• img
Arti Lambang Tutwuri Handayani, Logo Tutwuri Handayani - Kebanyakan orang menyebutnya Tutwuri Handayani yang sebenarnya adalah Logo atau Lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0398/M/1977 tanggal 6 September 1977 dengan uraian arti lambang sebagai berikut:

Arti Lambang Tutwuri Handayani, Logo Tutwuri Handayani

(1) BIDANG SEGI LIMA (Biru Muda) Menggambarkan alam kehidupan Pancasila.

(2) SEMBOYAN TUT WURI HANDAYANI
Digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan system pendidikannya. Pencantuman semboyan ini bearti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.

(3) BELENCONG MENYALA BERMOTIF GARUDA
Belencong (menyala) merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. Cahaya belencong membuat pertunjukan menjadi hidup.
Burung Garuda (yang menjadi motif belencong) memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas. Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: “Satu kata dengan perbuatan Pancasilais”

(4) BUKU
Buku merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

(5) WARNA
Warna putih pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih.
Warna kuning emas pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian. Warna biru muda pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup pancasila).
Source: ptkguru.com
Tips Membaca Cepat
Shutterstock
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Anda suka membaca, tetapi lamban dalam menyelesaikan "eksekusi" satu buku? Nah, Linda Saptadji dari Yayasan Anak Indonesia Suka Baca berbagi sejumlah tips dan trik membaca cepat. Seperti apa?

" Dalam membaca buku, kita harus mengetahui dulu apa garis besar dari buku tersebut," kata Linda, di Jakarta Book Fair, pekan lalu.

Ada lima tips yang menurut Linda bisa diterapkan agar bisa membaca dengan cepat:
  1. Percepatlah bagian yang sudah Anda pahami. Jika Anda menemukan sub bab yang tidak penting atau familiar, Anda bisa melompatinya.
  2. Perlambatlah ketika menemukan sesuatu yang baru dipahami. Perlambatan ini diperlukan untuk mencerna istilah-istilah yang baru dikenal atau baru ditemui.
  3. Tidak mengeluarkan suara dalam membaca karena dapat memakan waktu lebih lama.
  4. Usahakan tidak banyak bergerak saat Anda membaca. Gerak yang dihasilkan akan membuang waktu dan menghambat untuk membaca cepat.
  5. Mental block. Artinya, ketika membaca buku jangan mulai berpikir kita sudah mengetahui isi dalam buku tersebut.

Selamat membaca!

Penulis : Alfiyyatur Rohmah
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Source: edukasi.kompas.com
Kampus, Solusi Ruang Hijau
Johan Rubiyanto. (Foto: dok. pribadi)


PERTUMBUHAN manusia yang semakin tidak terbendung, arus urbanisasi dari desa ke kota karena berbagai faktor konstruksi kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan sebagainya telah mengakibatkan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak positifnya adalah berkurangnya pengangguran serta meningkatnya kesejahteraan mereka. Tetapi, berbagai masalah juga muncul, mulai dari ketimpangan pembangunan secara infrastruktur dan ekonomi di kota dan desa hingga minimnya jaminan dari segi keselamatan, kesehatan, pendidikan bagi para pendatang. Dampak paling jelas adalah, urbanisasi akan meningkatkan populasi manusia dari tahun ke tahun yang langsung berpengaruh terhadap semakin sempitnya tanah perkotaan untuk tempat tinggal pendatang.

Pemanfaatan lahan kosong oleh pendatang untuk tempat tinggal serta mata pencaharian tentunya akan mengakibatkan semakin sedikitnya ruang hijau yang tersedia di daerah perkotaan. Hak masyarakat untuk memiliki ruang hijau pun kian berkurang. Belum lagi pembangunan yang niatnya membangun yang buruk menjadi baik, justru mengakibatkan pengotoran dan perusakan lingkungan hijau perkotaan

Ruang hijau ini sangatlah vital bagi warga perkotaan. Semakin meningkatnya kesemerawutan lalu lintas, tuntutan pekerjaan dan hidup serta masalah-masalah social lainnya akan meningkatkan stres secara signifikan di kalangan warga kota yang tidak mempunyai akses hiburan yang relatif mahal dan jauh dari daerah perkotaan. Ruang hijau sering dimanfaatkan untuk olahraga masyarakat, tempat berkumpul keluarga, berekreasi dan beristrahat sejenak dari rutinitas hidup. Ruang hijau selain untuk meredam stres masyarakat juga sebagai paru-paru Ibu Kota dan menetralisasi udara yang penuh dengan polusi.

Pada kenyataanya, ruang hijau ini sangatlah sedikit dan dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Banyaknya lahan kosong justru dimanfaatkan untuk kepentingan komersil seperti mal, apartemen atau kawasan perkantoran. Diperlukan sebuah terobosan baru untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satunya adalah pemaksimalan lahan kosong yang berada di lingkungan pemerintahan dan akademik (kampus). Kampus tidak hanya sebagai tempat belajar mengembangkan diri, berorganisasi atau tempat yang berhubungan dengan masalah akademik. Lebih dari itu, kampus mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan publik atau pemanfaatan lahan kampus yang kosong untuk ruang hijau yang akhirnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat umum. Posisi kampus yang kebanyakan di tengah kota perlu diberi perhatian khusus dalam hal pengembangan wilayahnya. Kampus sebaiknya mempertimbangkan untuk tidak hanya membangun fasilitas penunjang akademisi, tetapi fasilitas yang bisa termanfaatkan oleh masyarakat luas, misalnya taman sebagai ruang hijau.

Kesehatan masyarakat akan berbanding lurus dengan tersedianya nutrisi yang diperlukan tubuh, pola hidup, serta kondisi lingkungan. Pemanfaatan lahan kosong kampus untuk ruang hijau paling tidak akan bermanfaat di antaranya:

Sarana pendekatan dengan masyarakat

Adanya ruang hijau di tengah-tengah kampus juga dapat menjadi sarana pendekatan dari pihak kampus kepada masyarakat. Disadari atau tidak, secara struktur sosial, kedekatan civitas kampus, terutama mahasiswa, sangatlah perlu untuk ditingkatkan lagi. Dengan adanya pendekatan ini pula, maka mahasiswa dapat mengenal lebih jauh struktur sosial yang ada di sekitarnya sehingga peran mahasiswa sebagai agen perubahan di dalam masyarakat akan dapat termaksimalkan. Cara ini juga diharapkan akan melunturkan pengkastaan sosial antara civitas kampus dengan masyarakat.

Kesadaran akan pendidikan

Idealisme masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi dirasa sangatlah rendah. Selain mahalnya biaya kuliah, pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan masih kurang. Pendidikan hanya dipahami sebagai alat untuk mencari uang. Banyak yang bilang, “Kenapa sekolah tinggi? Toh ujungnya nyari uang juga.” Dengan pendekatan tadi, diharapkan motivasi masyarakat untuk menuntut ilmu semakin meningkat.

Munculnya keserasian

Keserasian manusia dengan alam tidak hanya dalam masalah teknologi, bagaimana menggunakan alam secara bijak, tetapi juga upaya untuk terus membagun alam yang ramah terhadap lingkungan perkotaan. Tata kota menjadi sangat vital untuk dilakukan dalam memenuhi keramahan alam tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga jangka panjang. Memaksimalkan lahan kosong, termasuk lahan di tengah pemerintahan maupun akademisi (kampus) adalah salah satu sikap bijak keramahan terhadap alam perkotaan.

Ruang hijau sebenarnya mutlak dibutuhkan oleh masyarakat perkotaan, terutama untuk sarana peningkatan kesehatan masyarakat. Adanya keterbatasan lahan dapat diatasi dengan memaksimalkan tanah kosong yang ada di tengah-tengah kampus untuk diubah menjadi ruang hijau, atau pembukaan ruang hijau kampus kepada publik. Hal ini tentunya harus adanya dukungan dari semua pihak kampus dan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan di dalam mayarakat

Johan Rubiyanto
Mahasiswa PAI, Fak. Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Staf Humas KAMMI Komsat UIN
(//rfa)
Source: kampus.okezone.com
Margaret Puspitarini
Wajah Baru SNMPTN Hampir Mirip Jalur Undangan
Ilustrasi: siswa SMA. (Dok. Unpad)

Penghapusan ujian tulis pada jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 menimbulkan konsekuensi baru. Proses penilaian terhadap kemampuan calon mahasiswa yang dilakukan melalui tes, kini hanya mengacu pada nilai rapor dan hasil Ujian Nasional (UN) siswa.

Menurut Ketua Panitia SNMPTN 2013 Akhmaloka, peserta SNMPTN yang gagal dalam UN tidak bisa diterima melalui jalur SNMPTN karena UN merupakan salah satu tolok ukur prestasi di SMU selain rapor kelas. Pada dasarnya, SNMPTN 2013 sistemnya hampir sama dengan SNMPTN jalur Undangan pada 2012. Perbedaan terletak pada pihak sekolah yang akan merekomendasikan anak didiknya harus mengisi data sekolah dan siswa di Pusat Pangkalan Data Siswa dan Sekolah secara online.

"Semua boleh merekomendasikan anak didiknya tidak membedakan negeri atau swasta, terakreditasi atau tidak yang penting sekolah tersebut mempunyai Nomor Pokok Sekolah Nasional (NSPN) dan bagu peserta SNMPTN harus memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN)," papar Akhmaloka, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (11/12/2012).

SNMPTN tahun depan, lanjutnya, mempunyai misi untuk mengembangkan cita-cita luhur pendidikan. Bagaimana membangun kepercayaan dengan selektif serta ada partisipasi sekolah dalam kegiatan seleksi.

Tidak hanya itu, kata Akhmaloka, SNMPTN juga merupakan wahana edukasi nasional, pemanfaatan teknologi informasi bagi generasi muda terdidik, membangun budaya akademik kejujuran, serta membangun kepedulian PTN terhadap mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi tapi mempunyai prestasi tinggi.

"Pada SNMPTN 2013, sekolah yang akan merekomendasikan anak didiknya untuk mendaftar harus memasukan semua data entri sekolah dan murid. Template excel-nya dapat diunduh pada laman SNMPTN 2013. Bagi yang tidak mengisi pangkalan data siswa dan sekolah (PDSS) maka pendaftarannya tidak akan terverifikasi," urai Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.(rfa)
Source: kampus.okezone.com
Dolanan yang Ditelan Zaman
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Permainan Gobak Sodor
Oleh M Jamalludin

KOMPAS.com - Cublak-cublak suweng/Suwengé ting gulèndhèr/ Mambu ketundung gudhèl/ Pak jempol léda ledé/ Sapa nggawa ndelikaké/ Sir... sirpong dhelé gosong sir/ Sirpong dhelé gosong

Sebuah lagu dari zaman dahulu. Lagu itu penuh kenangan dan biasa dinyanyikan orang pada waktu kita masih kecil. Rasanya lagu-lagu dolanan kini telah ditelan zaman. Jarang kita jumpai kembali dolanan atau permainan anak yang mampu membantu perkembangan anak selain dari bangku sekolah.

Padahal, dunia itu sekolah kami, semesta itu laboratorium kami, kehidupan itu pustaka kami, siapa pun itu adalah guru kami. Artinya, kita bisa mendapat pengajaran bukan hanya dari bangku sekolah, melainkan juga dari lingkungan di sekitar kita, bahkan ketika kita bermain.

Ada nilai edukasi tersendiri ketika kita mengetahui makna-makna dolanan. Ada ratusan permainan yang jarang lagi bisa kita temui. Padahal, setiap permainan juga mempunyai makna tersendiri. Seni permainan anak-anak nasibnya tidak semanis dulu. Kini sulit kita jumpai kegembiraan anak-anak yang berdendang jamuran, soyang, atau cublak-cublak suweng kala rembulan bersinar terang.

Anak-anak lebih suka menonton televisi daripada keluar rumah, bermain di bawah sinar mentari. Ini gejala memprihatinkan. Setidaknya peristiwa semacam itu bagi generasi tua hanya akan menjadi kenangan. Sebab, generasi selanjutnya tidak lagi melakukan permainan kreatif tersebut.

Perkembangan seni permainan bak berjalan mundur sehingga kian tidak dikenali anak-anak masa kini. Sebenarnya konsep dalam sebuah permainan itu berawal dari peninggalan sejarah sejak Ki Hajar Dewantara mulai memperkenalkan konsep ”sistem among” yang menggunakan dolanan anak (bahasa Belanda: kinder spellen) sebagai sifat kodrat semua anak untuk sarana pendidikan. Jadi, semua dolanan bertujuan membangkitkan rasa gembira dan kemerdekaan jiwa sang anak.

Lima nilai

Menurut Ki Hadi Sukatno, salah seorang penerima penghargaan seni dari Pemerintah Indonesia pada 6 April 1981, dolanan anak tradisional dapat dibagi menjadi lima nilai.

Pertama, mainan yang bersifat menirukan perbuatan orang dewasa, misalnya pasaran, mantenan, dayoh-dayohan, membuat rumah dari batu dan pasir, membuat pakaian boneka dari kain perca atau dari kertas, serta membuat wayang dari janur atau rerumputan. Saat permainan ini berlangsung, saking asyiknya anak-anak merasakannya sebagai perbuatan yang sungguh-sungguh.

Kedua, permainan untuk mencoba kekuatan dan kecakapan. Permainan ini tanpa disadari anak-anak bertujuan melatih kekuatan dan kecakapan jasmani. Permainan itu misalnya tarik-menarik, berguling-guling, bergulat, berkejar-kejaran, gobak sodor, gobak bunder, bengkat, benthik-uncal, jethungan, genukan dengan gendongan, obrok, tembung, dan bandhulan. Jenis permainan ini masih banyak lagi yang tak dikenal oleh generasi masa kini.

Ketiga, permainan melatih pancaindera. Dalam permainan ini termasuk latihan kecakapan meraba dengan tangan, menghitung bilangan, memperkirakan jarak, menajamkan alat penglihatan dan pendengaran, serta menggambar.

Permainan semacam itu misalnya gatheng, dakon, macanan, sumbar-suru, sumbar-manuk, sumbar-dulit, kubuk, adu-kecik, adu-kemiri, main kelereng, jirak, bengkat, pathon, dekepan, menggambar di tanah, main petak umpet, main bayang-bayangan, dan serang-serongan. Permainan jenis kedua dan ketiga ini erat hubungannya dengan aktivitas olahraga.

Keempat, permainan dengan latihan bahasa, yaitu permainan anak-anak berupa percakapan. Setiap kali anak-anak berkumpul biasanya selalu terlibat dalam perbincangan tentang dongeng, cerita pengalaman, atau teka-teki yang menumbuhkan fantasi.

Biasanya tampil seseorang dengan teka-teki yang kemudian anak lainnya mengikuti sehingga tidak hanya bersikap pasif menebak, tetapi juga membalas mengajukan teka-teki sendiri. Ini tidak terbatas pada teka-teki yang sudah lazim, seperti pitik-walik saba kebon dan pong-pong bolong, tetapi bisa timbul teka-teki buatan sendiri yang orisinal. Di sinilah tumbuh kembangnya kecakapan bahasa dan kecerdasan otak.

Kelima, permainan dengan lagu dan wirama. Membicarakan ”dolanan anak” dengan lagu dan gerak wirama sangatlah luas dan banyak sekali ragamnya, misalnya jamuran, cublak-cublak suweng, bibi tumbas timun, manuk-manuk dipanah, tokung-tokung, blarak-blarak sempal, demplo, bang-bang-tut, pung-irung, bethu-thonthong, kidang-talun, dan ilir-ilir.

Pada zaman modern, permainan anak tradisional atau yang di daerah berbahasa Jawa biasa disebut dolanan bisa dikatakan terlupakan. Anak-anak sekarang lebih suka bermain PlayStation, internet, atau game online, yang kadang justru berdampak negatif terhadap perkembangan kepribadian mereka.

Anak-anak menjadi malas bergerak, bahkan ada beberapa yang ekstrem nekat membolos sekolah gara-gara kecanduan game.

Permainan tradisional pada umumnya mempunyai arti dan makna moral atau sikap yang baik terhadap perkembangan anak usia dini. Oleh karena itu, kita perlu menjaga dan melestarikan permainan tersebut.

Selain sebagai pelajaran moral terhadap anak, permainan tradisional merupakan warisan kesenian bangsa Indonesia yang mempunyai nilai tinggi. Jangan sampai kesenian tersebut justru dipelajari, bahkan diklaim sebagai milik budaya bangsa lain.

M Jamalludin Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus

Sumber : Kompas Cetak
Editor : Caroline Damanik
Source: edukasi.kompas.com
JAKARTA - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengungkapkan bahwa pengangguran intelektual di Indonesia masih cukup banyak. Menurutnya, kesempatan kerja yang tersedia tak mampu diserap alumni perguruan tinggi sehingga angka pengangguran intelektual terus meningkat.

“Paradigma dan kurikulum pendidikan tinggi mesti dirombak total. Mereka harus memiliki perencanaan untuk mengarahkan produktivitas sumber daya manusia sehingga lulusannya siap bekerja dan menjadi tenaga kerja handal," ungkap Muhaimin di Jakarta, Sabtu (1/12).

Muhaimin lantas menyodorkan data BPS Agustus 2012. Menurutnya, dari 110,8 juta orang penduduk Indonesia yang bekerja ternyata 53,88 juta (48,63 persen) di antaranya hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Sementara pekerja lulusan SMP sebanyak 20, 22 juta (18,25 persen). Sedangkan pekerja bergelar sarjana hanya mencapai 6,98 juta orang (6,30 persen ). Sisanya, sebanyak 2,97 juta (2,68 persen) adalah pekerja dengan pendidikan diploma.

Selama ini, lanjut Muhaimin, paradigma dan kurikulum pendidikan tingkat tinggi hanya mengejar tingkat kelulusan. Sayangnya, kata menteri yang juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, kuantitas lulusan tidak dibarengi dengan kualitas.

“Link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja belum berjalan optimal. Lembaga-lembaga pendidikan seolah menerapkan ditarget cepat lulus dan mendapat gelar sarjana, tanpa membekali alumninya dengan keterampilan kerja,“ jelasnya.

Dikatakan, bila fenomena seperti ini terus berlangsung maka Indonesia bakal dipenuhi penggangguran intelektual yang tak mampu menyerap kesempatan kerja yang ada. Karenanya Muhaimin berharap perguruan tinggi bisa mendisain profesi bagi para mahasiswanya.

"Sejak semester pertama mahasiswa di masing-masing PTS harus mampu mengukur profesi sehingga setelah tamat mereka sudah langsung siap bekerja,” kata Muhaimin.

Meski demikian Kemenakertrans telah menyiapkan empat program untuk menekan angka pengangguran intelektual. Pertama adalah dengan membangun kompetensi melalui Balai Latihan Kerja (BLK), pembangunan sistem pendidikan, memfasilitasi tumbuh dan berfungsinya mekanisme bursa kerja (job fair), serta memrakarsai program pengembangan kewirausahaan. (Cha/jpnn)
Source: www.jpnn.com
Penulis : Riana Afifah
Kurikulum Baru SMP Berbasis Teknologi Informasi
KOMPAS.COM/ M LATIEF
Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada Juni 2013 nanti, para guru dan siswa akan menjalankan kurikulum baru. Kurikulum untuk berbagai jenjang pendidikan mengalami perubahan termasuk di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa perkembangan teknologi saat ini sangat pesat. Untuk itu, mulai jenjang SMP, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) akan dijadikan sarana pembelajaran pada semua mata pelajaran.

"Jadi TIK menjadi media semua mata pelajaran untuk jenjang SMP ini sehingga anak-anak juga bisa mengenal teknologi dengan baik," kata Nuh saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

"Tidak ada pelajaran komputer sendiri. Itu semua diintegrasikan dengan mata pelajaran lain," jelas Nuh.

Rencananya, pihaknya akan mendorong agar tiap sekolah dilengkapi dengan perangkat komputer dan sambungan internet sehingga memudahkan anak-anak dalam menerapkan TIK yang menjadi media dalam tiap mata pelajaran.

"Seharusnya seperti itu. Komputer paling tidak tiap sekolah harus punya untuk anak didiknya," ungkap Nuh.

Meski sarana pembelajarannya ditekankan dengan TIK, pendekatan yang dilakukan pada tingkatan ini tidak jauh berbeda dengan pendekatan pada pendidikan dasar. Sains tetap menjadi penggerak dan terintegrasi dengan mata pelajaran lain.

Kendati demikian, IPA dan IPS telah muncul sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri. Begitu pula dengan bahasa Inggris yang mulai diajarkan untuk membentuk ketrampilan bahasa dan masuk dalam struktur kurikulum baru sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri.

Dengan perubahan kurikulum ini, 12 mata pelajaran yang dulu diajarkan pada tingkat SMP menjadi berkurang menjadi 10 mata pelajaran yaitu Agama, PPKn, Matematika, bahasa Indonesia, Seni Budaya, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, IPA, IPS, bahasa Inggris dan Prakarya.

Sementara untuk mata pelajaran pengembangan diri, seperti TIK akan diintegrasikan ke semua mata pelajaran. Tidak hanya itu, penilaian pada jenjang sekolah ini juga sedikit mengalami perubahan. Hasil karya atau portofolio anak-anak ini akan dijadikan instrumen untuk penilaian juga.

"Ini untuk mendorong agar anak-anak bisa kreatif. Karena itu ada mata pelajaran Prakarya dalam kurikulum baru ini," tandasnya.

Editor : Caroline Damanik
Source: edukasi.kompas.com
BANDUNG, (PRLM).-Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Wahyudi Zarkasyi mengatakan dahulu pembentukan karakter di rumah cukup kuat. Namun kini, hal itu tidak berlaku lagi. Anak masa kini tidak bisa belajar di rumah terutama karena orang tuanya harus bekerja.

"Seharian berada di sekolah menjadi satu solusi agar si anak menjadi figur yang diharapkan. Supaya tidak memberatkan, sekolah harus menyenangkan dan memberikan fasilitas yang memadai. Terpenting jangan ada PR (pekerjaan rumah) semua padatkan saja di sekolah," kata Zarkasyi di Hotel Grand Pasundan, Jln. Peta, Sabtu (17/11).

Menurutnya, belajar berlama-lama tanpa paksaan tidak akan menjadi beban, sebaliknya tambah menyenangkan. Lihat saja anak-anak yang sekolah di sekolah full day, lebih semangat dan ceria tidak keberatan. Penambahan jam pelajaran juga akan mengurangi anak sekolah untuk mengambil kelas bimbingan di luar sekolah.

"Untuk apa les, kalau, sekolah sudah menyediakan semuanya. Yang diharapkan orang tua siswa itu kan sekolah memberikan pelayanan seperti yang dikehendakinya. Semua sudah tersedia di sekolah," ujarnya.

Menurutnya, sekolah yang bagus adalah sekolah yang membuat anak didiknya betah. Sekolah juga harus memiliki berbagai fasilitas atau memiliki tanah seluas sekitar dua hektar sehingga lahanya bisa dipergunakan berbagai kegiatan positif dan disukai anak-anak.

"Semuanya itu tergantung kondisional, namun yang penting target terpenuhi, seperti di Bekasi Utara anak betah di sekolah karena ada lapangan sepak bola, tempat belajar luas, pokoknya infrastrukturnya bagus. Mereka merasa lebih nyaman di sekolah dari pada di rumah," ungkap Zarkasyi. (A-208/A-107)***
Source: www.pikiran-rakyat.com
JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim meminta para Kepala Dinas di seluruh Indonesia ikut mendukung program teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bagi pendidikan di daerahnya masing-masing.

"Ke depan kepala dinas pendidikan kabupaten dan kota agar ikut menyediakan akses TIK, apalagi sudah ada kerjasama antara Kemendikbud dengan Telkom," kata Musliar Kasim, Jumat (9/11) malam, usai menyerahkan Anugerah Kihajar (Kita Harus Belajar) 2012, kepada 14 kepala daerah yang mempunyai andil besar dalam pemanfaatan TIK di daerahnya.

Musliar mengatakan, Anugerah Kihajar diberikan sebagai motivasi agar daerah memperkuat perannya membangun pendidikan berbasis TIK. Karena saat ini dunia pendidikan sulit dipisahkan dari kemajuan teknologi.

"Pelayanan pendidikan berbasis TIK tidak hanya bersifat informasi, tapi juga layanan dalam propses pembelajaran yang telah disediakan melalui portal Rumah Belajar yang telah diluncurkan Bapak Menteri sejak tahun 2011," jelasnya.

Ditambahkannya, Portal Rumah Belajar berbasi TIK tidak hanya berguna bagi peserta didik, tapi bagi semua pemangku kepentingan pendidikan, guru maupun pemerhati pendidikan melalui konten-konten yang ada di portal tersebut.

Di antara kepala daerah yang menerima Anugerah Kihajar 2012, yakni Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, kategori Gubernur dengan kepemimpinan dalam pendayagunaan TIK untuk pendidikan. Gubernur Aceh, Zaini Abdullah kategori Gubernur dengan program TIK untuk pendidikan terbaik. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno kategori Gubernur dengan inisiatif pendayagunaan TIK untuk pendidikan.

Kemudian Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, kategori Gubernur dengan dukungan kebijakan TIK untuk pendidikan terbaik. Gubernur Kalimantan Selatan, Rudi Arifin, kategori Gubernur dengan penerapan TIK untuk pendidikan terbaik, dan Gubrnur Kepulauan Riau, Muhaimin Sani peraih penghargaan khusus untuk Gubernur dalam pengembangan infrastruktur TIK pendidikan wilayah kepulauan dan perbatasan.(fat/jpnn)
Source: www.jpnn.com
Remaja yang Tunda Hubungan Seks Lebih Cerdas
Merasionalisasi seks di usia remaja
meningkatkan prestasi. (bodyandsoul.com)

VIVAlife - Menahan diri untuk tak melakukan hubungan seks sebelum mencapai usia dewasa ternyata mempengaruhi kecerdasan. Riset Universitas Purdue membuktikan, remaja yang berpantang melakukan hubungan seks memiliki prestasi yang lebih baik.

Selama studi, peneliti mengamati 42 sekolah menengah atas di Indiana AS. Semua sekolah memiliki ukuran demografi masyarakat, aturan dan ras yang sama. Setengah dari sekolah menawarkan program pendidikan abstinence yang mendorong siswa menunggu hingga usia dewasa sebelum melakukan hubungan seksual. Sedangkan setengah lainnya tak diterapkan aturan yang sama.

Hasilnya, sekolah yang menerapkan program pantang melakukan hubungan seks di usia remaja siswanya memiliki nilai lebih tinggi dalam ujian matematika daripada kelompok kontrol. Untuk setiap tahun pemberlakuan pendidikan pantang hubungan seks, nilai siswa naik sebesar 1,5 persen.

Para periset menyimpulkan bahwa mendorong rasionalitas mengenai seks meningkatkan prestasi belajar dan mengurangi kehamilan remaja. "Ketika otak disibukkan oleh hubungan seks, kecerdasan intelek dilemahkan. Jika sebagian kecil dari otak difokuskan pada seks, akan membebaskan lebih banyak ruang untuk dipikirkan," ujar peneliti yang dimuat dalam Askmen. (Anda Nurlaila)
Source: life.viva.co.id
JAKARTA - Wujud kepedulian terhadap pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional telah melahirkan sebuah Gerakan Indonesia Berkibar (GIB). Gerakan ini berupaya mengajak seluruh lapisan masyarakat terlibat memberikan kontribusinya terhadap kemajuan pendidikan nasional.

Ketua Umum Komite Gerakan Indonesia Berkibar, Shafiq Pontoh memaparkan perkembangan ekonomi Indonesia belakangan ini mengalami kemajuan yang mengesankan, bahkan tercatat tertinggi kedua di G-20 setelah Cina. Namun di balik keberhasilan ini, terdapat data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2011 yang mencatat tidak kurang dari setengah juta siswa SD dan sekitar 200 ribu siswa SMP putus sekolah.

"Apabila perbaikan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, maka tidak hanya segi kuantitas melainkan kualitas kesejahteraan masyarakat pun lebih baik sehingga mendukung pembangunan ekonomi di Indonesia yang lebih baik,” ujar Shafiq Pontoh dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (24/10).

Melalui kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam Gerakan Indonesia Berkibar, maka kapasitas dan sumber daya untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah, dapat dicapai. Mekanisme kerjasama dibangun dalam bentuk program pelatihan dan pendampingan untuk sekolah-sekolah yang didukung tenaga ahli, serta pendekatan berdasarkan hasil penelitian.

Untuk mewujudkan pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional ini, lanjutnya, Gerakan Indonesia Berkibar telah mendapat dukungan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia serta 7 pemerintah daerah, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Papua Barat.

Bahkan 34 institusi yang terdaftar sudah bergabung dalam Gerakan Indonesia Berkibar, baik sebagai mitra yang mengalokasikan dana CSR untuk menjalankan program tanggung jawab sosial untuk perbaikan kualitas pendidikan.

“Dengan bergulirnya gerakan ini, kami berharap akan semakin banyak kemitraan yang dibangun dan semakin banyak pula propinsi di Indonesia yang merasakan peningkatan kualitas pendidikan,” tambah Shafiq Pontoh.

Untuk memastikan bahwa program Gerakan Indonesia Berkibar terimplementasi dengan baik, sebuah komite khusus dibentuk untuk memonitor perkembangan program. Anggota dari komite ini terdiri dari empat komponen masyarakat pendukung Gerakan Indonesia Berkibar: endorser, mitra, fasilitator dan influencer.

Gerakan Indonesia Berkibar baru akan diresmikan secara nasional di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta, 28 Oktober 2012 mendatang. Rangkaian kegiatan mencakup Upacara Peluncuran yang dilaksanakan bersama oleh Presiden Republik Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Komite Gerakan Indonesia Berkibar dan sejumlah tokoh komunitas dan seniman pendukung Gerakan Indonesia Berkibar.

Staf Ahli Kemendikbud RI, Prof. Dr. Kacung Marijan yang hadir dalam diskusi itu menyambut baik lahirkan Gerakan Indonesia Berkibar. Dia mengatakan bahwa Pemerintah tidak dapat bekerja sendirian mengatasi masalah pendidikan, sehingga membutuhkan kerjasama dari berbagai lapisan masyarakat guna memenuhi kebutuhan pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh negeri.

“Semakin banyak pihak-pihak yang terlibat untuk berkontribusi meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, semakin besar pula harapan menuju Indonesia yang lebih baik,” ungkap Prof. Dr. Kacung Marijan.

Program Gerakan Indonesia Berkibar pada intinya merupakan merupakan upaya penjaminan mutu pendidikan. Program dijalankan sesuai standar nasional pendidikan meliputi program peningkatan profesionalisme guru, kepemimpinan pendidikan dan manajemen sekolah, tata kelola sekolah, dan program Lanjutan.

“Kami optimis bahwa dengan dukungan positif dari berbagai pihak dan kapasitas program yang dibangun oleh Gerakan Indonesia Berkibar, maka semakin besar kesempatan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan berkualitas,” tambah Prof. Dr. Kacung Marijan.(fat/jpnn)
Source: www.jpnn.com
Oleh: Fauzi Aziz
Pendidikan dan Pengajaran
Fauzi Aziz

SEJAK peristiwa tawuran yang tak kunjung bisa diselesaikan, ramailah di media bermunculan komentar, pendapat dan kritik dari berbagai kalangan, mulai dari yang ahli sampai yang setengah ahli dan yang tidak ahli membicarakan tentang sistem pendidikan di Indonesia.

Tawuran terjadi bisa dikatakan karena pendidikan hanya diterima melalui kuping kanan dan keluar di kuping kiri. Jadi hanya numpang lewat saja. Opini ini tidak mau terjebak pada diskursus bahwa sistem pendidikan nasional ada yang salah. Tapi jika kita lihat dalam keseharian, mungkin memang benar ada yang salah, atau paling tidak persepsinya dalam memahami konsep pendidikan itu sendiri.

Anak didik di sekolah diajari 2×2=4 dan YES dalam bahasa Indonesia artinya YA. Maka opini mengatakan bahwa ini bukan pendidikan, tapi pengajaran. Betul nggak pak Mendiknas. Makanya banyak pihak mengatakan bahwa pendidikan itu menjadi tanggung jawab bersama, yakni orang tua, guru dan tokoh masyarakat.

Mengapa demikian? Mari kita jawab sendiri. Belajar matematika atau bahasa Inggris di sekolah akan bermakna sebagai sebuah hasil dari pendidikan bilamana si anak didik melalui satu proses yang panjang dapat menggunakannya dengan benar untuk kepentingan yang luas bagi pembangunan peradaban dan bukan untuk sekedar menggapai kepentingan yang sempit, sekedar pintar, trampil dan ahli.

Jika output-nya hanya menjadikan manusia pintar, trampil dan ahli, hal yang demikian adalah menjadi tanggung jawab guru untuk melakukannya melalui proses belajar mengajar. Oleh karena itu, secara metodologis nomenklatur penyebutannya yang tepat adalah menyelenggarakan pengajaran. Tapi kalau berbicara soal pendidikan, jawabannya adalah kita semua ikut bertanggungjawab atas proses dan hasilnya.

Orang tua banyak berpersepsi keliru dalam hal pendidikan ini. Seolah-olah guru yang bertanggungjawab penuh atas anak didiknya, padahal seharusnya orang tua juga ikut bertanggungjawab.

Pendidikan lebih bermuatan pada proses memanusiakan manusia. Artinya, kecerdasan intelektual yang dipelajarinya sejak TK sampai anak yang bersangkutan mencapai gelar akademis yang paling tinggi, dimaksudkan untuk memuliakan manusia yang lain yang pada saatnya dia akan mendapatkan kemullaan disisi Tuhan YME.

Berilmu bukan untuk membuat sengsara orang lain atau membuat kehancuran di muka bumi. Menguasai ilmu pengetahuan hakekatnya hanya berfungsi sebagai instrumen untuk menjalankan sebuah proses transformasi agar manusia bisa saling mengisi dan saling bisa memuliakan.

Seorang dokter pada dasarnya hasil dari proses pengajaran, di mana selama kuliah diajarkan bagaimana cara mengenali penyakit dan bagaimana cara mengobatinya. Tapi manakala si dokter menjalankan tugasnya diarahkan agar tidak semata-mata berfikir tentang pendapatan namun juga harus berfikir tentang sisi kemanusiaan, maka arahan tadi kontennya bukan lagi masuk ranah pengajaran, tapi lebih bermakna sebagai hasil dari proses pendidikan.

Di abad globalisasi yang ditandai oleh kemajuan di bidang teknologi informasi, manusia rupanya terjebak dalam retorika kehidupan bahwa manusia harus menguasai iptek. Semua sekolah, universitas dimanapun berlomba-lomba berkontribusi untuk mencetak para ahli di berbagai bidang keilmuan.

Langkah ini secara totalitas tidak salah karena hanya dengan menguasai iptek, pembangunan peradaban dapat dilakukan. Semua lembaga “pendidikan” di dunia menceburkan anak “didiknya” untuk bisa berenang di lautan luas agar bisa menguasai bidang keilmuan tertentu. Tidak menguasai iptek, nyaris bisa menguasai dunia.

Ketrampilan dan keahlian sejatinya adalah output dari proses pengajaran. Karena itu, kita sering mengunakan istilah proses belajar mengajar. Tidak pernah ada yang menggunakan istilah misalnya “proses didik mendidik”. Sekolahan, akademi dan universitas selalu disebutnya lembaga pendidikan, padahal yang paling banyak porsinya diberikan kepada siswa dan mahasiswa, sebenarnya proses belajar mengajar.

Jadi qua nomenklatur harusnya lembaga-lembaga tersebut lebih tepat disebut sebagai lembaga pengajaran. Atau nomenklaturnya disebut dua-duanya, yaitu lembaga pendidikan dan pengajaran karena semua kita memerlukan keduanya. Pendidikan dan pengajaran adalah sekeping mata uang, dua-duanya penting bagi kehidupan.

Pendidikan dilihat dari porosesnya sebenarnya lahir duluan dibanding pengajaran. Pendidikan sejatinya sudah dimulai sejak bayi dalam kandungan bunda selama 9 bulan. Setelah lahir ke dunia dia akan mengalami proses pendidikan dan pengajaran yang idialnya harus selalu berpasangan.

Tapi orang tua sering lupa karena sekarang ini adalah abad globalisasi, abad teknologi informasi, maka orang tua dengan semangat heroiknya mempersiapkan anaknya agar menjadi orang yang punya ketrampilan dan keahlian dan sesudah itu mereka agar bisa mencari duit untuk bisa menghidupi dirinya dan keluarga.

Mencari duit dijadikan tujuan hidupnya, padahal mencari duit atau harta kekayaan sebenarnya hanya akibat dan tidak tepat dijadikan tujuan hidup. Yang tepat dijadikan tujuan ketika seseorang meguasai iptek adalah bagaimana dia dapat mentransformasikan ilmu agar menghasilkan manfaat bagi kehidupan.

Ketika ketrampilan dan keahlian itu ditransformasi di perusahaan, maka sebagai bentuk penghargaannya, perusahaan memberikan reward kepadanya berupa gaji dan berbagai bentuk tunjangan. Gaji dan tunjangan datang karena amal baktinya yang mendatangkan nilai dan manfaat bagi perusahaan dimana ia bekerja.

Dengan tesis ini, dapat disimpulkan, mengamalkan ilmu adalah tujuan hidup seseorang, gaji dan tunjangan yang diterimanya adalah ibarat ganjaran yang diterimanya. Hal seperti itu adalah yang bermakna pendidikan yaitu mengamalkan ilmu jauh lebih mulia di sisi manusia dan Tuhan daripada sekedar cari duit, ibarat hanya berfikir sekedar kejar setoran. ***
Source: www.tubasmedia.com
Penulis : Alfiyyatur Rohmah
Sering Ngantuk Saat Belajar? Ini Solusinya!
lustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - "Serangan" kantuk seringkali datang saat kita tengah konsentrasi belajar. Mungkin tak sedikit di antara Anda yang pernah mengalaminya. Tak hanya saat belajar, rasa kantuk juga sering datang tanpa diundang saat tengah bekerja, membaca, atau mengemudi.

Rasa kantuk yang menyerang bisa jadi "musuh" besar bagi mereka yang memiliki target untuk mencapai suatu keinginan. Beberapa pelajar dan mahasiswa mengaku tidak dapat mencapai target yang diinginkan dalam belajar. Salah satunya karena kantuk yang seringkali datang saat belajar.

"Nafas cuci aura dapat menunda kantuk selama tiga jam," ungkap Linda Saptadji, Psikolog Yayasan Anak Indonesia Suka Membaca, di Jakarta, Kamis (28/6/2012).

Nah, bagaimana metode pernafasan yang bisa menunda kantuk ini? Selain menghalau kantuk, metode ini juga bisa mengurangi nyeri akibat sakit kepala. Yuk, disimak!

1. Duduklah dengan posisi sembilan puluh derajat dan letakkan telapak tangan di atas paha untuk mencapai relaksasi. Tarik nafas dalam-dalam kemudian embuskan secara perlahan. Ulangi sampai tiga kali.

2. Masih dalam keadaan duduk dengan posisi sempurna, tutup lubang hidung sebelah kanan dengan menggunakan telunjuk, lalu ambil nafas dalam-dalam melalui lubang hidung sebelah kiri. Setelah menghirup udara dalam-dalam, tutup lubang hidung sebelah kiri dengan telunjuk dan embuskan pelan-pelan melalui lubang hidung sebelah kanan. Ulangi tiga kali.

3. Usap tangan beberapa kali hingga menimbulkan energi panas akibat gerakan kinetik, dan basuhlah tangan tersebut ke wajah anda. Anda akan merasakan kesegaran dan mampu beraktifitas selama tiga jam kedepan.

Selamat mencoba!!!

Editor: Inggried Dwi Wedhaswary
Source: edukasi.kompas.com
Penulis : Lusia Kus Anna
200 Remaja Pelajari Sistem Subak
Kompas.com/Lusia Kus Anna
Peserta World Heritage Education EF dan UNESCO ikut turun ke sawah untuk memanen padi organik di desa Jati Luwu, Tabanan, Bali.

TABANAN, KOMPAS.com - Untuk kedua kalinya lembaga kursus bahasa Inggris English First (EF) kembali mengadakan kegiatan World Heritage Education Program. Bekerja sama dengan UNESCO, kali ini peserta diajak mempelajari sistem pengairan subak di Bali yang lolos ke dalam nominasi warisan dunia. Acara yang diadakan sejak 24-26 Juni 2012 itu diikuti oleh 280 peserta berusia 8-18 tahun dari berbagai cabang EF di seluruh Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak melihat secara langsung sistem subak di Desa Jati Luwu, sekitar 25 km dari Kabupaten Tabanan, Bali. Country Director EF Indonesia, Arleta Darusalam, mengatakan selain belajar bahasa Inggris, murid-murid EF juga diajarkan untuk memiliki pemahaman akan keragaman budaya tanah air.

"Di tangan anak-anak ini ada tanggung jawab pelestarian budaya. Mengajak anak-anak belajar tentang budaya bisa menjadi promosi jangka panjang karena mereka mengalaminya secara nyata," katanya di sela acara.

Selain melihat langsung sistem subak, para peserta yang kebanyakan adalah anak-anak yang berasal dari kota itu juga diajak memanen padi organik menggunakan ani-ani. Mereka juga berbaur dengan penduduk Desa Jati Luwu untuk belajar gamelan dan tarian tradisional. Syntia (13), peserta dari Kediri mengaku senang mengikuti kegiatan ini sebagai pengisi liburan.

"Paling berkesan waktu panen padi karena ini baru pertama kali," ujarnya.

Masanori Nagaoka, Kepala Unit Budaya UNESCO kantor Jakarta, mengatakan, pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya pelestarian warisan budaya.

"Peran UNESCO dalam pelestarian budaya dan sejarah sangat terbatas. Peran utama justru ada pada masyarakat sekitar yang memiliki kebudayaan," katanya.

EF dan UNESCO memulai kerjasama mereka dalam pelaksanaan World Heritage Education tahun lalu di Jawa Tengah yang berfokus pada pelestarian budaya dan warisan Candi Borobudur.

Editor: Inggried Dwi Wedhaswary
Source: edukasi.kompas.com
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA-- UIN Syarif Hidayatullah bekerja sama dengan PAK Institute for Peace Studies (PIPS) menyelenggarakan dialog dengan tema 'Challenges Facing Indonesia and Pakistan in Religious, Educational and Intellectual Perspectives; prospects for experience sharing and engagement', Senin (25/6).

PPIPS adalah lembaga riset non pemerintah yang melakukan analisis terhadap politik, sosial dan agama.

Dialog antar ulama ini bertujuan sebagai wadah tukar fikiran mengenai sistem pendidikan di islam di kedua negara, pluralisme dan kebijakan terhadap agama. Dialog ini juga bertujuan membangun komunikasi antara tokoh-tokoh Muslim Indonesia dan Pakistan.

Dialog diikuti oleh delegasi Pakistan dan Indonesia yang masing-masing berjumlah 12 orang dan afiliasi dan latar belakang organisasi keagamaan yang berbeda. Delegasi Pakistan misalnya sebagian berasal dari sunni, syiah, dan salafi.

Sementara dari Indonesia, delegasi berasal dari kalangan Nahdatul Ulama, Muhammadiyah dan para akademisi. Delegasi Indonesia misalnya diwakili oleh Rektor UIN, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra, K.H Hasim Muzadi, Profesor Atho Mudzhar dan dari kalangan akademisi lainnya.

Dialog dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama membahas modernisasi sistem pendidikan Islam di kedua negara, termasuk tukar informasi dan tukar pikiran bagaimana Indonesia memulai proses demokrasi sistem pendidikan dengan tetap mempertahankan identitas keislaman.

Sementara sesi kedua fokus pada isu toleransi beragama. Sesi ini menjadi forum saling tukar menukar informasi bagaimana kedua negara mengapresiasi sekaligus mencari solusi terhadap pandangan keagamaan. Adapun sesi ketiga membicarakan bagaimana kebijakan negara terhadap agama di kedua negara. Forum juga membahas sejauh mana negara mengakomodir nilai-nilai Islam baik dalam bentuk legar formal dan lainnya.

Redaktur: Hafidz Muftisany
Reporter: Lingga Permesti
Source: www.republika.co.id
JAKARTA--MICOM: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, pendidikan bagi anak-anak Indonesia harus diimbangi dengan pembentukan karakter dan penanaman budi pekerti yang baik.

"Hal itu bertujuan agar anak-anak Indonesia tidak hanya pintar tetapi memiliki karakter yang kuat dan luhur," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar di Jakarta, Selasa (26/6).

Pernyataan Linda tersebut disampaikan usai memberikan arahan dalam acara Forum Anak Nasional yang diselenggarakan di Lembang, Jawa Barat, pada 25 hingga 28 Juni 2012.

Linda menjelaskan, pendidikan yang diimbangi dengan pembentukan karakter yang baik akan melahirkan generasi muda penerus bangsa yang berkualitas dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

"Anak-anak adalah calon pemimpin bangsa yang kuat dan menentukan pembangunan Indonesia di masa mendatang sehingga harus dibentuk karakternya sejak dini," katanya.

Menurut Linda, anak-anak tidak hanya harus pintar tetapi memiliki budi pekerti dan karakter yg mulia karena calon pemimpin masa depan dituntut bisa bersikap demokratis, tidak anarkis, tidak mengenal kekerasan, tidak diskriminasi, mencintai lingkungan dan lain sebagainya.

Linda menjelaskan, penyelanggaraan Forum Anak Nasional juga bertujuan untuk membentuk karakter generasi muda penerus bangsa dengan mengangkat tema "Nasionalisme, Kebhinekaan, Persaudaraan dan Karakter Bangsa".

Tujuan acara tersebut menurut Linda juga sebagai apresiasi dan penghargaan bagi anak-anak khususnya dari daerah yang memiliki prestasi dan aktif.

Acara tersebut juga dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Anak Nasional yang diharapkan bisa terus menjadi insipirasi bagi anak-anak untuk terus berprestasi membangun bangsa. (Ant/OL-2)
Source: www.mediaindonesia.com
Pacu Kecerdasan Anak dengan Bermain
KindyRoo
Bermain adalah dunia anak, biarkan anak bergerak bebas.

Kompas.com - Berlarian, melompat, tak pernah lelah bergerak, demikianlah ciri khas anak-anak. Dari aktivitas yang seolah hanya "membuang energi" itu sebenarnya anak-anak sedang mengeksplorasi, belajar mengenai ruang dan juga interaksi sosial.

Lewat kegiatan eksplorasinya terhadap lingkungan anak akan belajar banyak hal, mulai dari koordinasi antar bagian tubuh, kemampuan melakukan aktivitas bertujuan, melatih kekuatan otot-otot, mengatur keseimbangan tubuh, sampai belajar bekerja sama.

Menurut Paulin Sudwikatmono, principal dari KindyROO Jakarta, pengalaman eksplorasi anak itu sebenarnya sangat diperlukan, khususnya untuk anak-anak usia dini, yang akan memberikan stimulasi untuk memaksimalkan perkembanganya.

"Dalam perkembangan masa usia dini, orang tua seharusnya memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi anak dan juga meluangkan waktu sebanyak mungkin dengan anaknya," kata Paulin.

Paulin berpendapat, dengan meningkatnya kesibukan orangtua, kegiatan untuk menemaninya bermain pun semakin sempit. Di akhir minggu, mereka juga lebih banyak membawa anaknya bermain ke mal.

"Sebenarnya kesempatan bermain di alam terbuka lebih baik dibanding rekreasi di dalam mal, namun tidak bisa dipungkiri alam terbuka sudah jarang tersedia," imbuhnya.

Akibatnya, anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar dari alam sekitarnya. Belum lagi sikap sebagian besar orangtua yang terlalu protektif pada anak yang akhirnya bisa menghambat perkembangan anak.

Karena alasan kebersihan, banyak orangtua yang cemas membiarkan anaknya menyentuh benda-benda, atau anak terus menerus digendong atau menaruhnya di kereta dorong.

"Menggendong terlalu lama akan mengurangi kesempatan anak untuk merangkak atau merasakan tekstur yang berbeda, misalnya tekstur lantai, karpet, atau sofa," katanya.

Karena berkurangnya kesempatan untuk mengeksplorasi itulah, menurut Paulin, KindyROO menciptakan program khusus untuk menstimulasi anak-anak.

"Program KindyROO seperti buku panduan untuk orang tua karena menginformasikan kepada orang tua bagaimana cara menstimulasi anak mereka dengan baik tetapi tetap fun," katanya.

Selain melalui permainan yang dirancang khusus untuk mendukung kemampuan motorik anak, KindyROO juga menyediakan alat-alat yang sesuai dengan kebutuhan stimulasi anak sesuai tahap perkembangannya.

Tentu saja setiap kegiatan tersebut dilakukan secara menyenangkan melalui nyanyian dan tarian. Stimulasi yang dilakukan secara menyeluruh terhadap panca indera tersebut, kelak akan menjadi landasan bagi perkembangan kognitifnya di masa datang. (Advetorial)

Editor: Lusia Kus Anna
Source: edukasi.kompas.com
Mendikbud :: uji ulang kompetensi guru tetap dilaksanakan
Mohammad Nuh (FOTO ANTARA)
Mataram (ANTARA News) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, uji ulang kompetensi guru tetap dilaksanakan, meskipun ada penolakan dari pihak tertentu, termasuk Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Maksudnya untuk mengukur, apakah seorang guru yang sudah bersertifikasi ada peningkatan kualitas atau tidak."

"Tetap jalan, yang menolak itu karena belum tahu saja. Mau dilakukan penilaian tapi tak mau, kompetensi itu karena ada sesuatu yang dinilai," kata Nuh ketika ditemui usai pembukaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Mataram, NTB, Senin.

Nuh membuka FLS2N yang berlangsung 17-23 Juni 2012 dan diikuti sebanyak 3.800 peserta dan pendamping dari 33 provinsi di Indonesia, yang berasal dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), siswa berkebutuhan khusus atau Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) SERTA Sekolah Menengah Atas (SMA) baik negeri maupun swasta.

Ia mengatakan, uji ulang kompetensi guru itu mutlak dilakukan guna mengukur kinerja para guru yang telah dinyatakan lulus uji kompetensi.

Para guru yang telah lulus Uji Kompetensi Awal (UKA) diwajibkan menjadi peserta Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang diuji ulang kompetensinya.

"Maksudnya untuk mengukur, apakah seorang guru yang sudah bersertifikasi ada peningkatan kualitas atau tidak. Harus ada ukuran kinerja atas sertifikat itu, sehingga dilakukan pengukuran kinerja," ujarnya.

Nuh malah khawatir, guru yang telah lulus uji kompetensi awal itu tidak menunjukkan kinerja yang sesuai. Misalnya, absennya banyak atau sering keliru atau salah dalam mengajar.

"Itu yang harus diukur, kalau ada guru yang ternyata tidak lulus bukan akan diberhentikan dari guru tetapi dibina, karena harus ada `reward and punishment`," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua PGRI NTB H Ali A Rahim mengatakan, kebijakan ujian ulang kompetensi guru itu diyakininya akan memunculkan gejolak dari para guru.

Karena itu, PGRI NTB menolak kebijakan uji ulang kompetensi guru yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Bahkan, PGRI NTB mengancam akan melakukan aksi untuk menentang kebijakan tersebut jika tetap dilakukan oleh Kemendibud.

"Seharusnya Kemdikbud melakukan pembinaan lebih lanjut terhadap guru yang sudah memperoleh sertifikat, bukan ujian lagi yang membutuhkan biaya besar," ujar Ali.

(a058/s023)

Editor: Tasrief Tarmizi
Source: www.antaranews.com
Lusia Kus Anna
Pendidikan Asingkan Budaya Bernalar
SHUTTERSTOCK

Oleh Iwan Pranoto

Dalam pembangunan republik ini, sejak 1970-an pendidikan kerap dianggap kemewahan, bukan kebutuhan. Penyediaan pendidikan bermutu dinomorduakan dibanding penguatan ekonomi. Kebijakan seperti ini berbahaya.

Budaya pendidikan dunia memodelkan pembangunan berdasarkan intelektualitas. Karena sumber daya alam terbatas serta jagat semesta rentan terhadap gangguan, pembangunan berkelanjutan perlu berpusat pada intelektualitas. Implikasi dari model ini, masyarakat belajar serta budaya belajarnya yang tumbuh mengakar jadi penggerak utama pembangunan setiap negara.

Suka atau tidak, pendidikan merupakan lokomotif terdepan pembangunan. Kesejahteraan bangsa serta kekokohan ekonomi bergantung mutlak pada pendidikan. Ekonomi kokoh dapat dicapai jika pendidikan kuat.

Penerapan model ini butuh prasyarat: tujuan pendidikan negara harus dirumuskan dengan akurat. Kecakapan yang diperkirakan dibutuhkan di masa depan harus dikenali dan dianalisis. Dari sana kemudian dibuat standar pendidikan. Oleh karena itu, pertanyaan utama dan pertama yang mutlak dikaji pemimpin negara adalah: ”Kecakapan strategis apa yang perlu dibelajarkan?”

Kecakapan abad ke-21

Di pengujung abad ke-20, dua peneliti—Richard J Murnane (Harvard Kennedy School) dan Frank Levy (MIT)—melakukan riset bersama guna menjawab pertanyaan di atas. Murnane (pakar kebijakan pendidikan) dan Levy (pakar ekonomi urban) mengkaji kecenderungan jenis kecakapan yang kian dibutuhkan dan tak dibutuhkan dunia kerja.

Berdasarkan data tahun 1969-1998, mereka mengungkapkan bahwa kecakapan memecahkan masalah tak rutin dan kecakapan berkomunikasi kompleks semakin dibutuhkan. Pada saat komputer serta teknologi informasi semakin berdaya, banyak masalah rutin dapat dipecahkan oleh mesin. Sebaliknya, manusia justru semakin dibutuhkan pada pemecahan masalah tidak rutin. Kecakapan kedua yang juga semakin dibutuhkan adalah kecakapan berkomunikasi kompleks, seperti kecakapan seorang manajer dalam memotivasi stafnya.

Hal yang paling drastis menurun kebutuhannya adalah kecakapan kognitif rutin. Kecakapan seperti menghafal serta kecakapan berpikir tingkat rendah semakin tak diperlukan.

Berdasar penelitian itu, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merumuskan Programme for International Student Assessment (PISA) guna menjawab pertanyaan: ”Seberapa siap pelajar di dunia di akhir masa wajib sekolahnya, yakni umur 15, untuk menguasai kecakapan abad ke-21?”

Untuk Indonesia, hasilnya memang buruk. Ini dapat dibaca di situs OECD. Mengapa pelajar kita begitu buruk pencapaiannya di PISA? Kita pasti sepakat anak-anak kita tidak bodoh. Lalu, mengapa hasilnya buruk?

Jawabnya sederhana. Anak- anak kita telah ditunjukkan arah belajar kecakapan yang salah. Analoginya, anak-anak kita seperti dibekali kompas yang rusak untuk berpetualang. Mereka dibuat fokus mengejar kecakapan kedaluwarsa, seperti kognitif rutin itu. Sebaliknya, anak-anak kita sangat jarang diberi kesempatan mengembangkan kecakapan abad ke-21, seperti bernalar tingkat tinggi.

Insentif bagi pelajar yang berhasil mengembangkan kecakapan modern tersebut justru nyaris tak terdengar. Bukan maksud tulisan ini mengatakan bernalar tingkat rendah tak diperlukan lagi, tapi harus ada keseimbangan antara kecakapan bernalar tingkat rendah dan tingkat tinggi.

Sampai kini sangat sulit meyakini adanya upaya serius dan sistematis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menindaklanjuti hasil PISA guna meningkatkan pencapaian dua kecakapan tadi. Rangkaian kebijakan pendidikan nasional yang dicanangkan justru kerap bertolak belakang dengan upaya penguasaan dua kecakapan itu.

Budaya belajar

Kecemasan sebagai motivasi atau pemaksa belajar tentu sangat bertentangan dengan upaya mewujudkan masyarakat belajar yang sepatutnya senang belajar dan menghargai proses bernalar. Penggunaan kecemasan sebagai motivator belajar juga bertentangan dengan teori belajar, yang meletakkan motivasi intrinsik sebagai prinsip utama dalam proses belajar untuk memahami.

Kesukacitaan belajar dan penghargaan pada proses bernalar adalah jiwa masyarakat belajar. Sebagai tambahan, pemanfaatan informasi di masa ini jauh lebih bernilai dibandingkan nilai informasinya sendiri. Masalah penyimpanan dan sistem pencarian informasi sudah dipecahkan oleh Google. Sungguh absurd jika pelajar kita justru difokuskan mengejar kecakapan yang sudah dapat dikerjakan mesin.

Ironisnya, praktik pendidikan di republik ini justru berpusat pada kecakapan seperti mesin itu. Proses bernalar dengan sengaja diasingkan dari pendidikan. Dalam pembelajaran matematika, khususnya, bukannya bernalar tingkat tinggi yang dibelajarkan di ruang kelas, melainkan justru kecakapan kedaluwarsa, seperti berhitung cepat dan menghafal rumus tanpa makna.

Alasan klise bahwa para guru kita tak mampu membelajarkan kecakapan bernalar mungkin saja ada benarnya, tetapi jika guru mampu pun, mereka tidak akan membelajarkan kecakapan bernalar tingkat tinggi. Mengapa? Salah satunya karena model dan sistem ujian nasioanl (UN) kita.

Sistem UN yang dominan pada kecakapan menghafal informasi semata ini jadi alasan sahih mengapa para pelajar kita, juga gurunya, menghindari proses bernalar tingkat tinggi. Siswa dan guru akan bertanya: mengapa perlu memahami bagaimana membuktikan Dalil Pitagoras, jika UN tak pernah mengujinya. Yang dituntut di UN toh sekadar bagaimana memasukkan angka- angka ke rumus a2+b2>c2'>.

Akibatnya, siswa menjadi sangat lemah dalam pemahaman matematikanya serta kecakapan bernalarnya. Jika pengasingan budaya bernalar melalui UN bermutu buruk ini dilanjutkan, bangsa kita sangat mungkin akan kesulitan melibatkan diri dalam pembangunan dunia di masa depan. Dampaknya, ekonomi kita pun akan hancur.

Untuk menyuburkan kembali budaya bernalar, perlu gerakan penyadaran bersama tentang pentingnya bernalar pada era sekarang. Perguruan tinggi di seluruh daerah dapat menciptakan forum semacam ”Akademi Sabtu”, tempat guru bersama akademisi menyegarkan budaya bernalar serta meningkatkan kemampuan guru membelajarkan kecakapan bernalar.

Sebelum melanjutkan penggunaan UN untuk kelulusan, Kemdikbud harus membenahi hal berikut. Standar isi dibenahi dengan tujuan menyiapkan pelajar menguasai kecakapan modern. Lembaga pendidikan guru perlu menekankan penguasaan konsep dan teori belajar, bukan administrasi mengajar.

Sistem UN Matematika perlu dirombak agar mampu mengukur kecakapan bernalar tingkat tinggi. Misalnya, dengan menambahkan daftar rumus yang dibutuhkan dan dilekatkan pada berkas ujian. Hal seperti ini diterapkan pada berbagai tes profesional. Konsekuensinya, UN akan melibatkan tuntutan yang lebih bermakna ketimbang sekadar ”tahu” atau ”ingat” rumus. Yang juga sangat penting, berbagai pernyataan Kemdikbud harus mengirimkan pesan pentingnya budaya bernalar dan belajar.

Iwan Pranoto Guru Besar ITB (Sumber: Kompas Cetak)
Source: edukasi.kompas.com
Dinas Pendidikan Jabar Bentuk Tim Verifikasi Novel Porno
ANTARA/Fahrul Jayadiputra/wt

BANDUNG--MICOM: Dinas Pendidikan Jabar membentuk tim verifikasi terkait ditemukannya dua novel yang dinilai mengandung pornografi di SDN Cempaka Arum Kota Bandung, yakni "Tidak Hilang Sebuah Nama" dan 'Tambelo Kembalinya Si Burung Camar".

"Supaya kejadian ini tidak terulang lagi. Jadi semua pengadaan buku itu ada timnya," kata Kepala Dinas Pendidikan Jabar Wahyudin, usai menghadiri acara peluncuran RKB dan BOSDA Tahun 2012 di Aula Pusdai Jalan Diponegoro Kota Bandung, Senin (11/6).

Wahyudin membantah bahwa dua novel tersebut merupakan bagian dari dana alokasi khusus (DAK) Provinsi Jabar dan diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Jabar.

"Di Pemprov Jabar itu 'nggak' ada DAK. Jadi DAK itu adanya di kabupten/kota. Nah, kalau di kita adanya dana dekonsentrasi. Kita tahun kemarin bahasa sunda sama kewirausahaan. Kalau novel 'nggak' Rancage tak mungkin, Rancenge itu tak ada yang porno," kata dia.

Ketika ditanyakan apakah dirinya sudah membaca dan menemukan novel yang diduga mengandung muatan pornografi tersebut, Wahyudin, mengaku belum membacanya.

"Saya baru tahu berita di media massa," ujar dia.

Pihaknya sepakat dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang menginstruksikan untuk menarik peredaran dua novel itu. (Ant/wt/X-12)
Source: www.mediaindonesia.com
>>