• img

Shelomita Sulistiany Diah, Al-Quran Puncak Segala Keindahan

blog sauted | Minggu, 29 April 2012 | 13:48

Shelomita Sulistiany Diah, Al-Quran Puncak Segala Keindahan
Rangkaian ibadah dalam Islam tak ubahnya mata rantai aktualisasi segala potensi kemanusiaan seseorang. Secara logika ini bisa dipahami sebagaimana yang ditemukan Shelomita Sulistiany Diah dalam perjalanan hidupnya yang penuh warna. Bagi putri artis senior Marini yang kini menjadi penyanyi dan menyandang gelar sarjana psikologi ini, Islam adalah sesuatu yang sangat indah, tidak hanya luas dan kompleks. Menurut dia, Al-Quran beserta isinya sebagai puncak segala keindahan. Berikut ibu dua anak ini yang menjadi pencinta anak-anak ini menuturkan pengalamannya kepada Panjimas.

Suatu siang selepas bermain dengan teman-teman, Mama menghampiri saya. Ia lalu bertanya, “Mita, kamu sayang sama Mama tidak?”
“Oh, iya, tentu,” kata saya.
“Nah, kalau kamu sayang, kamu mau ketemu dengan Mama, seminggu sekali atau sehari lima kali?”

“Ya, sehari lima kali, dong.”
“Kamu sayang sama Tuhan, nggak?” tanya Mama lagi.
Wah, ini sudah ada konsep sayang dan Tuhan, pikiran dalam benak saya.
“Sayang,” begitu saya katakan cepat-cepat. Lalu, Mama melanjutkan pertanyaannya, “Kalau Papa Idris ketemu Tuhan, sehari lima kali atau seminggu sekali?”
“Ya, sehari lima kali, dong.”
“Betul. Nah, kalau Islam itu sehari lima kali ketemunya sama Tuhan, sedang kalau Kristen, seminggu sekali. Jadi, kamu mau yang mana?” tanyanya.
“Saya mau Islam,” teriak saya.

Saat itu usia saya genap enam tahun. Teriakan yang mantap dan penuh keyakinan itulah akhirnya yang menjadikan diri saya hingga kini menjadi seorang muslim. Dan sejak saat itu pula—meski saya tidak ingat persis apakah saya benar-benar mengucap dua kalimat syahadat setelah itu—saya mulai disibukkan dengan mengaji, menghapal bacaan-bacan Al-Quran, dan menjalankan ritual salat. Semua aktivitas itu saya lakukan dengan senang hati. Tidak ada sedikit pun perasaan terbebani, kaget atau perasaan-perasaan lainnya. Semua saya lakukan semata-mata karena saya ingin setiap saat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Pengasih.

Memang, sebelum Mama menikah kembali dengan Papa Idris (Idris Sardi, Red.), kami sekeluarga adalah penganut Kristen. Tetapi, karena saya ke gereja ikut Mama, sementara Mama sendiri tidak terlalu rajin pergi ke gerejanya, membuat pemahaman tentang ajaran agama saya saat itu tidak terlalu kena di hati. Saya tidak dapat sepenuhnya memahami pelajaran tentang agama yang saya anut. Senang, ya, senang. Menyanyi bersama-sama, bergembira. Tetapi, kok, tidak ada pergolakan emosi dalam batin ini. Mungkin juga karena saya malas. Nah, sejak Papa Idris bersama tiga anaknya tinggal di rumah kami, saya mulai merasakan nuansa lain dalam cara berhubungan dengan Tuhan. Saya dihadapkan pada pemandangan ritual salat berjamaah. Saat itu, Mama sudah Islam, mengikuti Papa Idris. Karena terbiasa dengan pemandangan seperti itu, dan juga saya sudah mulai jarang ke gereja, akhirnya, lama-kelamaan saya ikuti ritual mereka. Awalnya saya cuma melihat, menonton sambil berdiri di pojok ruangan saat mereka salat sambil bertanya dalam hati, “Kok, lucu sekali cara mereka bertemu dengan Tuhan. Berdiri, membungkukkan badan, sujud, dan duduk?” Kok, saya juga pingin melakukan seperti itu. Akhirnya, karena dorongan hati yang begitu kuat, saya ikuti mereka dengan tepat berdiri di belakangnya. Pertama-tama, saya memakai rok panjang. Tetapi lama-kelamaan, karena merasa tidak puas, akhirnya saya pakai sarung untuk menutupi kepala ini. Terkadang, seprei juga saya pakai untuk kemudian dililitkan sekenanya ke seluruh tubuh. Senang sekali hati ini rasanya. Melihat perbuatan saya itu, Mama, Papa Idris, dan juga anak-anaknya diam saja. Menegur atau mengajak pun tidak. Sampai akhirnya Mama meng-Islam-kan saya, pada suatu siang, beberapa hari kemudian.

Kasih Opa

Setelah saya menjadi muslim, Mama makin rajin mengajarkan kepada saya pelbagai hal tentang Islam. Di satu sisi Mama mungkin juga banyak mendapat masukan dari Opa, khususnya tentang konsep ketuhanan. Opa saya itu memang orang yang sangat Tuhan minded. Beliau menganut Kristen Sains, yaitu Kristen yang mengakui bahwa Tuhan itu bukan Tuhan Yesus, tetapi Tuhan Allah, sama dengan Islam.
Beliau selalu mengajarkan kepada kami tentang pentingnya cinta kasih. Kasih sayang kepada semua manusia. Opa selalu bilang, “Kita, manusia itu adalah cerminan Tuhan. Jadi, karena Tuhan itu bagus, tidak ada jeleknya, maka kita harusnya juga seperti Dia, tidak jelek. Kalau jelek, itu sudah bukan manusia. Itu sebenarnya sudah bukan diri kamu. Diri kamu itu bagus.”

Wah, bagus banget caranya dia ngomong. Saya sangat kagum sama beliau. Ditambah, dia itu juga orang yang tidak pernah marah. Pernah suatu ketika, ia berhasil menangkap maling yang masuk ke rumah kami. Eh, bukannya diomelin ataupun dipukul, Opa malah balik bertanya kepada si maling itu, “Kamu itu maunya apa? Perlunya apa?” Wah, tentu saja kami semua kaget bercampur kagum. Setelah itu dia bilang kepada kami, bahwa uang, dan segala harta benda lainnya itu tidaklah penting. Yang paling penting dalam hidup ini cuma satu, yaitu love, kasih sayang. Kasih, kasih, dan kasih. Jadi, manusia itu jika keluar, ke mana-mana dan mau berbuat apa-apa itu harus full of love. Kasih sayang. Dari mulai bekerja, bersahabat, bermain, atau, apa pun bentuk aktivitas yang dilakukan untuk hidup ini. Sikap Opa yang tulus, seakan menjadi tonggak sejarah hidup saya. Itulah yang membuat saya lebih banyak menuruti nasihat-nasihatnya: rajin berdoa dan bersyukur, berperilaku baik dan mengasihi sesama.

Di situlah saya mulai sadar dan mulai mencintai setiap pekerjaan yang saya lakukan. Meski saya tidak menjadi dokter, tidak menjadi seorang ekonom, saya tetap senang dengan apa yang saya jalani sekarang.

Santai tapi berkah

Itulah Opa kami. Hampir setiap saat saya bermain bersamanya. Menikmati dongengannya, menyimak baik ajaran-ajarannya, merasakan kasih sayangnya, dan pelan-pelan mewarisi pandangan-pandangan hidupnya. Nasihat-nasihat Opa kemudian membuat saya tidak pernah lagi bersedih. Saya tidak pernah lagi menangis kalau tidak boleh begini, tidak boleh begitu, misalnya. Saya mencoba untuk mulai mencintai setiap apa yang saya lakukan. Saya percaya Allah itu ada. Allah pasti membantu saya. Mama juga pernah berkata, “Mita, semua itu pasti ada hikmahnya. Allah itu selalu ada. Dan dia mempunyai maksud lain yang tidak akan kita tahu sebelumnya. Dikasih begini, ya, lihat saja nantinya bagaimana.”

Benar. Saya merasakan benar bahwa sekarang ada hikmahnya dengan saya dididik agak keras, diberikan aturan-aturan dengan disiplin tinggi sewaktu kecil. Begitu juga ketika saya mulai berkarier. Kok, ndilalah saya dilamar pacar saya. Saya merasa, ini semua rezeki dari Allah. Kalau saya menolak, belum tentu tahun depan ada yang melamar lagi. Belum tentu ada yang mau menunggu satu tahun lagi. Ya, sudah deh, akhirnya saya putuskan, meski saat itu bagi karier saya sangat berisiko sekali. Baru satu bulan mengeluarkan album, lalu menikah dan punya anak. Namun itu semua akhirnya saya turuti. Dan alhamdulillah, kok, rezekinya ada saja.

Saya memang bukan orang yang ambisius. Saya agak takut untuk minta yang sukses banget, atau apapun dalam bentuk lain. Saya tidak menjadi ambisius karena di hati kecil saya berkata, kalau orang sudah di atas dia suka lupa dengan yang di bawah. Dengan terutama lingkungan sosialnya. Dan terkadang menjadi berani untuk menghalalkan segala cara. Saya takut sekali menjadi seperti itu. Saya sudah merasakan, banyak sekali berkah yang diberikan oleh-Nya. Karena itu, saya mencoba untuk santai saja menjalani semua ini. Sementara orang lain berkata, apalagi Mama, “Kamu kok, begini. Kamu bisa lebih dari ini di karier.”

“Iya, saya tahu. Mama juga berhasil di karier. Tetapi, kebetulan Mama di perkawinan kacau, sampai tiga kali. Jadi, saya tidak mau seperti itu,” jawab saya. Mama mengerti. Kemudian, saya banyak belajar dari orang-orang yang berkarier bukan sebagai artis, bagaimana mereka mendidik anak-anaknya. Saya juga belajar dari Mama bagaimana ia bisa sukses dalam karier. Sebetulnya, Mama bukan tipe orang yang ambisius, tetapi dia terus dapat, dapat, dan bisa mendapatkannya. Jadi, dalam hal itu saya berusaha untuk balance.

Tidak ada sedikit pun muncul rasa penyesalan dalam diri saya, karena saya sadar, semua orang ‘kan punya peranan masing-masing. Peran saya sebagai orang yang santai, tidak ambisius, ya, saya sadari. Saya tidak pernah menargetkan, misalnya, tahun ini saya harus menghasilkan uang segini. Tidak. Sama sekali tidak. Ya, memang senang sih punya uang banyak, kita bisa membelikan anak kita apa saja. Tetapi, bernafsu untuk mengumpulkan uang dengan cara menargetkan, itu bukan tipe saya. Begitu juga dengan karier. Karier untuk cepat dikenal, famous, itu buat saya mengikuti arus saja. Go with the flow. Alhamdulillah, sampai sekarang saya sudah promo ke Kalimantan tanpa saya harus usaha dengan susah payah. Menurut seorang ustadz yang pernah saya ikuti pengajiannya, manusia itu yang paling benar adalah pasrah kepada Allah.

Saya juga tidak menyesal kenapa di usia saya yang ke-25 baru menghasilkan album. Saya justru merasa beruntung karena di satu sisi saya sudah mendapatkan gelar sarjana psikologi. Mungkin kalau misalnya pilihan saya jatuh ke karier, saya mungkin sudah malas untuk sekolah, karena kuat sekali keinginan saya untuk menyanyi. Tetapi akhirnya, saya tidak menyesal. Nah, sekarang pertanyaan baru muncul, "Kok, sekarang menikah. Tidak menyesal? Bagaimana kariernya?" Tidak, sama sekali tidak. Saya percaya, ini benar-benar dari Allah. Saya yakin benar Allah memberi jalan. Saya selalu percaya bahwa apa yang telah terjadi pada saya itu adalah jalan terbaik dari-Nya. Banyak hal yang sudah saya alami yang membuat keyakinan saya akan keesaan-Nya makin besar. Semakin kuat. Misalnya, saya pernah berdoa, “Ya, Allah, saya ingin menikah di usia 25 tahun.” Benar, pas usia 25 tahun, saya menikah. Saya ingin punya anak umur 26 tahun. Benar, umur 26 saya mendapat anak. Terus, saya ingin anak pertama saya laki-laki. Dikasih, meski saat itu kehamilan saya terancam dengan adanya rubella—penyakit yang disebabkan oleh virus—dalam tubuh saya. Saat itu, saya terus berdoa, saya datang ke pengajian. Rutin berdoa bersama agar janin saya selamat, bebas dari kemungkinan virus yang saya idap. Saya pasrah. Alhamdulillah, pas lahir, anak saya bebas dari virus penyebab penyakit tersebut. Anak saya sehat walafiat.

Kemudian, saya minta anak kedua saya perempuan. Dikasih. Padahal semua sudah memprediksi bahwa janin yang saya kandung itu berjenis kelamin laki-laki. Sampai orang tua yang dianggap mempunyai kelebihan (paranormal), pun mengatakan hal yang sama. Saya tidak hiraukan. Saya terus berdoa dan berharap agar semuanya selamat, lahir dan batin. Pas melahirkan, ternyata perempuan. Ya, Allah, berkah sekali yang saya alami semua ini. Benar-benar berkah. Tidak bisa diatur. Subhanallah, Mahasuci Allah, Allah Mahabesar.

Saya juga diberkahi dengan diberi seorang suami yang baik sekali. Padahal, dengan Mama cerai tiga kali, saat itu saya menganggap semua laki-laki itu sama, tidak ada yang baik. Tidak ada yang bagus. Nah, kok, saya dikasih jalan sama Allah, dengan awalnya saya menjalin persahabatan dengan suami saya ini. Karena saya dekat tidak hanya dengan dia tetapi juga dengan keluarganya, saya dikirim untuk ikut pelatihan kepribadian di Malaysia oleh keluarganya. Dan ternyata, suami saya juga ikut pelatihan itu. Otomatis, selama di sana kami menjadi lebih dekat lagi. Dan saya merasakan betul kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh dia. Pelatihan itu pun membantu saya untuk membuka mata, hati dan pikiran saya. Saya yang selama ini suka sombong kalau berkenalan dengan laki-laki, dan juga tidak berniat lagi untuk pacaran, menjadi berubah. Dengan pikiran yang telah berubah saya berani untuk pacaran dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Teori psikologi yang saya dapat di kampus juga mengatakan begini, “Kamu akan dapat apa pun dari yang kamu lakukan. Jadi, kita itu refleksi dari apa yang kita tunjukkan ke dia. Kalau kamu dijahatin, kamu harus berefleksi. Bukannya marah-marah.” Cocok sekali dengan pemahaman saya akan Tuhan. Pelajarannya pas sekali. Tetapi, ini semua saya kembalikan lagi kepada Allah SWT. Bahwa Allah-lah yang mengatur ini semua. Allah-lah yang telah memberi jalan buat kebahagiaan hidup saya ini.

Vertikal dan horizontal

Islam buat saya adalah sesuatu yang sangat indah, tidak hanya luas dan kompleks. Al-Quran beserta isinya telah menjadi pegangan hidup saya tanpa ada sedikit pun keragu-raguan yang tumbuh. Alangkah nikmat, alangkah dalam, alangkah luas, alangkah jauh, alangkah tinggi, alangkah luhur dan murni. Saya telah menemukan Al-Quran sebagai puncak segala keindahan. Saya terharu karena pada akhirnya saya bisa membaca Al-Quran. Saya terharu karena saya bisa melantunkan ayat-ayat suci ciptaan-Nya meski belum benar betul lafaznya. Saya telah menemukan Al-Quran sebagai puncak segala keindahan.

Keyakinan saya akan kebesaran Allah SWT, semakin bertambah kuat setelah beberapa waktu lalu saya datang ke sebuah pengajian. Dalam ceramahnya, sang ustadz saat itu berkata bahwa Sang Pencipta, Allah SWT, itu Mahabaik. Sudah, itu saja yang harus kita ingat. Dikatakan selanjutnya, bahwa Tuhan itu adalah sesuatu yang dekat, bukan yang jauh di atas sana, yang harus disembah-sembah. Sesuatu yang membuat hidup kita bahagia. Karena itu, kita harus pasrah. Nah, konsep pasrah itu bukanlah menjadikan orang serba menghitung. Misalnya, “Ah, saya sudah begini, masa sih, Allah tidak tahu.” Padahal, ‘kan bukan begitu. Sebaiknya, kita harus usaha. Itu semua akhirnya memacu kita untuk menjadi orang baik. Memacu kita menjadi orang pintar. Yang akhirnya, memacu kita untuk menjadi orang yang bekerja, berusaha. Begitu ‘kan, seharusnya?

Pengetahuan saya tentang Islam memang belum ada apa-apanya. Belum mendalamlah, bisa dikatakan begitu. Saya masih harus dan terus belajar. Dalam upaya ke arah itu, banyak kegiatan yang saya ikuti. Selain ikut dalam pengajian yang diselenggarakan oleh teman-teman artis, di rumah juga saya adakan. Kadang, saya juga ikut pengajian di Padepokan Toha, di Jalan Senopati, Jakarta Selatan. Buat saya, ajaran agama harus bisa membawa kita kepada kebahagiaan di dunia, bukan sekadar janji di akhirat nanti. Saya percaya sekali dengan konsep Habluminallah, Habluminannas. Tidak hanya hubungan vertikal dengan Sang Pencipta saja, tapi juga horizontal, dengan sesama. Karena kehidupan ini adalah wadah kita untuk memperbaiki diri menjadi orang yang terbaik. Sehingga, isilah hidup kita, waktu kita, untuk saling introspeksi. Di mana kita bisa memberi kembali, berbuat kembali untuk nantinya bahagia. Jika semua ini seimbang, balance, vertikal dan horizontal, pasti manusianya akan bagus. Tidak ada guna jika mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan sesama, padahal ia, misalnya, salat terus. Kalau hubungan kita dengan lingkungan baik, tentu hubungan dengan Tuhan juga baik.

Pengalaman saya itu pada akhirnya bisa saya pahami secara logika. Tanpa berusaha mencari-cari, segera saja saya melihat hubungan antara kualitas tersebut dengan hikmah setiap ibadah yang diajarkan dalam Islam. Jadi, salat itu merupakan suatu kebutuhan buat saya. Jadwal salat yang sangat ideal bukan hanya fisik, tapi juga emosi. Begitu pula dengan ibadah-ibadah lainnya, puasa, zakat, haji, zikir dan lainnya. Semua itu ditumbuhkan melalui kepatuhan melaksanakan rangkaian ibadah yang diajarkan.

Anak dan masa keemasannya

Saya merasakan sekali betapa bahagianya saya waktu kecil dulu, saat usia satu hingga lima tahun. Meski saya anak tunggal Mama dari Papa Didi (Didi Abdulkadir Hadju—Red.), tetapi saya tidak dimanja ataupun dididik dengan sangat ketat. Saya dibiarkan bebas bermain sepuas-puasnya dengan tetap memperhatikan tanggung jawab saya. Kebetulan Mama masih tinggal di lingkungan keluarga besarnya. Di sebelah rumah adalah rumah Opa, sedangkan di belakang adalah rumah Om dan Tante, di antaranya Om Yapto.

Bermain bersama, menyanyi, sampai piknik bersama anak-anak Om dan Tante, juga Opa adalah rutinitas kami. Senang dan bahagia selalu menyertai kami. Walau diberi kebebasan, saya tetap bisa mempertanggungjawabkan sekolah saya dengan meraih juara umum. Saya juga sudah dipercaya untuk menjadi pemimpin paduan suara sekolah. Masa lima tahun saya itu saya lewati dengan happy sekali. Dalam psikologi masa itu disebut golden age, masa keemasan. Dalam masa ini otak kita berkembang sangat besar, makanya harus benar-benar dijaga. Otak kita sedang berkembang untuk menyerap segala sesuatu yang diterima dalam lima tahun pertama dari kehidupan manusia. Itu semua adalah memori. Oleh karena, golden age anak-anak itu, yang pertama adalah harus happy. Karena kalau happy, konsep memorinya positif. Dengan konsep memori yang positif, anak itu ke depannya, dalam menghadapi masalah serumit apa pun, dan dalam bentuk apa pun, pasti bisa menghadapinya dengan cara yang positif. Punya kepercayaan diri (self-confidence) dan konsep diri (self-concept) yang bagus. Nah, sebaliknya, kalau golden age-nya tidak happy, meski dia kaya dari segi materi, tetap saja dia tidak akan kokoh. Tidak akan punya konsep diri. Contoh yang paling jelas adalah para korban narkoba.

Nah, berdasarkan pengalaman saya di waktu kecil yang merasa sangat bahagia, ditambah keluhan teman-teman yang merasa anak-anaknya tidak memiliki kegiatan saat golden age mereka, saya mendirikan program visiting educated. Program yang saya dirikan bersama beberapa teman kampus ini merupakan hal yang baru, yang belum ada di Indonesia. Memang, konsepnya sih sama dengan pra-school, tetapi pelaksanaannya di rumah. Jadi, kita yang datang kepada mereka. Alasannya, selain Jakarta macet, yang untuk mencapai lokasi tertentu butuh waktu. Juga kita ingin melihat bagaiamana tingkah laku si anak di rumahnya sendiri. Biasanya ‘kan, si anak menjadi raja dan ratu, tidak mau diberi tahu. Nah, bagaimana pendidik bisa mengubah sikap ini tanpa membuat dia jengkel dan ngambek. Di sinilah kemampuan pendidik diuji. Jadi, pendidik tidak hanya datang dengan membawa satu jenis keahlian, tetapi lebih dari satu: mulai dari kemampuannya mengajak berkreativitas, kemampuan meningkatkan nilai rasa, emosi, juga kemampuan dalam hal pengetahuan, misalnya matematika atau komputer. Yang semuanya ini kita berikan dengan penuh kesenangan dan kegembiraan. Karena terkadang, ada orangtua yang menginginkan si anak unggul dalam bidang tertentu sejak usia balita.

Alhamdulillah, program yang saya tawarkan ini mendapat respons bagus dari para orangtua. Dalam perkembangannya kini, tercatat sudah ada 60 murid yang menjadi visiting educated kami. Program kami ini tentu saja juga memberikan pemahaman tentang konsep ketuhanan. Karena bagi kami, agama adalah nomor satu. Bagaimana agar relationship dengan Tuhannya itu harus benar. Tidak dengan membuatnya takut, misalnya dengan mengatakan dosa, dosa, dan dosa, sepertinya Tuhan itu Soul of Punishment. Soul of hukuman. Tetapi dengan menumbuhkan rasa cinta, bahwa kalau kita baik, Tuhan juga baik kok dengan kita. Tuhan itu sesuatu yang indah.

Alangkah bahagianya melihat anak-anak begitu ceria memenuhi hasrat ingin tahunya. Betapa harunya mendapatkan begitu bersihnya hati mereka. Dalam keadaan seperti itu, pikiran saya biasanya menerawang kepada proses kejadian manusia, sejak dari sel telur, janin, hingga kelahiran ke dunia, dan seterusnya, yang begitu pelik dan kompleks. Semua itu menunjukkan betapa maha luasnya pengetahuan Allah. Saya tidak bisa berpaling dari rasa syukur atas karunia-Nya yang begitu indah: anak-anak yang sehat, saleh, cerdas, dan kreatif yang kini juga sudah saya miliki. Alhamdulillah.

BIODATA

Nama: Shelomita Sulistiany Diah
Tempat Tgl. lahir: Jakarta, 26 November 1974
Pendidikan : Sarjana Psikologi Universitas Indonesia
Orangtua: Didi Abdulkadir Hadju (ayah)
Marini Soerjosoemarno (ibu)
Anak ke: 2 dari 3 bersaudara
Suami: Arya Fajar Faizal Diah
Anak: 1. Arya Fattah Mohammad Diah
2. Shanata Sakinah Diah
Karier: Penyanyi
Presenter:
Tahun 1995: “MATA” Anteve
Tahun 1997: “ZOOM IN” Anteve
Tahun 2001: “KENCAN BINTANG” TPI
Tahun 2002: “HALAMAN DEPAN” Trans TV
Album: “LANGKAH” Album Perdana, tahun 2000
Source: globalkhilafah.blogspot.com

Saat ini SAHABAT berada di area blog sauted dengan artikel Shelomita Sulistiany Diah, Al-Quran Puncak Segala Keindahan.
<< >>