampung Dukuh. Diiringi dua buah terbang dan satu dog-dog (kendang kecil) yang sudah berusia tua, Yayan membawakan lagu dengan penuh penjiwaan. Sementara salah seorang tetua Kampung Dukuh ngengklak dengan gaya yang khas mengikuti irama terbang yang dimainkan tiga orang pewaris terbang sejak.

Mayoritas lagu-lagu yang dinyanyikan berupa puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw serta doa kepada Allah swt. Tak heran jika pemain terbang sejak ini tidak ada satu pun perempuan. Selain itu mereka harus bersuci terlebih dahulu. Penampilannya sangat sederhana. Para pemain hanya mengenakan kampret berwarna hitam dan bagian kepala dililit iket kain batik.

Walaupun sederhana, penampilan seni terbang sejak mengundang perhatian dan apresiasi masyarakat. Terlebih dengan tampilnya sesepuh Kampung Dukuh, Bah Yayan yang melantunkan puji-pujian kepada Allah diiringi pukulan dog-dog dan terbang atau rebana besar. Suaranya yang sesekali melengking dan parau, ternyata tidak menyurutkan masyarakat untuk lebih dekat menyaksikan pementasan seni terbang sejak. Kidung puji-pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad saw mengingatkan para penonton akan dirinya sendiri maupun orang lain. Pasalnya, sekalipun bersuara agak fals, tetapi isi dari kidung puji-pujian itu begitu menyentuh hati para penonton dan masyarakat yang memenuhi pantai wisata Santolo Cikelet, Kab. Garut, Selasa (28/8) lalu.

"Memang kalau yang baru melihat merasa pertunjukan seperti hiburan. Tapi kalau ditelaah lebih jauh syair-syair yang dibawakan berupa pujian, kita akan merasakan ketenangan," ujar Toto Amsar, S.Sen., M.Hum., salah seorang dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung yang tengah mendokumentasikan pementasan seni terbang sejak.

Konon menurut Yayan, seni terbang sejak ini sudah hidup dan berkembang di Kampung Dukuh sejak abad ke-17. Dalam perkembangannya, seni terbang sejak karuhun kurang begitu mendapat perhatian dari masyarakat di luar Kampung Dukuh. Sehingga boleh jadi kesenian ini hanya berkembang di wilayah Kampung Dukuh saja.

Memasuki awal abad ke-19, seni karuhun Kampung Dukuh ini, mendapat perhatian dan dikembangkan oleh Aki Sanukri menjadi sebuah seni hiburan rakyat, kesenian terbang sejak ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Tidak hanya dikenal oleh masyarakat Kampung Dukuh saja, kesenian ini ternyata dikenal pula di hampir seluruh wilayah Kabupaten Garut.

Yayan menyebutkan, awalnya seni terbang sejak hanya dilakukan untuk melakukan puji-pujian dan doa-doa kepada Yang Mahakuasa serta kepada Nabi Muhammad saw. Namun dalam perkembangannya, seni terbang sejak banyak mengalami perubahan, terutama dalam pementasannya. "Seni terbang sejak kini sering dijadikan seni untuk menghibur anak sunatan. Pementasannya pun bisa berlangsung semalam suntuk, untuk menghibur masyarakat dengan lagu yang berisi puji-pujian dan salawatan," ujarnya.

Baru menyaksikan

Biasanya, terbang sejak dimainkan setiap syukuran khitanan, pernikahan, dan lainnya dan selalu diakhiri dengan pertunjukan seni debus. Namun kali ini, pementasan seni terbang sejak tidak menunggu hari raya atau hajatan khitanan maupun pernikahan. Tetapi dimainkan di objek wisata Pantai Santolo Kabupaten Garut untuk menyampaikan nilai-nilai kebudayaan masyarakat adat kepada masyarakat di luar masyarakat adat. Pementasan terbang sejak ini merupakan evaluasi dari hasil pewarisann seni terbang sejak kepada para pewarisnya. Selain di Pantai Santolo, seni terbang sejak karuhun ini dipentaskan pula di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Sabtu (1/9).

Pementasan seni terbang sejak di Pantai Santolo maupun di Taman Budaya Jabar merupakan yang pertama kalinya. Ini terbukti di mana sebagian besar penonton dan masyarakat di dua wialayah ini mengaku belum pernah menyaksikan pementasan seni terbang sejak. Mereka mengaku mendapat pelajaran dan pengetahuan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam seni tradisional masyarakat adat.

Bukan hanya nilai-nilai yang diperoleh masyarakat. mereka pun mendapat hiburan segar yang langka yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Pasalnya, para pewaris seni terbang sejak ini pun menampilkan seni debus yang merupakan seni berbalut magis. Ini terlihat ketika salah satu dari pemain langsung tak sadarkan diri mengupas buah kepala dengan mulutnya, setelah itu dipecahkan dengan kepalanya untuk diminum airnya. Usai melakukan aksi menghebohkan, si pemain langsung loncat dari panggung menuju ke arah penonton sambil mengeluarkan jurus-jurus pamacan. Namun kesigapan para tetua Kampung Adat aksi nekat si pemain itu bisa diredakan.

Aksi lainnya, bagaimana si tetua Kampung Dukuh mengundang sejumlah penonton mencoba mengangkat sebilah bambu yang telah diberi jampi-jampi sehingga terasa berat. Namun bilah bambu tersebut sangat sulit diangkat walaupun enam orang dewasa mencoba mengangkat dan menahannya, tetap saja mereka kewalahan. Di bagian akhir masyarakat disuguhi aksi yang lebih mengerikan. Bah Yayan tanpa ragu dan takut, menggesek-gesekkan golok tajam ke sekujur tubuhnya. Bahkan golok itu sengaja dipasang di tanah terhunus ke atas dan Bah Yayan dengan tenang menekan-nekan perutnya ke bagian ujung golok. Namun tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang terluka maupun tertusuk golok. Aksi Bah Yayan ini mengundang rasa ngeri para penonton dan masyarakat. Bahkan ada sebagian penonton yang tidak mau menyaksikan aksi debus tersebut, namun tangannya tetap memegang kamera maupun HP untuk merekam seni terbang sejak.

Menurut Yayan, semua itu bisa dilakukan karena niat serta bantuan dari Allah swt. "Karena itu, setiap kali melakukan perbuatan harus selalu diawali dengan basmallah untuk meminta bantuan-Nya dan perlindungan-Nya," ujar Yayan

Kampung Dukuh

Kampung Dukuh termasuk dalam kawasan Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet. Jarak kampung dukuh dari Desa Cijambekurang lebih 1,5 km, sedangkan dari pusat kota kurang lebih 101 km. Untuk mencapai lokasi ini bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau juga dengan kendaraan umum sampai Kecamatan Cikelet, dilanjutkan dengan jasa angkutan ojek sampai lokasi. Luas kampung Dukuh kurang lebih 1,5 ha, terdiri atas 3 bagian atau daerah, yaitu Dukuh Dalam, Dukuh Luar, dan Makam Karomah. Kampung Dukuh merupakan salah satu perkampungan tradisional (kampung adat) yang masih menganut kepercayaan nenek moyang, masyarakat masih mematuhi kasauran karuhun (tabu/nasihat leluhur)

Keunikannya adalah keseragaman struktur dan bentuk arsitektur bangunan permukiman masyarakat yang terdiri atas beberapa puluh rumah yang tersusun pada kemiringan tanah yang bertingkat. Setiap tingkatan terdapat sederetan rumah yang membujur dari barat ke timur. Upacara Moros salah satu manisfestasi masyarakat Kampung Dukuh yaitu memberikan hasil pertanian kepada pemerintah menjelang Idulfitri dan Iduladha. Ciri khas lainnya tidak terpengaruh/tergoyahkan oleh kemajuan zaman, seolah-olah tidak mengenal perkembangan ilmu dan teknologi.

Luas keseluruhan Kampung Dukuh seluas 10 hektare yang tediri dari 7 hektare bagian dari Kampung Dukuh Luar, 1 hektare bagian dari Kampung Dukuh Dalam, dan sisanya merupakan lahan kosong atau lahan produksi. Di dalam Kampung Dukuh juga terdapat area yang disebut dengan wilayah Karomah yang merupakan tempat di mana Makam Syekh Abdul Jalil. Di dalam kawasan Kampung Dukuh terdapat 42 rumah dan bangunan masjid. Dengan 40 kepala keluarga serta jumlah penduduk 172 orang untuk Kampung Dukuh Dalam dan 70 kepala keluarga untuk Kampung Dukuh Luar. Mata pencaharian utama adalah bertani, beternak ayam, bebek, kambing, domba, kerbau, memelihara ikan, dan usaha penggilingan padi.

Pola budaya juga berpengaruh pada aspek nonfisik seperti ritual budaya, antara lain:

-Ngahaturan tuang merupakan kegiatan yang dilakukan masyarakat Kampung Dukuh atau pengunjung yang berasal dari luar apabila memiliki keinginan-keinginan tertentu seperti kelancaran dalam usaha, perkawinan, jodoh, dengan memberikan bahan makanan seperti garam, kelapa, telur ayam, kambing atau lainnya sesuai kemampuan.

-Nyanggakeun merupakan suatu kegiatan penyerahan sebagian hasil pertanian kepada kuncen untuk diberkahi. Masyarakat tidak diperbolehkan memakan hasil panennya sebelum melakukan kegiatan nyanggakeun.

-Tilu waktos merupakan ritual yang dilakukan oleh kuncen yaitu dengan membawa makanan ke dalam Bumi Alit atau Bumi Lebet untuk tawasul. Kuncen membawa sebagian makanan ke Bumi Allit lalu berdoa. Biasa dilakukan pada hari raya 1 Syawal, 10 Rayagung, 12 Maulud, 10 Muharam.

-Manuja adalah penyerahan bahan makanan dari hasil bumi kepada kuncen untuk diberkati pada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha untuk maksud perayaan.

-Moros merupakan kebiasaan untuk menyerahkan hasil-hasil bumi yang dimiliki kepada aparat pemerintah seperti lurah dan camat.

-Cebor opat puluh adalah mandi dengan empat puluh kali siraman dengan air dari pancuran dan dicampur dengan air khusus yang telah diberi doa-doa pada jamban umum.

-Jaroh merupakan siuatu bentuk aktivitas berziarah ke makam Syekh Abdul Jalil. Tetapi sebelumnya harus melakukan mandi cebor opat puluh dan mengambil air wudu serta menanggalkan semua perhiasan serta menggunakan pakaian yang tidak bercorak.

-Sawalatan dilakukan pada hari Jumat di rumah kuncen. Shalawatan Karmilah sejumlah 4.444 yang dihitung dengan menggunakan batu.

-Sebelasan dilakukan setiap tanggal 11 dalam perhitungan bulan Islam dengan membaca Marekah.

-Terbang gembrung merupakan kegiatan yang dilakukan pada tanggal 12 Maulud yang dilakukan para orangtua Kampung Dukuh.

-Terbang sejak merupakan suatu pertunjukan pada saat perayaan seperti khitanan dan pernikahan. Pertunjukan terbang sejak ini merupakan pertunjukan debus.
(kiki kurnia/"GM")**
Source: www.klik-galamedia.com
Mapag Hujan Ungkapan Rasa Syukur Kemurahan Alam
RETNO HY/"PRLM"NGEYONG pare untuk bibit sebagai bentuk suka cita akan datangnya musim tanam karena hujan masih turun pada tradisi Ketuk Tilu Mapag Hujan di Kamp. Tanjung, Ds. Sirap, Kec. Tanjungsian, Kab. Subang.*

SUBANG, (PRLM).- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) melaksanakan Program Pewarisan Seni Tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan. Kesenian tradisional yang hanya ada dan dilaksanakan masyarakat Desa Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang memiliki nilai filosofi kehidupan hubungan antara manusia dan alam.

“Di sejumlah daerah memang ada tradisi menyambut musim hujan sebagai ungkapan rasa syukur turunnya hujan pertanda musim tanam padi dimulai. Nilai filosofi yang terkandung lainnya adalah bahwa hujan memberikan penghidupan bukan hanya pada manusia di muka bumi ini tetapi juga pada tumbuh-tumbuhan,” ujar Kepala Seksi Pengembangan Seni BPTB Jabar, Dra. Siti Hapiatun, mewakili Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.Si., disela-sela pelaksanaan Program Pewarisan Seni Tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan di Kamp. Tanjung, Ds. Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang, Sabtu (30/6/12).

Pelaksanaan Program Pewarisan Seni Tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan sudah dilaksanakan sejak akhir awal bulan Mei lalu dan rencananya pada Selasa (3/7/12) akan dipegelarkan di Kamp. Tanjung, Ds. Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang dan pada Sabtu (7/7/12) dipegelarkan di Taman Budaya.

“Sebenarnya tradisi Ketuk Tilu Mapag Hujan dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember atau setiap musim hujan, tapi sekarang ini musim sulit diprediksi dan hingga saat ini dibeberapa tempat masih turun dan di sambut dengan suka cita petani,” ujar Siti Hapiatun. (A-87/A-88)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
Pewarisan Bukan Sekadar Pelestarian Seni Tradisi
RETNO HY/"PRLM"KESENIAN Ketuk Tilu Mapag Hujan di Desa Sirap, Tanjungsiang, Subang mulai jarang tampil sebagai bukti kurang mendapat penghargaan masyarakat maupun pemerintah.*

SUBANG, (PRLM).- Pelaksanaan program pewarisan yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) bukan hanya sekedar penyelamatan seni budaya tradisi Sunda. Program dilaksanakan sebagai upaya pemberdayaan dan pengakuan pemerintah terhadap seniman dan budayawan tradisi di pelosok daerah yang selama ini merasa kurang terperhatikan.

“Ada anggapan kalau program (pewarisan) yang kami lakukan merupakan upaya penyelamatan dan pelestarian seni budaya tradisi, bahkan ada anggapan sekadar menggunakan dan menyerap anggaran. Padahal misi yang dilakukan program yang dilaksanakan sejak tahun 2005 ini juga bagian dari pemberdayaan serta bentuk pengakuan pemerintah kepada seniman dan budayawan tradisi di daerah,” ujar Kepala Seksi Pengembangan Seni BPTB Jabar, Dra. Siti Hapiatun, mewakili Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.Si., di sela-sela pelaksanaan Program Pewarisan Seni Tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan di Kamp. Tanjung, Ds. Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang, Sabtu (30/6/12).

Seperti halnya pewarisan kesenian Ketuk Tilu Mapag Hujan, menurut Siti Hapiatun, selama ini kesenian yang menghadirkan ronggeng (penari) kurang mendapat perhatian, baik pelaku seninya (seniman) maupun keseniannya.

“Selama ini hanya kesenian (Ketuk Tilu Mapag Hujan) hanya dilaksanakan masyarakat di Desa Sirap, Tanjungsiang saja, ini menunjukan kalau kesenian dan senimannya hanya dihargai oleh masyarakat setempat,” ujar Siti Hapiatun. (A-87/A-88)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
Sanggar Langgir Badong Lestarikan Musik Bambu
MUNADY/"PRLM"ANGGOTA Sanggar Langgir Badong seusai memainkan musik bambu di Balairung Soedirman Gedung Sapta Pesona Kemenparekraf Jalan Medan Merdeka Jakarta Pusat, Selasa (26/6).*

JAKARTA, (PRLM).- Sanggar tari adat Edas dari Tajur Bogor, Jawa Barat, yang bernama Langgir Badong berdiri sejak tahun 2009. Sanggar tari tersebut menampung anak yatim, pengangguran, dan mereka yang putus sekolah. Mereka terus berlatih dengan semangat melestarikan budaya nenek moyangnya.

Ketua Sanggar Seni Langgir Badong, Ade Swara mengatakan, walau dihadapkan pada keterbatasan, semua anggota Langgir Badong tetap menjalankan program pelestarian budaya lokal. Lama-kelamaan, masyarakat pun makin mengenal eksistensi Langgir Badong. Sejumlah pihak sering mengundang untuk meramaikan berbagai event.

Ade menjelaskan, Langgir Badong sendiri berasal dari bahasa Sunda. Langgir bisa diartikan kalajengking. Sedangkan badong berarti bambu yang digendong. Selama ini, anggota Sanggar Langgir Badong lebih sering memainkan musik dari bambu. Langgir Badong pun mendapat kesempatan tampil di Balairung Soedirman Gedung Sapta Pesona Kemenparekraf Jalan Medan Merdeka Jakarta Pusat, Selasa (26/6). "Kami berharap, perhatian terhadap Sanggar Langgir Badong bisa ditingkatkan," ujar Ade.(Mun/A-147)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
>>