• img
Paquita Widjaya, Badai Mengantarkannya Kepada Islam
Paquita Wijaya, itulah namaku. Sejak lahir aku memeluk agama Kristen Protestan. Kesempatan pernah mengenyam pendidikan Barat di Parsons School of Design New York, membuat cara berpikirku sangat rasional. Apalagi aku dibesarkan dalam kultur keluarga yang demokratis. Termasuk dalam menyikapi agama. Namun setelah rasioku ditundukkan oleh kenyataan bahwa kekuasaan Allah itu benar ada, aku pun bersyahadat dan masuk Islam.

Sudah lama aku tertarik dengan Islam. Kupikir, ini agama yang paling rasional. Perlahan, aku tertarik dengan ritual Islam yang dijalankan Tanteku, seorang muslimah yang sempat tinggal bersama keluargaku. Tapi hingga suatu saat aku suting di pulau Nias, Sumatera Utara, aku belum juga memeluk Islam.

Inilah awalnya.... Pulau Nias tiap hari diguyur hujan lebat, disertai angin dan badai. Dua bulan tim kami terperangkap di pulau itu. Tak ada pesawat yang berani terbang di tengah cuaca buruk. Padahal, aku harus segera ke Jakarta.

Kepada teman-teman aku bilang, "Kalau hujannya berhenti, aku akan sholat." Pernyataan itu muncul spontan. Eh, tiba-tiba saja hujan berhenti. Sungguh menakjubkan. Hujan sederas itu benar-benar berhenti sama sekali, dan cuaca langsung cerah.

Akupun bisa tiba di Jakarta tanpa kesulitan. Walaupun aku berulang-ulang ditunjukkan 'sesuatu' yang sebelumnya tidak kupercayai, toh aku tidak langsung masuk Islam. Rasioku berkata, "Bukankah semua itu terjadi karena kebetulan saja." Hari-hari pun berjalan lagi. Membuat musik, mengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta rutinitas lainnya. Namun sejak itu aku kerap memimpikan hal yang menurutku aneh. Misalnya aku mimpi bertemu, bersapa-sapa dengan ayah temanku yang sudah meninggal.

Meski aku mengenalnya dengan baik, menurutku ini agak aneh. Yang paling seram, aku mimpi dicekik berkali-kali, sampai sesak nafas tanpa bisa berbuat apa-apa. Gara-gara itu, tiga hari aku tak berani memicingkan mata.

Kutemui teman-temanku yang muslim. Kutanya mereka tentang cara ampuh mengusir mimpi buruk. "Surat apa yang kamu hafal?" tanya mereka, sambil menyebut beberapa nama surat dari Al-Quran. Kujawab, "Kecuali Al-Fatihah, tak ada yang lain." Lantas mereka menyuruhku membaca Al-Fatihah tujuh kali menjelang tidur. Sungguh, sejak saat itu aku tak mimpi aneh-aneh lagi.

Lain waktu aku bermimpi didatangi banyak orang. Mereka minta bantuanku. Ingin sekali aku menolong mereka tapi tidak berdaya. Tahu-tahu, dalam mimpi itu seperti ada yang menggerakkanku untuk sholat, hal yang sebelumnya tidak pernah kulakukan. Entah bagaimana, setelah sholat, aku jadi mempunyai kekuatan menolong orang-orang malang tadi. Dan ada kelegaan sesudahnya.

Akhirnya aku sampai pada suatu perasaan kekeringan hati. Dalam agamaku saat itu, aku tak merasakan suatu spirit. Katakanlah keimanan. Aku teringat saat-saat aku mengikuti tanteku berpuasa di bulan Ramadhan, saat itu aku masih seorang Kristen. Tapi pengalaman batin yang kurasakan sungguh istimewa.

Demikian pula pengalaman batin yang kurasakan saat pelan-pelan aku mulai lancar melafalkan Al Fatihah, karena kerap menyaksikan Tanteku menunaikan Sholat. Aku pun sampai pada kesimpulan yang bulat. Iman Islam inilah yang mengantarkanku pada sebuah kedamaian batin. Kesejukan iman Islam ini menyirami jiwaku.

Dua tahun kujalani proses perenungan itu, akhirnya aku mengikrarkan keIslamanku di sebuah masjid kecil di Jalan Kenari. Di hadapan seorang ustadz, kenalan seorang teman. Saat kuucapkan dua kalimat syahadat, aku tak mengalami kesulitan.

Selesai bersyahadat, hatiku lega. Hari-hari selanjutnya, semakin intens aku memperdalam Islam lewat buku karena aku tak sempat ke pengajian. Selain itu, aku juga belajar dari ibu pacarku yang memang seorang mubalighah di Solo.

Semula orang tuaku mengira aku masuk Islam lantaran pacarku, yang kebetulan seorang muslim. Demi menjaga niat keIslamanku, aku putus dengan pacarku ini. Hingga akhirnya aku menikah dengan seorang muslim lainnya. Ia pun rajin beribadah. Melihat dia sholat, rasanya hati ini senang tak terperi. Aku bangga memilih dan dipilih menjadi muslimah. [pesantren.net]
Source: mualaf.com
Anton Medan (Tan Hok Liang) : Menemukan Hidayah di Penjara
NAMA saya Tan Hok Liang, tapi biasa dipanggil Kok Lien. Saya dilahirkan di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 1 Oktober 1957, sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara. Pada umur 8 tahun saya masuk SD Tebing Tinggi. Ketika saya sedang senang senangnya menikmati dunia pendidikan, tiba-tiba dunia sakolah terpaksa saya tinggalkan karena ibu menyuruh saya berhenti sekolah. Jadi, saya hanya tujuh bulan menikmati bangku SD. Mulai saat itulah saya menjadi tulang punggung keluarga. Saya sadar, mungkin inilah garis hidup saya. Saya terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja membantu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Pada usia 12 tahun, saya mulai merantau dan menjadi anak jalanan di Terminal Tebing Tinggi. Sehari-hari saya menjadi calo, mencari penumpang bus. Suatu ketika, saya berhasil mencarikan banyak penumpang dari salah satu bus. Tapi entah mengapa, tidak seperti biasanya, saya tidak diberi upah.

Terbayang di mata saya wajah kedua orang tua, adik-adik, serta kakak saya yang senantiasa menunggu kiriman uang dari saya. Saya terlibat perang mulut dengan sopir bus tersebut. Tanpa sadar, saya ambil balok kayu dan saya pukulkan ke kepalanya. Akhirnya, saya berurusan dengan pihak yang berwajib. Di hadapan aparat kepolisian, saya tak mau mengaku bersalah. Saya menuntut hak saya yang tak diberikan oleh sopir bus itu.

Sebetulnya, saya tak ingin berurusan dengan pihak yang berwajib. Saya ingin hidup wajar-wajar saja. Tapi entah mengapa, kejadian di Terminal Tebing Tinggi itu terulang kembali di Terminal Medan. Dulu, selama di Terminal Tebing Tinggi, saya menjadi calo. Tapi, di Terminal Medan, saya beralih profesi menjadi pencuci bus.

Suatu ketika, tak saya sangka, tempat yang biasanya saya jadikan tempat menyimpan uang, ternyata robek. Uang saya pun ikut lenyap. Saya tahu siapa yang melakukan semua itu. Saya berusaha sabar untuk tak ribut dengannya. Saya peringatkan saja dia. Ternyata, mereka malah memukuli saya. Waktu itu saya berumur 13 tahun. Lawan saya orang yang sudah dewasa dan tinggi besar. Saya sakit hati, karena tak satu pun teman yang membantu saya. Tanpa pikir panjang, saya ambit parang bergerigi pembelah es yang tergeletak di antara kerumunan lalu saya bacok dia. Dia pun tewas. Lagi-lagi saya berurusan dengan polisi. Saat itu saya diganjar empat tahun hukuman di Penjara Jalan Tiang Listrik, Binjai. Masih saya ingat, ibu hanya menjenguk saya sekali saja.

Merantau ke Jakarta.

Setelah bebas dari penjara, saya pulang kampung. Tak pernah saya sangka, ternyata orang tua saya tak mau menerima saya kembali. Mereka malu mempunyai anak yang pernah masuk penjara. Hanya beberapa jam saya berada di rumah. Setelah itu, saya hengkang, mengembara ke Jakarta dengan menumpang KM Bogowonto.

Saya hanya mempunvai uang seribu rupiah. Tujuan utama saya ke Jakarta mencari alamat paman saya yang pernah menyayangi saga. Berbulan-bulan saga hidup menggelandang mencari alamat paman. Waktu itu alamat yang saya ingat hanyalah daerah Mangga Besar. Dengan susah payah, akhirnya saya temukan alamat paman. Sungguh tak saya sangka, paman yang dulu menyayangi saya, ternyata mengusir saya. Hilang sudah harapan saya untuk memperbaiki masa depan.

Tekad saya sudah bulat. Tak ada orang yang mau membantu saya untuk hidup secara wajar. Mulailah saya menjadi penjahat kecil-kecilan. Kejahatan pertama yang saya lakukan adalah menjambret tas dan perhiasan nenek-nenek yang akan melakukan sembahyang di klenteng.

Mulai saat itu saya telah berubah seratus persen. Keadaan mendorong saya untuk melakukan semua ini. Pelan-pelan dunia jambret saya tinggalkan. Saya beralih ke dunia rampok. Perdagangan obat-obat terlarang mulai saya rambah. Dan terakhir, saya beralih sebagai bandar judi. Saat-saat itulahsaya mengalami kejayaan. Masyarakat Jakarta menjuluki saya Si Anton Medan, penjahat kaliber kakap, penjahat kambuhan, yang hobinya keluar masuk penjara, dan lain-lain.

Proses mencari Tuhan

Tak terbilang berapa banyak LP (Lembaga Pemasyarakatan) dan rutan (rumah tahanan) yang sudah saya singgahi. Karena sudah terbiasa, saya tahu seluk-beluk rutan yang satu dengan rutan yang lain, baik itu sipirnya maupun fasilitas yang tersedia.

Di tembok penjara itulah saya sempat menemukan hidayah Tuhan. Ketika dilahirkan, saya memang beragama Budha. Kemudian saya berganti menjadi Kristen. Entah mengapa, tatkala bersentuhan dengan Islam, hati saya menjadi tenteram. Saya menemukan kesejukan di dalamnya.

Bayangkan, tujuh tahun saya mempelajari Islam. Pengembaraan saya mencari Tuhan, tak lepas dari peran teman-teman sesama tahanan. Misalnya, teman-teman yang terkena kasus Cicendo, dan sebagainya. Tanpa terasa, hukuman yang begitu panjang dapat saya lalui. Akhirnya saya menghirup udara segar kembali di tengah-tengah masyarakat. Tekad saya sudah bulat. Saya ingin berbuat kebaikan bagi sesama.

Masuk Islam

Tapi, kenyataannya ternyata berlainan. Begitu keluar dari penjara, saya dipaksa oleh aparat untuk membantu memberantas kejahatan. Terpaksa ini saga lakukan. Kalau tidak, saya bakal di 810-kan, alias didor. Dalam menjalankan tugas, saya selalu berhadapan dengan bandar-bandar judi kelas wahid. Sebutlah misalnya, Hong-lie atau Nyo Beng Seng. Akibat ulah Hong-lie, terpaksa saya bertindak keras kepadanya. Saya serahkan dia kepada pihak berwajib.

Dan akhirnya, saya menggantikan kedudukannya sebagai mafia judi. Sudah tak terhitung berapa banyak rumah-rurnah judi yang saya buka di Jakarta. Saya pun merambah dunia judi di luar negeri. Tapi, di situlah awal kejatuhan saya. Saya kalah judi bermiliar-miliar rupiah.

Ketidakberdayaan saya itulah akhimya yang membuat saya sadar. Mulailah saya hidup apa adanya. Saya tidak neko-neko lagi. Saya ingin mengabdikan hidup saya di tengah-tengah masyarakat. Untuk membuktikan kalau saya benar-benar bertobat, saya lalu masuk Islam dengan dituntun oleh KH. Zainuddin M.Z. Setelah itu, saya berganti nama menjadi Muhammad Ramdhan Effendi.

Kiprah saya untuk berbuat baik bukan hanya sebatas masuk Islam. Bersama-sama dengan K.H. Zainuddin M.Z., K.H. Nur Muhammad Iskandar S.Q., dan Pangdam Jaya (waktu itu) Mayjen A.M. Hendro Prijono, 10 Juni 1994, kami mendirikan Majels Taklim Atta'ibin.

Sengaja saya mendirikan majelis taklim ini untuk menampung dan membina para mantan napi (narapidana) dan tunakarya (pengangguran) untuk kembali ke jalan Yang benar. Alhamdulillah, usaha ini tak sia-sia. Pada tahun 1996, Majels Taklim Atta'ibin mempunyai status sebagai yayasan berbadan hukum yang disahkan oleh Notaris Darbi S.H. yang bernomor 273 tahun 1996.

Kini, keinginan saya hanya satu. Saya ingin mewujudkan pangabdian saya pada masyarakat lebih jauh lagi. Saya ingin mendirikan pondok pesantren. Di pondok inilah nantinya, saya harapkan para mantan napi dan tunakarya dapat terbina denganbaik. Entah kapan pondokpesantren harapan saya itu bisa terwujud. Saya hanya berusaha. Saya yakin nur Ilahi yang selama ini memayungi langkah saya akan membimbing saya mewujudkan impian-impian itu. (Maulana/Albaz) (dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ ).
Source: mualaf.com
Chicha Koeswoyo Tergugah mendengar suara azan dari TVRI
Nama Mirza Riadiani barangkali memang tidak dikenal. Tetapi nama penyanyi cilik yang mencuat di tahun 70-an lewat lagu "Helly" nama seekor anjing kecil, pasti semua orang sudah dapat menebaknya. Ya. siapa lagi kalau bukan Chicha Koeswoyo yang sekarang lebih dikenal sebagai wanita karier. Chicha sekarang memang Direktur PT Chicha Citrakarya yang bergerak di bidang Interior Design, Enterprise, Grafic Design, dan Landscape.

Yang jelas perbedaan antara Chicah cilik dan Chicha sekarang bukan pada penyanyi atau wanita karier; tetapi pada keyakinan imannya. Chicha hari ini adalah Chicha yang muslimah, yang hatinya telah terbimbing cahaya kebenaran Dinullah (Islam).

Perihal keislaman saya, beberapa majalah ibukota pernah mengakatnya. Itu terjadi tahun 1985. Singkatnya, saya tergugah mendengar suara azan dari TVRI studio pusat Jakarta.

Sebetulnya saya hampir tiap hari mendengar suara azan. Terutama pada saat saya melakukan olah raga jogging (lari pagi). Saat itu, saya tidak merasakan getaran apapun pada batin saya. Saya memperhatikannya sepintas lalu saja.

Tetapi, ketika saya sedang mempunyai masalah dengan papa saya, saya melakukan aksi protes dengan jalan mengurung diri di dalam kamar selama beberapa hari. Saya tidak mau sekolah. Saya tidak mau berbicara kepada siapapun. Saya tidak mau menemui siapapun. Pokoknya saya ngambek.

Pada saat saya mengurung diri itulah, saya menjadi lebih menghabiskan waktu menonton teve. Kurang lebih pulul 18.00 WIB. siara teve di hentikan sejenak untuk mengumandangkan azan magrib.

Biasanya setiap kali disiarkan azan magrib, pesawat teve langsung saya matikan. Tetapi pada saat itu saya betul-betul sedang malas, dan membiarkan saja siaran azan magrib kumandang sampai selesai. Begitulah sampai berlangsung dua hari.

Pada hari ketiga, saya mulai menikmati alunan azan tersebut. Apalagi ketika saya membaca teks terjemahannya di layar teve. Sungguh, selama ini saya telah lalai, tidak perhatikan betapa dalam arti dari panggilan azan tersebut.

Saya yang sedang bermasalah seperti diingatkan, bahwa ada satu cara untuk meraih kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat kelak, yaitu dengan shalat. Di sisi lain, suara azan yang mengalun syahdu, sanggup menggetarkan relung hati saya yang paling dalam. Hati saya yang resah, seperti di sirami kesejukan. Batin terasa damai dan tenteram.

Kebetulan meskipun beragama kristen, tetapi saya sekolah di SMA Yayasan Perguruan Islam Al-Azhar Kebayoran Baru. Sejak peristiwa itulah saya menjadi sering merenung dan memperhatikan teman-teman yang melaksanakan shalat di Masjid Agung Al-Azhar yang memang satu kompleks dengan sekolah saya.

Saya pun mulai sering berdiskusi dengan teman-teman sekelas, terutama dengan guru agam saya Bp Drs. Ajmain Kombeng. Beliau orang yang paling berjasa mengarahkan hidup dan keyakinan saya, sehingga akhirnya saya membulatkan tekat untuk memeluk agama Islam. Apalagi menurut silsilah, keluarga kami masih termasuk generasi kedelapan keturunan (trah) Sunan Muria.

Alhamdulillah, rupanya, masuk islamnya saya membawa berkah bagi keluarga saya dan keluarga besar Koeswoyo. Tahun 1986, saudara sepupu saya, Sari Yok Koeswoyo, mengikuti jejak saya ke jalan Allah. Bahkan di awal 1989, adik kandung saya, Hellen, telah berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat. Alhamdulillah, tidak ada masalah yang berarti dengan keluarga kami.

Dengan Islamnya Hellen, saya merasa mempunyai teman untuk berkompetisi mendalami ajaran Islam. Pada setiap Kamis sore, ba'da shalat ashar, kami berdua tekun mendalami Islam kepada seorang guru mengaji yang datang kerumah. Sekarang ini saya sedang tekun mempelajari Al-Qura'an. Meskipun saya akui masih rada-rada susah.

Dari hasil pengkajian saya terhadap Islam dan Al-Qur'an, saya berpendapat bahwa semua permasalah yang ada didunia ini, jawabannya ada di dalam Al-Qur'an. Sebagai orang yang baru merintis usaha, saya tentu pernah mengalami benturan-benturan bisnis. Jika kegagalan dikembalikan kepada takdir Allah, maka insya Allah akan ada hikmahnya. Menurut saya, manusia boleh saja merencanakan seribu satu planning, tetapi yang menentukan tetap yang di atas (Allah SWT).

Dakwah di Australia
Setalah tamat di SMU Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tahun 1987 saya melanjutkan kuliah di Stamford Colege, mengambil jurusan Managerial Principples. Selama satu tahun setengah, saya bermukim di Negeri Kanguru, Australia. Setelah itu, selama setahun saya bermukim di Singapura, masih di lembaga yang sama, Stamford College Singapore.

Selama di Australia, saya mempunyai pengalaman menarik. Misalnya, kalau saya ingin shalat berjamaah ke masjid maka saya harus ke daerah Lucinda di negara bagian Queensland. Jauhnya sama antara Jakarta-Puncak, sekitar 90 km.

Sewaktu saya shalat di apartemen, sahabat akrab saya orang Australia, memarihai saya. "Ngapain kamu menyembah-nyembah begitu," katanya bersungut sungut. Lalu saya jawab, "Sekarang saya jauh lebih tenang daripada tadi, dari pada 5-10 menit yang lalau. "Setelah itu, kami terlibat diskusi serius tentang perbedaan Islam dan Kristen.

Alhamdulilah, sejak saat itu kawan saya tampak serius mempelajari Islam. Meskipun sampai saat ini, saya tidak tahu lagi apakah ia sudah masuk Islam atau belum. Tapi buat saya sendiri, peristiwa itu memberikan kesan yang cukup dalam. Meskipun kecil, terapi terasa telah berbuat sesuatu yang berarti bagi diri saya dan agama saya, Islam.

Saya di lahirkan di Jakarta, 1 Mei 1968, putri sulung Nomo Koeswoyo, pencipta lagu terkenal sekaligus produser rekaman. Setelah selesai studi di Australia dan Singapura, saya melanjutkan di John Robert Power Jakarta, mengambil program Public Relation.

Semua hanya rahmat Allah. Sebagai probadi saya juga ingin sukses. Saya ingin juga mengabdi diri, supaya dapat menikmati kebahagian hidup. Soal materi bagi saya ternyata tidak ada apa-apanya. Toh, kita menghadap Allah hanya dengan kain kafan dan amal.

Chicha Koeswoyo Sedang 'Transit'
Jumat, 16 Agustus 2002 : Siapa yang tidak kenal Chicha Koeswoyo? Bagi mereka yang pada tahun 1980-an seusia murid TK atau SD, Chica adalah idola. Namanya, untuk masa kini, bisa disejajarkan dengan sederet penyanyi cilik yang sedang beken seperti Sherina, Tasya, dan Miesy.

Lagu-lagu Chica seperti Helly dan Senam Pagi menjadi 'nyanyian wajib' buat anak-anak saat itu. Nama bekennya itulah yang kemudian juga mengantarkannya sebagai pemain film. Minimal tiga judul film telah dibintanginya: Kartini, Chica, dan Break Dance. Sebuah terbitan untuk anak-anak bahkan memakai namanya. Di situ ia duduk sebagai pengasuh tanya jawab dengan sobat-sobat kecilnya.

Ya, itu dulu. Seiring dengan pertumbuhannya menjadi remaja dan kemudian seorang gadis cantik, ia justru menepi dari kehidupan glamor. Apalagi saat itu ia mulai merasakan nikmatnya menjalankan ajaran agama. Sejak itu secara pelan ia pun surut dari kehidupan selebritis.

Dan, ketika ia kemudian melanjutkan pendidikan di Australia dan lalu Singapura, nama putri sulung Nomo Koeswoyo, salah satu dedengkot Koes Bersaudara, ini pun seolah 'ditelan bumi'. Nama Chica tak lagi mewarnai lembaran dunia showbiz di tanah air.

Namun, menurut Mirza Riadiani Kesuma -- nama asli Chica Koeswoyo --, ia tak menyesali meninggalkan lingkungan dunia selebritis. Semua itu ia lakukan dengan kesadaran. Dan sejak pulang ke Indonesia, sosok Chica pun berubah total.

Kini ibu dua anak ini lebih sering tampak di forum-forum pengajian. Pengajian yang rutin didatangi adalah di tempat ibu mertua dan kakak ipar. ''Saya haus dan butuh informasi aktual tentang ajaran agama karena hidup memang harus berubah. Kalau tidak, kita akan jalan di tempat,'' kata mantan artis cilik ini.

Baginya, kehidupan dunia ini hanyalah terminal, dan ia mengaku sedang transit di terminal itu. ''Yang kekal itu nanti, di akhirat,'' tuturnya.

Namun, ia melanjutkan, untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik harus dilalui dengan kehidupan dunia yang baik pula. Kehidupan dunia yang tidak baik, katanya, akan menyesatkan manusia dari jalan lempang.

Menurut Chicha, hidup ini perlu keseimbangan. ''Memang kita berjuang untuk hidup, tapi ibadah juga jangan dilupakan. Apalagi hidup di kota besar hampir setiap orang berambisi akan materi. Karena itu, harus ada balance,'' tutur wanita yang ingin jadi entrepreneur ini.

Chicha merasa dunia ini sudah semakin tua dan seharusnya hal yang negatif dihindari. Ada kecemasan terhadap kehidupan di kota. Alangkah lebih baik, lanjut wanita yang mengaku sangat menikmati menjadi orang biasa ini, hidup diisi dengan hal yang positif daripada yang mubazir.

Agar hidup bisa sejahtera, ujarnya, tiap manusia harus berupaya hidup lurus, tidak saling menzalimi. ''Hal ini bisa diterapkan dalam keluarga dan tetangga dengan memahami cara berfikir mereka,'' kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Sebagai ibu rumah tangga, Chica menuturkan semua pedoman tentang hidup yang didapatkannya itu kini ingin juga ditularkan kepada keluarganya, khususnya kepada anak-anaknya. Ini, katanya, karena anak-anak akan meniru apa yang dilakukan orangtuanya. ''Orang tua adalah figur yang akurat bagi anak-anak,'' ujar mantan penyanyi cilik yang lincah melantunkan lagu 'heli, guk guk guk' itu.

Bila Chicha sedang shalat jamaah bersama suami, anak pertamanya yang masih berusia tiga tahun akan diam, dan terkadang mengikuti apa yang dilakukan kedua orang tuanya -- ikut berdoa, dzikir, dan menunggu saling cium tangan.

Mantan pelantun lagu anak-anak ini mengaku sering melakukan tafakur. Biasanya, sehabis shalat Isya dan setelah menidurkan kedua anaknya. ''Saya senang bertafakur di saat suasana hening,'' katanya.

Chica menyadari, apa yang dijalaninya kini belumlah sempurna sebagai seorang muslimat. Namun, katanya, ia selalu berupaya menuju ke sana. Sebagai misal, meski ia belum selalu memakai pakaian yang menutup seluruh aurat, tapi ia berupaya berpakaian sopan.

Sejak menikah, ujar wanita kelahiran Jakarta 1 Mei 1968, memakai baju ketat tidak cocok lagi. ''Rasanya tidak enak saja berpakaian seperti itu,'' tegas pengagum cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid ini.

Chicha mengatakan sangat mengsyukuri apa yang didapatkannya dalam hidup ini. Apalagi, katanya, Allah masih memberikan umur yang panjang sehingga ada kesempatan untuk berbuat amal kebaikan. Ia pun selalu berdoa agar anak-anak dan keluarganya dari hari ke hari diberi keselamatan. ''Bila ada apa-apa, saya akan pasrahkan semua kepada Allah,'' ujarnya.

Menurutnya, pada waktu-waktu tertentu ia selalu berintrospeksi mengenai kekurangan apa saja yang telah diperbuat hari ini. Bila ada kesalahan pada Allah ia akan minta ampun. Bila ada kesalahan kepada orang lain, ia juga akan minta maaf kaena manusia memang tidak luput dari kesalahan.

Menurut pemilik nama asli Mirza Riadiani Koeswoyo, karena manusia tidak mengetahui rencana Allah selanjutnya, maka dia berharap senantiasa diberi kesadaran penuh dalam menghadapi hidup ini. ''Jangan sampai tidak diberi kesabaran menghadapi cobaan hidup,'' ungkap Chicha yang mengaku sering ditawari manggung dan main sinetron.

Biasanya, lanjut putri pasangan Nomo Koeswoyo dan Francisca, bila doanya mendapat keridhoan Allah, esok harinya seperti ada jalan yang terbentang lebar. ''Saya akan tambah bersyukur,'' kata Chicha yang mengaku kehidupan sehari-harinya dijadikan inspirasi oleh Nomo Koeswoyo, ayahnya.

Kini, setelah melakukan umrah di tahun 1992, Chica berkeinginan untuk dapat melaksanakan kewajiban ibadah haji. Sayangnya, ketika niat dia dan suaminya sudah bulat, ada saja rintangannya. Kebetulan sekarang ini ia sedang mengandung anak ketiganya. ''Mudah-mudahan Allah memberikan jalan,'' doa pengelola Kedai Bunga ini. (Adhes/Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com

DATA PRIBADI
Nama: Mirza Riadiani Kesuma
Nama panggilan: Chicha Koeswoyo
Lahir: Jakarta, 1 Mei 1968
Suami: Asdi Indra Kesuma

Nama Anak :
- Andi Rahmat Aqil Kesuma (3 tahun)
- Andi Kinaya Putri (13 bulan)

Pendidikan:
- D3 Stamford College Australia
- Sekolah manajemen di Singapura

Nama orang tua:
Nomo Koeswoyo dan Francisca

Album:
- Helly (1975)
- Senam Pagi
- Chicha Natal Berbaris

Film:
- Kartini
- Chicha (1980-an)
- Break Dance (1985).
Source: mualaf.com

Natalie Sarah Hidayat Al Fatihah
Tahun 2001 saya pernah bermimpi membaca surat Al Fatihah dan bertemu dengan seorang kakek memakai jubah putih. Orang yang saya jumpai dalam mimpi itu berpesan bahwa seandainya ketakutan, sakit atau apapun saya disuruh membaca surat Al Fatihah. Saya sama sekali tidak tahu apa makna Al Fatihah walapun ketika SD saya sering mendengar teman-teman baca surat itu. saya tanya kepada teman maksud mimpi saya disuruh membaca Al Fatihah. Akhirnya saya diberi Alquran terjemahan dan saya baca artinya ternyata maknanya sangat mendalam. Saya tahu bahwa Al Fatihah hanya milik umat Islam.

Mimpi itu barangkali tidak begitu mengusik bintang sinetron Natalie Sarah, bila datang saat ini. Hanya saja, mimpi itu mengampiri saat ia berusia 18 tahun dan belum menjadi seorang Muslimah. Tak lama setelah mimpi itu, ia menjadi mualaf. Ketakutan bakal diusir dari keluarga, dijauhi teman-teman, dan saudara menghantuinya begitu ia mengikrarkan memeluk Islam Juli 2001.

Gadis berdarah Aceh-Sunda kelahiran 1 Desember 1983 ini sadar, keluarganya begitu fanatik memegang agamanya. Begitu juga keluarga besarnya. Sangat sulit bagi mereka untuk menerima jika salah satu anggota keluarganya menjalani keyakinan lain.

Tapi tekadnya sudah bulat. Ia pun memantapkan keyakinannya dalam pelukan Islam. ''Jauh sebelum saya mengucapkan dua kalimah syahadat untuk masuk Islam, sudah kepikiran nantinya bakal jadi urusan keluarga. Ternyata memang benar. Semua mualaf mengalamai hal seperti itu,'' ujarnya, di sela-sela shooting untuk acara Jelang Senja Ramadhan (JSR) yang dilakukan Jamaah Syamsu Rizal (JSR) di kediaman Fahmi Darmawansyah, Senin (3/10).

Sarah menemukan Islam di usia belia. Saat itu, rumah tangga orang tuanya di ambang perceraian. Tak ingin kehilangan sandaran, ia mencari pegangan hidup sendiri. Beruntung, ia bertemu sahabat yang benar. Ia kerap mengikuti sahabatnya mengaji di Pesantren Daarut Tauhid yang diasuh KH Abdullah Gymnastiar. Lama-lama, ia menemukan damai dalam Islam.

Islam yang dipejarinya, adalah Islam yang sejuk. Islam yang mengajarkan bagaimana menata hati. Hal itu bertolak belakang dengan pemahamannya sebelumnya tentang Islam. ''Karena selama ini saya mendengar bagaimana banyak ustadz ceramahnya hanya mendiskreditkan agama tertentu,'' akunya. Bahkan di hari pertama mengaji, ia sudah menitikkan air mata. ''Ketika itu ada segmen kembali kepada diri kita sendiri atau merenung, saya menangis di situ. Waktu pengajiannya malam setelah shalat Isya.''

Sarah pun ketagihan mengaji pada Aa Gym, walaupun saat itu ia belum menjadi Muslimah. Bahkan, saat temannya yang pertama kali mengajak mengaji mulai jarang datang, ia tetap bersemangat. Ia sengaja mengikuti pengajian di malam hari. ''Takut teman-teman lain yang tahu saya non-Muslim teriak, Sarah, elu ngapain bukan Muslim ada di sini?'' ujarnya. Setelah sangat yakin dengan Islam, ia pun memutuskan masuk Islam. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di Bandung saat masih duduk di bangku kelas tiga SMK, beberapa saat menjelang kelulusan. Karena alasan takut itu, ia pun bersyahadat secara sembunyi-sembunyi.

Hari-hari setelah menjadi Muslim dilaluinya dengan banyak cobaan. ''Komunitas bermain saya sedikit-demi sedikit berubah,'' ujarnya. Di sisi lain, ada ketakutan yang sangat akan sikap keluarganya. Lulus SMA, ia pindah ke Jakarta menemani ibunya, Nurmiaty, yang sudah bercerai dengan ayahnya. ''Akhirnya, di sana saya benar-benar seperti ayam kehilangan induk, karena nggak ada teman. Sementara sejumlah keluarga mama sering datang ke rumah dan mengajak pergi beribadat,'' ujarnya.

Sarah berusaha berkelit untuk tidak pergi dengan berbagai alasan; malas, ketiduran, dan sebagainya. ''Tapi, lama-lama keluarga saya bisa curiga, kenapa ini anak? Nanti bisa ketahuan.'' Lalu diatur lagi siasat setiap malam Minggu ia menginap di rumah teman. Sesekali, ia turut ke tempat ibadat agama keluarganya. Namun ia mengunci mulutnya sambil mengucapkan doanya sendiri pada Allah SWT. ''Teman ada yang menegur, 'Sar, kamu kok nggak nyanyi?' Saya bilang, 'Itu lagu baru, saya nggak hafal.' Dalam hati saya sibuk berzikir pada Allah.''

Ia pun selama beberapa tahun sembunyi-sembnyi melakukan ibadah. Pernah suatu hari tas miliknya diperiksa dan ternyata ada buku panduan shalat di dalamnya. Mengetahui hal ini, ia berujar, ''Buku itu milik teman yang ketinggalan dan saya bawa.'' Di kalangan teman-temannya, ia tetap mengaku sebagai pemeluk agama lamanya. Begitu pula ketika ia memasuki dunia sinetron. ''Semua kru menganggap saya Kristen. Tapi, ada beberapa teman yang membocorkan bahwa saya ini sudah masuk Islam tapi tidak mau mengaku.''

Ketika masuk waktu shalat, ia melaksanakan shalat sendirian secara sembunyi-sembunyi setelah pemain dan kru lain selesai shalat. Sejak 2001 sampai memasuki awal tahun 2003, ia beribadah secara sembunyi-sembunyi.

Tabir mulai terbuka pertengahan tahun 2003. Pamannya yang Muslim meninggal dunia. Sama seperti dia, sang paman juga menyembunyikan identitas kemuslimannya. Saat itu keluarga besarnya hampir menguburnya sebagai seorang Kristen, sampai ditemukan identitas yang menunjukkan kemuslimannya. Dari kejadian pamannya itu, Sarah seperti mendapat sindiran dari lingkungan keluarga. ''Makanya kalau agama itu harus jelas. Islam ya ngaku Islam, kalau Kristen ya Kristen. Kalau seperti kejadian ini serba tanggung jadi dikuburnya bingung,'' tandas salah seorang keluarga seakan menohok dirinya.

Namun lagi-lagi, ia tak punya nyali untuk mengaku telah menjadi Muslimah pada keluarganya. Ia hanya berpesan pada sahabatnya, ''Seandainya saya meninggal, tolong dikuburkan secara Islam. Itu wasiat lisan kepada teman karena soal umur siapa yang tahu.''Kini pertimbangannya bukan lagi takut diusir keluarganya. Secara ekonomi, ia sudah mapan. Ia hanya kasihan pada mamanya, yang pasti akan dihujat keluarga besarnya.

Ia menuturkan, tahun 2003 sebenarnya kabar keislamannya sudah tercium media infotainment. ''Mereka memberitakan Natalia Sarah telah menjadi seorang mualaf,'' ujar pemilik nama Natilia sarah, namanya sebelum menjadi Muslim. Untungnya jam tayangnya pagi hari, sehingga tak banyak orang-orang dekatnya yang tahu. Memasuki 2004 berita itu semakin santer. Keluarganya banyak yang tahu. Tapi mereka diam karena beranggapan nanti bakal balik lagi seperti artis yang lainnya.

Namun, ''Juni 2005 saya punya keinginan kuat berumrah. Mendengar kabar saya mau umrah, keluarga geger. Mereka pun datang ke rumah untuk menyidang saya,'' ujarnya. Keinginan itu berawal dari sibuknya dia hingga jatuh sakit dan tak berpuasa. Ia sempat pingsan sejenak dan tiba-tiba dia merasa tengah berada di tengah lautan manusia yang sedang berthawaf. Bahkan sampai tersadar, bibirnya masih melafalkan labaika Allahumma labaika. ''Sejak hari itu saya menabung dan meniatkan berumrah.''

Ketika hendak berangkat, Sarah menemui keluarganya dan sempat menangis. Ia berujar lirih, ''Ya Allah, masak saya tidak boleh untuk menginjakkan kaki ini ke Tanah Suci-Mu.'' Kini, keluarga besarnya sudah memahami pilihannya memeluk Islam. Mereka menghormati. Begitu juga mama dan adik-adiknya. Ia sungguh bersyukur.

Natalie Sarah
Tanggal Lahir : 1 Desember 1983
Pekerjaan : Bintang Sinetron dan Presenter
Aktivitas : Anggota pengajian Jamaah Syamsu Rizal (JSR)
Source: mualaf.com
Artis Lidya Pratiwi Masuk Islam Atas Inisiatif Sendiri
Fitraya Ramadhanny - detikNews

Jakarta - Sungguh menarik menyibak kehidupan Lidya Pratiwi (19), artis sinetron yang tersandung kasus pembunuhan Naek Gonggom Hutagalung. Kehidupannya bagaikan cerita di layar kaca. Cantik, muda, sedang naik daun, penuh konflik, uang, kekerasan, cinta dan pencarian pada Tuhan. Untuk yang terakhir, Lidya Pratiwi dikenal sebagai mualaf. Mualaf adalah istilah untuk mereka yang baru saja memeluk agama Islam. Bagaimana seluk beluk Lidya kesengsem menjadi Muslimah? Salah seorang yang mengetahuinya adalah Huttaqi. Dia adalah pengarang buku "Jangan Ditunggu! Isa Bin Maryam Tidak Akan Turun di Akhir Zaman!" Huttaqi meluncurkan karyanya di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, pada17 April 2006. Sejumlah narasumber beken diundangnya, termasuk Lidya Pratiwi. Di undangan, nama Lidya Pratiwi diberi embel-embel Artis Mualaf. "Dia bilang itu (masuk Islam) adalah keinginan dia, bukan keinginan orang lain," ujar Huttaqi pada detikcom, Selasa (16/5/2006) pukul 13.00 WIB. Dalam peluncuran buku Huttaqi, Lidya didaulat menceritakan pengalamannya menjadi seorang mualaf. Dengan mengenakan kerudung warna hijau, Lidya bercerita bahwa keluarganya menyerahkan keputusan menjadi mualaf kepada dirinya sendiri. Keluarga Lidya memang terbuka dalam masalah ini. "Mereka juga mengetahui soal kepindahan agama Lidya. Setelah pindah agama juga tidak diam-diaman," lanjut Huttaqi. Sebenarnya Lidya juga bercerita dari mana dirinya mengenal Islam dan kemudian belajar mendalaminya. Namun, Huttaqi sudah lupa apa yang diceritakan Lidya. Saat itu perhatiannya terfokus untuk menjawab pertanyaan audiens tentang bukunya. "Judulnya kan kontroversial, jadi pasti banyak pertanyaan," jelasnya. Lidya hadir sebagai narasumber dalam acara Huttaqi atas usulan panitia penyelenggara. Saat itu Huttaqi memang membutuhkan artis mualaf sebagai ice breaker acara, agar acara tidak menjadi terlalu serius. Pilihan pertamanya adalah Tamara Bleszynski dan Dian Sastro. Tamara ternyata memiliki kesibukan dan panitia tidak mendapatkan akses untuk menghubungi Dian Sastro. Panitia akhirnya mendapatkan Lidya yang bisa mengisi acara. "Pertimbangannya memang akses, saya tidak ada referensi khusus. Siapa pun yang bisa mengisi acara saya, saya setuju," tandas Huttaqi. (fay/)
Source: news.detik.com
Perlawanan Santri Buntet dan Sejarah Lahirnya Kesenian Rudat
oleh: Kiki Rizki Noviandi

Dominasi penjajah Belanda atas lingkungan kraton-kraton di Jawa, membuat para sultan terdesak dalam menghadapi aturan yang dipaksakan Belanda. Banyak dari lingkungan keraton yang keluar untuk bergabung dengan laskar untuk menyusun kekuatan mengusir penjajah. Hal inipun berlaku bagi Kesultanan Kasepuhan dan Kanoma di Cirebon.

Di antara para bangsawan yang keluar dari lingkungan kraton adalah Pangeran Muhammad Khaeruddin putra Kraton Kanoman dan Pangeran Muhammad Asyrofuddin dari putra Kraton Kasepuhan. Beliau berbagi tugas mendatangi pondok-pondok pesantren mempersiapkan kekuatan yang terdiri dari beberapa santri. Ilmu dan seni bela diri pencak silat menjadi pelajaran yang digalakkan dan sangat intensif pada saat itu. Tekad untuk mengusir penjajah di kalangan mereka tertanam kuat dan dikaitkan dengan doktrin jihad pesantren. Demi keamanan perjuangan yang mereka cita-citakan, mereka membungkus kegiatan ini dengan Kesenian Rudat.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, pihak Belanda kemudian mengepung basis perjuangan Pangeran Muhammad Khaeruddin (Pangeran Raja Kraton Kanoman) di Pondok Pesantren Buntet yang pada saat itu sedang bersama gurunya, Mbah Kyai Muqoyim. Pertempuran yang tidak seimbangpun terjadi, Belanda dengan persenjataan modern membantai para santri yang mengandalkan beladiri silat tangan kosong. Pesantren dibakar oleh Belanda. Mereka berdua akhirnya meloloskan diri ke daerah Pesawahan Mandirancan, Kuningan. Para penjajah kaget karena tidak menemukan orang yang mereka cari. Di Pesawahan, Belanda kembali mengepung mereka, dan pada saat itulah Pangeran Muhammad berhasil ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke penjara Victoria di Ambon. Sementara Mbah Kyai Muqoyim berhasil lolos dan melarikan diri hingga sampai ke Malang, Jawa Timur.

Mendengar perjuangan mereka yang berada di Cirebon dihabisi Belanda, Pangeran Muhammad Asyrofuddin (Pangeran Raja Kasepuhan) yang pada saat itu sedang berada di Conggeang Sumedang, akhirnya meneruskan perjuangan dengan mendirikan Pesantren Asyrofuddin. Di pesantren Sumedang inilah Pangeran Muhammad Asyrofuddin menggodok para kader yang belum dikenali wajah perjuangannya oleh Belanda, sehingga mereka menjadi orang yang militan dan sangat ditakuti Belanda.

Di antara para penerus perjuangan dengan kaderisasi pencak silat di pesantren melalui Seni Rudat, adalah Bagus Arsitem, Bagus Serit, dan Bagus Rangin. Ketiga nama ini adalah pentolan kader-kader binaan dari para pendekar silat dan Seni Rudat pendahulu, yang kemudian menjadi pemimpin pemberontakan Cirebon pada tahun 1818 M. (Sumber: Catatan - Gusman Natawidjaja *)
Source: www.wikimu.com
Antara
Muslim Pulau Serangan, antara Pariwisata dan Ketaatan Beragama
Masjid Asy-Syuhada, Kampung Bugis, Kelurahan Serangan, Pulau Serangan, Bali.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR – Alunan suara adzan sangat jelas terdengar. Suara panggilan sholat itu datangnya dari Masjid Assyuhada, Kampung Bugis, Pulau Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar Bali.

Pulau Serangan adalah sebuah objek wisata yang terkenal dengan penangkaran penyunya, sehingga kerap disebut sebagai Turtle Island.

Dulu Pulau Serangan merupakan pulau yang terpisah dari Pulau Bali, letaknya di sebelah timur Pelabuhan Benoa atau bila dilihat di peta, berada di sebelah timur kaki pulau Bali.

Tapi kini Serangan telah menyatu dengan Pulau Bali, yakni sejak bagian laut pulau itu direklamasi awal dekade 90-an dan kini menjadi milik PT Bali Turtle Development Island (BTID).

Luas Pulau Serangan sebelum direklamasi hanya 101 hektare, sementara setelah direklamasi luasnya menjadi 491 hektar. Dari 491 hektare luas pulau itu, hanya 101 hektar yang menjadi milik masyarakat dan ummat Islam tinggal di areal seluas 2 hektare.

Jumlah komunitas Muslim di daerah wisata itu hanya sekitar 70 KK atau hanya sekitar 300 jiwa. Salah seorang tokoh masyarakat Pulau Serangan, Drs H Ahmad Sastra, mengatakan umat Islam di Pulau Serangan berasal dari keturunan Bugis dan menetap di daerah itu sejak abad ke-18.

Mereka yang datang pertama kali ke Pulau Serangan, umumnya adalah para pedagang, dan sebagian lagi adalah pasukan perang.

Secara turun temurun kata mantan pengurus ICMI Bali itu, ummat Islam di Pulau Serangan bekerja sebagai nelayan, dan baru sebagian dari mereka menekuni profesi di bidang pariwisata, setelah Pulau Serangan dikembangkan menjadi salah satu objek wisata.

"Sebelumnya, mereka yang hendak berkunjung ke Pulau Serangan harus penumpang perahu, tapi sekarang sudah ada jembatan penghubung," kata Ahmad.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Ahmad Baraas
Source: www.republika.co.id
kumpulan ARTIS masuk ISLAM (MUALLAF)
Davina Veronica H (foto: kapanlagi.com)
Di bawah ini beberapa nama artis Indonesia yg menjadi muallaf, diantaranya:
Rebecca
• Dewi Sandra
• Titi DJ
• Angelina Sondakh
• Linda Rahman
Tamara Blezinsky (bintang film, sinetron)
Tere (penyanyi)
Monica Oemardi (bintang film, sinetron)
Dian Sastrowardoyo (bintang film, sinetron)
• Steve Emanuel (bintang film, sinetron)
El Manik (Aktor)
Chrisye (Penyanyi)
W.S Rendra (Penyair, Si Burung Merak)
Iga Mawarni (Penyanyi)
Chica Koeswoyo (Bintang cilik, Keluarga Koes Ploes)
• Clara Shinta (Aktris)
• Ebiet G Ade (Penyanyi)
Sandrina Malakiano (Pembawa Berita)
Cindy Claudia (Penyanyi,artis sinetron)
Davina Veronica H. (Topmodel)
Tia AFI (Penyanyi,AFI)
Shelomita (Penyanyi)
Cahyono (Pelawak)
• Valentino (Bintang Iklan, Presenter)
Paquita Wijaya (Sinematrografer, Penyanyi)
• Ira Wibowo (Aktris)
Miranda Risang (Artis)
• Ray Sehatapi (Bintang film)
Hughes (Host)
Lidya Pratiwi
• Max Don (Suami Imaniar)
• Angel Elga (Penyanyi Dangdut)
• Willy Dozan (Bintang Film)
Natalie Sarah (Aktris Sinetron)
• Verawati Fajirn (Atlet Bulutangkis)
• Lulu Tobing (Artis)
Ki Manteb Sudarsono (Dalang)
Wahyu Suparno Putro
• Rica dan Doris Callebout
Marsha Timothy
Jono 'Gugun Blues Shelter'

Source: www.indoforum.org

Aceh Ubah Hidup Jono Gugun Blues Shelter
Jonathan Amstrong alias Jono saat menjadi imam salat keluarga (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

Sejak mantap memutuskan diri menganut agama Islam tahun 2000 silam, bassist band Gugun Blues Shelter, Jonathan Amstrong atau akrab disapa Jono, masih terus berusaha memperdalam ilmu agamanya.

Ia lahir dari keluarga Kristen yang taat. Ayahnya adalah seorang pendeta. Meski begitu, sang ayah samasekali tidak menghalangi Jono untuk pindah keyakinan. Dan saat Vivalife bertandang ke rumahnya di kawasan Jatiwaringin, Jakarta Timur, Jono bercerita, ketertarikannya untuk memeluk Islam mulai timbul saat ia bertandang ke Aceh.

Pertama kali ke Indonesia, Jono memang langsung menginjakkan kakinya di Tanah Rencong, Aceh. Kisah seorang kawan muslim yang berkebangsaan Perancis yang bercerita soal keindahan alam Aceh, membuatnya tertarik berlabuh di daerah tersebut. Ini menjadi awal kisah Jono terpikat pada Islam.

"Waktu saya harus pulang ke Inggris, saya harus transit di salah satu negara di Asia. Nah saya pilih Indonesia. Kenapa saya pilih Indonesia, ini karena cerita dari teman saya," katanya.

"Dia cerita dan kasih lihat foto, ada tempat di Aceh, namanya Sabang. Di situ, kamu bisa sewa penginapan US$1 per malam. Waktu itu, saya masih berusia 19, dan saya lihat foto Aceh indah sekali, jadi saya bilang saya mau ke sana," ceritanya.

Waktu pertama kali mengunjungi Aceh, ia sempat tinggal selama tiga bulan di sana. Jono berkelana ke berbagai daerah di Aceh, terutama Sabang. Di sana, ia terpana melihat kehidupan Umat Islam.

"Awalnya, saya berpikir soal Islam yang neatif-negatif saja, tapi saat saya menginjkkan kaki di Aceh, Islam terasa beda di sana," ujarnya.

Pria kelahiran Inggris ini, selama hidupnya memang tidak pernah mengenal pelajaran soal Islam. Ia hanya beranggapan, Islam identik dengan jihad, terorisme, bom bunuh diri, hingga poligami. Tapi, ketika berada di Aceh, hal negatif soal Islam yang ada di pikirannya seolah sirna.

"Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, orang-orang Islam di Aceh itu 180 derajat jauh beda dengan yang ada di pikiran saya. Nggak ada itu yang namanya pukul-pukul istri dan lain-lain yang negatif. Orang Islam di sana ramah, kekeluargaannya masih kuat, nggak ada yang negatif-negatif," kisahnya.

Dari situ, Jono mulai tertarik belajar lebih dalam soal Islam. Jono, akhirnya juga tertarik bertanya pada teman muslimnya, seperti apa Islam yang sesungguhnya. "Teman saya bilang, Islam itu sebenarnya nggak jauh beda sama agama saya. Cuma ada tambahan-tambahan sedikit yang menuntun seseorang untuk kembali ke jalan Tuhan," ceritanya.

Jono pun merasa tak kesulitan mempelajari Islam lebih dalam. Setelah perjalanannya mengarungi Aceh usai, ia sempat pulang ke Australia dan kembali rindu pada Aceh. Akhirnya, ia kembali. Kedatangannya yang kedua di Tanah Rencong mempertemukannya pada wanita Aceh bernama Fauziah yang kini menjadi istrinya. Ketika itu, Jono memutuskan untuk menjadikan Fauziah sebagai kekasihnya. Fauziah juga berusaha membantu Jono belajar mengenal Islam lebih dekat. Sebagai kekasih, Fauziah lekas bertanya pada Jono, apakah ia, benar-benar tertarik memeluk agama Islam, Jono pun menyatakan yakin, ingin berpindah menjadi seorang muslim.

Karena yakin dengan keputusannya, ia lantas pulang ke negara asalnya, Inggris, meminta izin pada orangtuanya, untuk memeluk Islam. Ia merasa bersyukur, izinnya disambut baik sang ayah. Meski sempat sang ayah mempelajari dan mencari tahu soal Islam lebih jauh, tapi akhirnya, kata setuju terucap.

"Saya bilang sama bapak saya, saya mau masuk Islam. Terus dia bilang, bagus itu, nggak apa-apa. Karena bapak saya sudah belajar juga, dia punya Al Quran dalam bahasa Inggris, jadi dia tahu bagaimana Islam."

Kata Jono, orangtuanya sama sekali tak menentang. Mereka justru merasa bahagia, anaknya menemukan keyakinan yang sesuai dengan hati nuraninya. Apalagi, saat remaja Jono bukan anak yang baik. Hidupnya pernah kelam, suka main perempuan, minum-minuman beralkohol hingga menjadi pengguna narkotika.

"Waktu masuk Islam, prosesnya nggak lama. Waktu itu saya konsultasi sama Ketua MUI di Aceh namanya Yusni Sabi, saya konsultasi sama dia, dan kata dia, 'oke, dua hari lagi kita bikin acara kecil di Masjid Raya Aceh Baitturahman', dan saya di Islamkan di tempat itu," ceritanya.

Saat mengucap dua kalimat syahadat, ada beberapa orang yang menjadi saksinya, termasuk keluarga Fauziah. Dan tepat di bulan Oktober tahun 2000 akhirnya ia resmi menjadi seorang mualaf.

"Waktu itu saya belum menikah dengan Fauziah. Dan saya sempat pulang ke Inggris, kembali lagi ke Aceh, bulan Desember saya menikah," katanya.

Puasa adalah ajaran Islam paling sulit dijalaninya

Menjadi mualaf, tak lantas membuat Jono menjadi muslim yang taat. Ia masih terus belajar memperdalam keyakinannya pada Islam. Fauziah, katanya sebagai istri yang sabar menuntunnya belajar. Mulai dari salat, mengaji hingga memberi contoh yang baik termasuk saat menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Baginya, berpuasa mengajarkannya banyak hal. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan emosi dan amarah. Sulit bagi Jono menjalani kewajiban umat muslim satu ini. Bahkan, tak jarang, puasanya batal karena tak bisa menahan haus.

"Saya masih terus berusaha memperdalam keislaman saya. Sejauh ini, puasa saya juga masih banyak yang bolong, tapi bersyukur, istri saya selalu sabar menuntun," katanya.

Cobaan juga mampir padanya

Menjadi keluarga yang menganut ajaran Islam, cobaan juga sempat mampir padanya. "Waktu itu , kalau tidak salah pas saya punya anak kedua, Tobi, itu cobaan berat sekali. Keluarga Fauziah kena tsunami, dan saya waktu itu belum punya pekerjaan tetap. Keluarga Fauziah banyak yang hilang, dan akhirnya kami sempat pulang ke Inggris," kisahnya.

Setelah cobaan bertubi-tubi menghampirinya, tahun 2004, Jono mulai merasakan nikmat berkah sang Maha Kuasa. Di tahun itu, Jono diajak bergabung, masuk dalam grup band Gugun Blues Shelter hingga akhirnya nama band itu populer. Jono mulai full bekerja di musik, dan mulai mendapatkan tawaran job dari berbagai stasiun televisi.

"Waktu itu, saya ngisi acara Belajar Indonesia di Trans TV, jadi host dan tampil 8 episode. Setelah itu, tampil di Dahsyat dan jadwal manggung Gugun Blues Shelter makin padat. Pokoknya rezeki ada terus setelah cobaan itu, " katanya.

Tahun lalu, Jono juga mulai mengisi acara sahur di RCTI. Setelah kontraknya habis, ia ditawari untuk tampil di acara Canda Bule dan tahun ini, Jono kembali memeriahkan acara sahur di 'Waktunya Kita Sahur' yang tayang di Trans TV.

"Selama saya masuk Islam, saya banyak dapat berkah. Rezeki mengalir, apalagi sekarang saya mengisi acara sahur, saya bisa menghibur banyak orang di bulan puasa."

"Meskipun saya bukan orang Indonesia, tapi mereka merasa senang bisa terhibur. Dan saya juga senang bisa menghibur mereka. Ini merupakan berkah buat saya," tegasnya.
Source: life.viva.co.id
Oleh : Muhammad Kosim, Pendidik, di Padang

Umat Islam kembali dihina. Ke­hadiran film Innocence of Muslims di YouTube telah menimbulkan aksi demonstrasi umat Islam di bebagai penjuru dunia. Meski telah me­nim­bulkan korban, termasuk Duta Besar AS untuk Libya, J. Christopher Stevens (12/9) lalu, tetapi tak membuat musuh-musuh Islam itu berhenti, apalagi takut mendiskreditkan Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Bahkan seminggu sesudahnya (19/9), mereka kembali berulah. Koran mingguan Prancis, Charlie Hebdo, menerbitkan karikatur yang me­nun­jukkan seorang Yahudi Ortodoks te­ngah mendorong tokoh yang meng­gunakan surban dan kursi roda. Be­berapa gambar justru diduga menjurus kepada Nabi Muhammad.

Kita masih ingat 4 tahun lalu (28/3 2008), muncul film dokumenter ”Fitna” karya seorang anggota par­le­men sayap kanan Belanda, Greet Wilders, menggambarkan Islam seba­gai ‘agama kekerasan’. Sebelumnya, 30 September 2005, diterbitkan pula 12 karikatur Nabi Muhammad di harian Jylliands-Posten Denmark.

Anehnya, negara-negara yang me­ngaku demokratis, menjunjung tinggi nilai HAM, dan berperadaban tinggi itu tidak mengambil tindakan yang berarti. Seakan orang yang menghina itu dilindungi, atas nama kebebasan berekspresi.

Penghinaan yang menyita per­hatian publik juga pernah terjadi pada tahun 1988 oleh Salman Rushdie dengan novelnya yang berjudul “The Satanic Verses” (Ayat-ayat Setan). Dalam novel ini ia menggambarkan Muhammad sebagaimana mitos yang berkembang di Barat.

Muhammad diceritakan sebagai seorang penipu ulung, hanya berambisi politik, seorang bernafsu yang meng­gunakan wahyu-wahyu sebagai lisensi untuk mendaparkan sebanyak mung­kin perempuan yang diinginkannya. Sahabat-sahabat awal juga dilukiskan sebagai orang-orang yang tidak ber­guna. Judul “Ayat-ayat Setan” juga merupakan pencemaran terhadap integritas Al-Quran yang dianggap tidak mampu membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Lagi-lagi kasus ini tidak jelas ujungnya, meski Imam Ayatullah Khomeini telah mem­fat­wakan untuk menghukum mati Rushdie.

Lalu muncul pertanyaan, kenapa mereka terus menghina umat Islam dengan mencela Nabi Muhammad SAW? Apakah karena kita telah men­jadi umat yang lemah lalu bisa diper­mainkan? Dimanakah pertolongan dan pembelaan Allah kepada umat yang mengakui-Nya sebagai Tuhan Pen­cipta?

Pertanyan-pertanyaan itu sering kali muncul di tengah-tengah ma­sya­rakat. Banyak analisis, mulai ma­syarakat awam hingga kaum inte­lektual. Ada yang berpendapat karena golongan mereka (Yahudi Nashrani) memang tidak akan pernah senang melihat umat ini kecuali kita tunduk dan ikut pada kelompok mereka. Maka dipopulerkanlah ayat-ayat Al-Quran, terutama surat al-Baqarah ayat 120.

Ada pula yang berpendapat bahwa pertikaian ini lebih dipicu karena faktor politik. Mereka memandang umat Islam sebagai satu kekuatan yang dita­kutkan dapat mengancam kedik­da­yaannya. Sammuel P. Hun­tingtin, misalnya, dalam tesisnya “Clash Civilization”, memprediksikan akan terjadi benturan peradaban antara Barat dengan dunia Islam.

Karena itu, muncul berbagai upaya dari sekelompok orang untuk melaku­kan pencitraan negatif terhadap umat Islam. Umat Islam pun dicitrakan sebagai penganut agama teroris, agama yang disebarkan dengan pedang, anti­pati terhadap demokrasi dan kebe­basan, serta berpikir jumud dan ke­tinggalan zaman.

Upaya pencitraan itu dilakukan dengan berbagai cara, baik berupa pemikiran maupun aksi-aksi yang merekayasa peristiwa tertentu untuk melecehkan umat Islam. Dari segi pemikiran, misalnya, mereka menulis buku-buku tentang Islam dari sudut pandang negatif.

Jauh sebelumnya, pencitraan ne­gatif terhadap Islam itu juga dilakukan oleh ilmuan dan tokoh agama, seperti Thomas Aquinas (1226 – 1274). Montgomery Watt menyimpulkan Aquinas menulis empat citra negatif tentan Islam, yaitu: pertama, Islam adalah agama yang keliru dan merupakan permutarbalikkan yang sengaja ter­hadap kebenaran Kristen; kedua, Islam adalah agama yang disebarkan melalui kekerasan dan pedang; ketiga, Islam adalah agama hawa nafsu; dan keem­pat, Muhammad adalah anti Kristus.

Bentuk aksi lain yang mereka laku­kan adalah mengkondisikan umat Islam menjadi marah membabi buta sehingga keadaan itu meligitimasi fitnah yang sebelumnya telah disebar; umat Islam sebagai kelompok teroris dan suka kekerasan. Seperti kasus terakhir, film innocence of Muslim dan karikatur Muhammad di Mingguan Prancis itu.

Terlepas dari analisis di atas, patut pula kita renungkan peristiwa sahabat-sahabat Nabi SAW yang memperoleh kekalahan pada Perang Uhud. Padahal sebelumnya, hanya dengan jumlah yang relatif sedikit bisa meraih ke­menangan Perang Badar.

Perasaan umat Islam ketika itu digambarkan dalam al-Qur’an: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa mu­si­bah (pada peperangan Uhud), pa­da­hal kamu telah menimpakan ke­kalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Se­sung­guh­nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Qs. Ali Imran: 165)

Agaknya, umat Islam dewasa ini pun merasakan perasaan yang sama. Seakan kita merasa kalah dengan hegemoni Barat sehingga sebagian mereka tak henti-hentinya menghina dan melecehkan umat Islam. Padahal dulu, umat Islam pernah berjaya dan tak tertandingi. Tak ada yang berani menghina umat Islam kala itu. Namun, kejayaan khilafah Abbasiyah di Timur dan khilafah Umayyah di Barat (An­dalusia-Spanyol) hanya menjadi ro­mantisme sejarah.

Lalu ada yang bertanya, kenapa kita kalah? Kenapa umat ini tak lagi bangkit dan tampil terdepan, atau paling tidak sejajar dengan negara-negara maju lainnya? Mana pertolongan-Nya?

Ayat di atas menjawab: “itu dari (kesalahan) dirimu sendiri!”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Dan apabila kaum muslimin lemah, sehingga mu­suh berhasil menguasai mereka, hal ini adalah disebabkan dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, apakah karena lalainya mereka dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang lahir mau­pun yang bathin atau karena ke­se­wenang-wenangan mereka melanggar batasan-batasan Allah SWT yang lahir atau yang batin”.

Ibnul Qayyim pun berkata: “Sung­guh demi Allah, tidaklah musuh ber­tindak sewenang-wenang kepadamu kecuali setelah Allah SWT yang telah berpaling darimu, maka jangan kamu kira bahwa setan (musuh-musuh Islam) yang menang, melainkan Dzat Maha Pelindung yang me­ning­gal­kanmu”.

Pernyataan ini sejatinya me­ng­gugah hati nurani kita. Penghinaan dan pelecehan orang-orang yang membenci Islam bukanlah mengindikasikan mereka telah menang. Tetapi karena umat ini lemah, tak bersatu, dan masih cenderung pada dunia. Islam cuma pengakuan, belum jadi kepribadian.

Lihatlah negara ini. Allah anu­gerahkan kondisi alam yang subur dengan kekayaannya yang melimpah. Allah juga memberi hidayah kepada orang-orang terdahulu untuk menga­kui agama-Nya sehingga keturunannya masih mengaku muslim. Umat Islam pun menjadi kelompok mayoritas.

Namun apa yang terjadi? Korupsi menjadi-jadi. Hukum Tuhan diting­galkan. Dan umat pun tercerai-berai.

Umat Islam kehilangan pemimpin. Tak ada pimpinan umat Islam yang representatif. Ketua Muhammadiyah hanya bagi kalangan Muhammadiyah. Pimpinan NU juga bagi kalangan Nahdhiyyin. MUI, fatwa-fatwanya pun tak dihargai.

Bahkan lembaga negara, seperti kementerian agama pun tak ditaati. Ada yang beranggapan, negara ini bukan negara Islam maka tak perlu ditaati; ada pula yang pesimis karena kecewa terhadap oknum di dalamnya yang tak luput dari kasus korupsi.

Lain lagi dengan kasus pembiaran terhadap kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam, tetapi perila­kunya justru memperburuk citra Islam.

Bagaimana mungkin umat ini akan bangkit dan maju?

Oleh karena itu, penistaan agama yang dilakukan mereka sejatinya men­jadi bahan intropeksi diri bagi umat Islam. Umat ini harus segera berbenah secara internal. Jangan memperalat agama untuk mencapai kepentingan pribadi atau kelompok.

Jangan pula menebar kebencian berlebihan terhadap agama tertentu. Karana tak satu pun ajaran agama yang menghalalkan penghinaan agama lain, termasuk Kristen dan Yahudi. Sean­dainya ada agama yang mengajarkan demikian, tentulah agama itu diting­galkan oleh orang-orang yang berakal.

Dan yang terpenting lagi, siapkan generasi muslim yang bermartabat dan terhormat. Untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas itu harus dimulai dari keluarga dan mem­per­baiki sistem pendidikan, terutama pada lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Lembaga pendidikan Islam harus melakukan reformulasi dan reorientasi sehingga mampu menghasilkan out put yang berkualitas; menguasai sains dan teknologi dengan basis keislaman. Berbagai bidang keilmuan sejatinya dikuasai oleh umat Islam sehingga kita tidak tertinggal. Dengan begitu umat ini akan memiliki posisi tawar. Pihak lain pun tak seenaknya melakukan penghinaan dan penistaan.

Penghinaan itu juga harusnya menjadi triger bagi umat untuk ber­satu. Ketika menghadapi musuh Islam, butuh kesatuan dan persatuan, lupakan perbedaan. Jika aturan-aturan Allah komitmen ditegakkan, agama-Nya diperjuangkan, silaturrahim dieratkan, maka pertolongan Allah pun akan datang. Sebaliknya, ketika kita tak lagi menolong agama-Nya, maka pastilah Dia meninggalkan kita.

Firman-Nya: Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (Qs. Muhammad/47: 7) Wallahu a’lam. (*)
Source: padangekspres.co.id
PBNU kutuk film penghinaan terhadap Nabi Muhammad
Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj (FOTO ANTARA)
“Dari dulu sampai sekarang, selalu ada orang yang tidak suka kepada Rasulullah, tetapi kita jangan sampai menghabiskan energi untuk itu, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa,”
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengutuk keras film "Innocence of Muslims" yang menghina Nabi Muhammad SAW dapat diunggah di laman "youtube".

Namun demikian, kata Said Aqil di Jakarta, Kamis, film tersebut tidak perlu disikapi berlebihan, apalagi dengan tindakan yang justru kontra produktif.

"Dari dulu sampai sekarang, selalu ada orang yang tidak suka kepada Rasulullah, tetapi kita jangan sampai menghabiskan energi untuk itu, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa," katanya.

Kiai bergelar doktor alumni Universitas Ummul Qura, Mekkah itu menegaskan, Nabi Muhammad SAW merupakan figur yang mulia dan sempurna.

"Allah akan menjaga nama baik beliau, baik ketika masih hidup atau sesudah wafat," kata Said Aqil.

Dikabarkan, "Innocence of Muslims" merupakan film amatir yang dibuat oleh ekspatriat koptik Mesir yang menetap di Amerika Serikat. Film tersebut selanjutnya diunggah di "youtube" dalam versi bahasa Arab yang akhirnya memicu kemarahan umat Islam di Libya dan Mesir.

Sekitar 3.000 orang berunjuk rasa di kantor Kedubes AS di Mesir dan menuntut film tersebut ditarik dari peredaran.

Sementara aksi demonstrasi di Benghazi, Libya telah menewaskan Duta Besar AS dan tiga stafnya.

Sam Bacile, warga AS yang terlibat dalam proses pembuatan film tersebut menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan tidak membayangkan reaksi yang timbul seperti saat ini.

Ia menyatakan, film tersebut belum sepenuhnya rampung dan menolak distribusi dalam jaringan atau secara online.

Ia juga menyatakan, film tersebut awalnya diproduksi dalam bahasa Inggris, tetapi ia mengaku tidak tahu siapa yang merilisnya dalam bahasa Arab.

Beberapa blog anti-Muslim juga menayangkan rangkaian adegan dalam film tersebut yang mengambarkan Nabi Muhammad sebagai seorang penganiaya dan pembunuh.
(S024/Z002)

Editor: Ruslan Burhani
Source: www.antaranews.com
antaranews
Tudingan Intoleransi Manuver Basi Yahudi
Ustaz Bachtiar Nasir

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Tudingan Intoleransi yang mencoreng Indonesia, khususnya kaum muslim Indonesia di mata dunia, dipastikan hanya sebuah manuver yang dilakukan yahudi dalam menyerang Islam. Respon kaum muslim yang tidak terprovokasi dan “stay cool”, mampu menjadi penangkal efektif dalam merespon tudingan tersebut.

"Itu dagangan lama mereka (yahudi-red), setelah isu terorisme tidak lagi laku,” ungkap ketua Arrahman Quranic Learning Centre, Ustaz Bachtiar Nasir kepada Republika usai mengisi tausiyah di Masjid Al Murobbi, Bandung, Kamis (7/6).

Menurutnya, umat Islam hari ini tidak terlalu merespon reaktif tudingan tersebut. sebab, ungkap Ustaz Bachtiar, hal tersebut murni penilaian parsial dari oknum-oknum yang telah mendustakan agamanya sendiri.

“Barat hari ini telah kalah, setelah melihat akar dan nilai Islam ini kita kuat, terlebih usai gagalnya konser Lady Gaga,” ungkapnya.

Menjadi sebuah analisa yang memungkinkan, isu tersebut merupakan sebuah grand design yang dilakukan musuh Islam, untuk turut serta memasukkan nilai-nilainya dalam sistem hukum Indonesia atas nama Hak Asasi Manusia.

“Apalagi hari ini kita tengah menyiapkan UU Kesetaraan Gender dan Perilaku Beragama, ia akan sumpal beberapa nilai liberalnya ke dalam aturan Indonesia,” tambah Ustaz Bachtiar.

Redaktur: Hafidz Muftisany
Reporter: Angga Indrawan
Source: www.republika.co.id
Jakarta - KH. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) dan Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) menyayangkan tuduhan intoleransi agama di Indonesia yang sempat muncul saat Sidang PBB di Jeneva.

Mantan Ketua umum PBNU itu mengungkap, munculnya isu tersebut dalam pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. "Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia. Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat," paparnya.

Menurut Hasyim, jika Ahmadiyah menjadi agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam. "Kalau yang dilihat dunia internasional adalah kejadian di GKI Yasmin Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia unutk kepentingan lain daripada menyelesaikan masalahnya," kata Hasyim.

Pembangunan gereja, kata Hasyim, harus mempertimbangkan faktor lingkungan. Di Jawa, pendirian gereja memang cenderung sulit. Sama halnya dengan di Kupang (Batuplat), pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. "Karena itu, ICIS selalu melakukan mediasi," tegas Hasyim.

Hasyim mencontohkan kasus hadirnya Lady Gaga dan Irsyad Manji yang menghebohkan negeri ini. "Bangsa mana yang mau tata nilainya dirusak? Kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme kosong," tegas Hasyim.

Kalau ukurannya Hak Asasi Manusia (HAM), Hasyim menyorot kondisi di Papua, dimana TNI/Polri dan Imam Masjid berguguran. "Mengapa tidak ada yang menyebutnya sebagai pelanggaran bicara HAM?" ujarnya.

Di mata Hasyim, Indonesia lebih baik toleransinya ketimbang Swiss, yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid. Juga lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan Jilbab. Indonesia pun lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawinan Sejenis. "Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis?" kata Hasyim.

Begitu pula, hanya di Indonesia hari besar enam agama menjadi hari libur nasional. Pendidikan enam agama juga dijadikan kurikulum sekolah. Sementara di negara Barat, atau Arab sekalipun, hari besar agama hanya untuk agama mayoritas saja.

Akhirnya, ujar hasyim, kembali kepada bangsa Indonesia. Kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas untuk membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yang sekedar Weternisme. (HP)
Source: www.gatra.com
10 Alasan Ormas Islam Menolak Lady Gaga
NET
Lady Gaga
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Forum Umat Islam (FUI) yang merupakan gabungan sejumlah ormas Islam, menyerukan penolakan terhadap rencana konser Lady Gaga di Jakarta.

Salah satu ormas anggota FUI, Ar-Rahman Qur'anic Learning Center (AQL), menyebut 10 alasan menolak Lady Gaga.

Dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Selasa (22/5/2012) malam, disebutkan 10 alasan menolak Lady Gaga, yaitu:

1. Lady Gaga adalah Robot Illuminati

Aksesoris penampilan Lady Gaga dalam setiap konsernya secara vulgar, selalu menonjolkan lambang illuminati dan paganisme.

Illuminati adalah sebuah kelompok Zionis Yahudi yang memiliki hubungan erat dengan Freemasonry, kelompok rahasia dan bawah tanah Zionis.

Kelompok ini disebut juga sekte Luciferian (iblis) yang memiliki arti sang Pembawa Cahaya. Sekte ini memiliki misi untuk menghancurkan umat Islam melalui ide pemikiran rusaknya.

2. Lady Gaga adalah Ratu Iblis Liberal Pemuja Setan

Dalam video klip lagu Alejandro, digambarkan Gaga bersatu dengan Tuhan agama tertentu. Lalu, dia menyalahkan Tuhan karena Tuhan tidak dapat memenuhi keperluan rohaninya.

Akhirnya, dia mengubah diri dari biarawati menjadi paderi Luciferan (setan), yang dilambangkan dengan tangan kanan menutup mata kirinya menjadi bermata satu (lambang Yahudi).

3. Lady Gaga Penyebar Gaya Hidup Gay, Lesbian, dan Transgender.

Salah satu lirik lagunya 'Born This Way' yakni,..No matter gay, straight, or lesbian, transgendered life...I'm on the right track, baby I was born to survive."

Astagfirullah...Tidak peduli gay, lurus, lesbian, kehidupan yang benar. Saya berada di jalur yang benar.

4. Lady Gaga Icon Pornoaksi dan Pornografi

Setiap kali aksi konsernya, Lady Gaga tidak lepas dari sensasionalnya, yakni menampakkan aurat dan meliukkan tarian erotis.

5. Konser Lady Gaga, Konser Kemaksiatan

Dengan harga tiket mulai Rp 465 ribu hingga Rp 2.250.000, rakyat Indonesia masih mampu melenyapkan 40 ribu.

Hal tersebut sangat ironis mengingat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Jangankan beli tiket semahal itu, di sekitar kita masih banyak saudara-saudara sesama Muslim kelaparan.

6. Lady Gaga Penyeru Seks Bebas

Dengan vulgar, Lady Gaga membuka rahasia kecantikannya adalah semakin sering orgasme. Ia mendambakan bayi berketurunan Italia dari hasil kumpul kebo dengan kekasih gelapnya.

Ia mencari pria pendonor sperma berdarah Italia. Tapi, dia takut menikah karena takut kariernya hancur.

7. Lady Gaga Penghina Seluruh Agama

Dalam konsernya, Lady Gaga seringkali menggunakan atribut biarawati yang berubah jadi setan.
Ia juga membalikkan salib, dan melakukan ritual yang aneh seperti menjadikan darah sebagai alat ritual di hotel tempat penginapannya.

8. Lady Gaga Penyebar Kesyirikan yang Nyata

Sebelum masuk hotel tempatnya menginap, dia meminta paranormal membersihkan kamarnya dari gangguan roh jahat yang mengikutinya.

9. Lady Gaga Melecehkan Kaum Wanita

Lady Gaga menganggap wanita hanya sebagai objek pemuas nafsu seksual. Karena. dalam setiap konser, ia selalu menggunakan pakaian seronok

10. Lady Gaga Merusak Moral dan Pemikiran Remaja

Dia bercita-cita menciptakan parfum yang terbuat dari sperma dan darah. Dia menyatakan, menikah hanya akan merusak karier seseorang. (*)
Source: www.tribunnews.com
Jakarta - Polisi membatalkan izin konser Lady Gaga yang rencananya akan digelar di Jakarta pada 3 Juni 2012 mendatang. Pembatalan tersebut melegakan para pengurus ormas Front Pembela Islam (FPI) yang sejak awal menentang konser Lady 'Setan' Gaga itu.

Ketua DPP FPI, Habib Salim, menuturkan alasan kuat di balik pembatalan tersebut. "Alhamdulillah konser tersebut batal, karena bisa merusak moral bangsa," ujar Habib Salim, Kamis (17/5/2012).

Habib Salim melalui FPI mengaku akan 'bergerak' jika konser Lady Gaga tetap berjalan. "Kalau sudah dibatalkan, jangan memaksa digelar, karena kami akan selalu bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk mencegah kerusakan moral bangsa," tegasnya.

Tentang para penyanyi erotis atau pedangdut koplo yang semakin merajalela, FPI ternyata juga menanggapinya serius. "Itu juga sama, tidak ada bedanya, yang pasti kita kasih peringatan dahulu kalau ada acara yang menyuguhkan tarian dan goyangan erotis, baru kita tindak," ujar Habib Salim.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan bahwa banyaknya pihak yang menentang, jadi alasan Polda menolak konser bertajuk 'The Born This Way Ball' tersebut.

"Dengan demikian, konser Lady Gaga resmi dibatalkan, mengingat faktor sosial budaya yang berdampak pada faktor keamanan," kata Rikwanto, Rabu, 15 Mei 2012. (HP)
Source: www.gatra.com
Lazuardi Birru ANTARA gelar pelatihan jurnalistik Islam damai
HUT Kantor Berita ANTARA ke-74 (ANTARA News)

Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Swadaya Masyarakat, Lazuardi Birru bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Jurnalistik ANTARA (LPJA) dan Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) menggelar Pelatihan Jurnalistik Islam cinta damai, untuk mahasiswa se-Jabodetabek.

"Diharapkan mahasiswa ini dapat menjadi agen kampanye Islam cinta damai melalui weblog pribadi, jejaring sosial, media massa online, dan terutama melalui portal lazuardibirru.org," kata Ketua Lazuardi Birru, Dhyah Madya, dalam siaran pers yang dikirim di Jakarta, Sabtu.

Lazuardi Birru adalah LSM yang memiliki perhatian pada isu radikalisme dan terorisme serta menentang segala bentuk kekerasan atas nama agama dan fokus mengampanyekan Islam cinta damai, kebhinnekaan, dan toleransi.

Pelatihan gratis ini berdurasi tiga bulan dari 6 Mei sampai 29 Juli 2012 dengan total 13 kali tatap muka di kelas dan berlangsung setiap hari Minggu pukul 10.00--13.00 WIB, di LPJA, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Menurut Dhyah Madya, pemuda sangat akrab dengan internet sehingga mereka disebut sebagai generasi "digital native" lantaran lahir dan hidup saat semua teknologi sudah serba digital. Di situlah mereka bisa menjadi agen kampanye yang efektif jika dibekali ketrampilan jurnalistik.

Media berbasis internet dengan daya jangkaunya yang sangat luas, ujarnya, menjadi media kampanye wacana yang efektif. Sayangnya, seringkali media ini juga digunakan untuk menyiarkan hal-hal negatif seperti pornografi, radikalisme, bahkan kekerasan atas nama agama.

Karena itulah pihaknya bekerja sama dengan ANTARA selain untuk memberikan pelatihan jurnalistik, lebih dari itu juga untuk menumbuhkan kepekaan pemuda akan kebhinnekaan bangsa Indonesia.

Pelatihan dengan tema "Mewujudkan Islam Cinta Damai Melalui Jurnalisme Berbasis Pemuda" itu dibuka oleh Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Asro Kamal Rokan, pada Minggu pagi, 6 Mei di LPJA dan dilanjutkan dengan Diskusi Panel bertema Peran Mahasiswa dalam Kampanye Antikekerasan Atas Nama Agama.

Narasumber dalam Diskusi Panel adalah Asro Kamal Rokan Dhyah Madya (Ketua Lazuardi Birru), dan Nasir Abas (Pengamat Radikalisme-Terorisme dan Mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah).

Ia menjelaskan, target pelatihan ini adalah melahirkan jurnalis warga (citizen journalist) yang aktif mengampanyekan perdamaian.

"Jurnalisme warga menjadi tren baru lantaran semua orang bisa menginformasikan dan mengampanyekan hal apapun tanpa harus menjadi jurnalis profesional. Publikasinya tidak hanya berskala lokal melainkan global. Ini kesempatan baik yang harus kita manfaatkan," ujar Dhyah.

Pelatihan ini, lanjut Dhyah, menggunakan kurikulum jurnalistik terpadu dengan dilengkapi tambahan materi Islam dan keindonesiaan sebagai fokus utama program kampanye Lazuardi Birru. Materi pelatihan meliputi materi umum, materi keahlian tulis dan fotografi.

Sementara itu Nasir Abas melihat bahwa acara ini cukup efektif untuk menanamkan ideologi Islam rahmatan lil alamin karena digelar secara intensif dalam rentang waktu cukup panjang.

Dukungan senada datang dari Asro Kamal Rokan, mantan Pemimpin Umum LKBN Antara, yang mengatakan, generasi muda harus bisa memanfaatkan media karena media massa dapat menjadi agen perdamaian yang berpihak pada masyarakat sebagai korban konflik dan radikalisme.

"Dalam konflik dan kekerasan di tengah masyarakat, kekerasan karena politik, radikalisasi atas nama agama dan suku, media semestinya membawa air dalam percikan api, bukan membawa bensin," tegas Asro.
(T.D009/Z002)

Editor: Ruslan Burhani
Source: www.antaranews.com
Kemampuan Baca Tulis Alquran Benahi SDM Indonesia
Membaca Alquran (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Kemampuan membaca dan menulis Alquran harus dipupuk sejak bangku sekolah. Hal itulah yang ditanamkan Bupati Karawang, Ade Swara. Untuk itu, Ade meminta pihak sekolah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menambah jam belajar terkait membaca dan menulis kitab suci umat Islam itu.

"Selain itu, sekolah juga dapat mengembangkan kurikulum muatan lokal tertib lalu lintas," katanya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Karawang, di Lapangan Karangpawitan, Karawang, Rabu (2/5).

Dalam momentum peringatan Hardiknas tersebut, secara langsung Bupari meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Karawang, dan Polres Karawang untuk mengimplementasikan kurikulum satuan pendidikan.

Kurikulum satuan pendidikan itu sendiri, meliputi peningkatan kemampuan siswa untuk membaca dan menulis Alquran pengembangan kurikulum muatan lokal tertib lalu lintas, dan mencegah penyebaran dan penggunaan narkoba di kalangan pelajar.

Bupati juga menegaskan, agar pada tahun ajaran 2012/2013 setiap satuan pendidikan dapat melaksanakan manajemen berbasis sekolah secara utuh, sehingga terwujud kemandirian dan kreativitas sekolah yang memiliki visi dan misi target mutu serta memiliki kepemimpinan yang kuat. Menurut bupati, hingga kini kualitas sumber daya manusia masih menjadi persoalan utama dalam bidang pendidikan di Indonesia, baik di tingkat pendidikan tinggi maupun pendidikan dasar dan menengah.

Lebih lanjut Bupati menjelaskan, pembenahan kualitas SDM tersebut bukan pekerjaan mudah. Waktu yang dibutuhkan juga tidak sebentar, karena banyak yang harus dibenahi dalam memajukan bidang pendidikan di Indonesia, termasuk di Karawang.

"Bidang pendidikan harus terus dikembangkan, karena jalur pendidikan merupakan tulang punggung pengembangan sumber daya manusia yang dimulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi," katanya.

Ia menilai, supaya pengembangan sumber daya manusia dapat mencapai sasaran yang tepat secara efektif dan efisien, diperlukan konsep, strategi dan kebijakan yang tepat pula. Hal tersebut penting dilakukan karena peningkatan kualitas SDM Indonesia tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing di dalam maupun diluar negeri, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan penghasilan bagi masyarakat.

Redaktur: Karta Raharja Ucu
Sumber: Antara
Source: www.republika.co.id
>>