• img
Penuhi Kebutuhan Serat Anak Sekarang!
photo by donatefruit

Serat merupakan bagian penting dari diet yang sehat, dan kebanyakan ahli merekomendasikan bahwa anak-anak dan orang dewasa harus mendapatkan asupan serat yang cukup. Menurt Panduan Gizi Anak dari Akademi Pediatrik Amerika, “Orang-orang yang mendapat serat lebih sedikit lebih beresiko menjadi gemuk, memiliki penyakit jantung, atau terkena masalah usus, termasuk sembelit dan kanker.” Pada anak-anak, makan banyak makanan berserat tinggi terutama penting untuk mencegah dan mengobati sembelit. Lalu sebanarnya berapa banyak serat yang direkomendasikan untuk anak-anak?

Rekomendasi Serat Untuk Anak

Pada dasarnya, jumlah serat untuk setiap anak (dalam gram) harus disesuaikan dengan usia mereka (dalam tahun) ditambah 5. Jadi misal anak Anda berusia 5 tahun, kebutuhan seratnya per hari adalah 10 gr, dan untuk anak usia 12 tahun adalah sekitar 17 gr. Namun kemudian ahli gizi menyatakan bahwa rekomendasi serat tersebut tidak cukup. Rekomendasi terbaru adalah bahwa anak-anak harus makan sekitar 14g serat untuk setiap 1.000 kalori yang mereka makan. Jadi anak yang makan lebih banyak kalori juga harus mendapatkan lebih banyak serat dalam diet mereka.

Berikut pedoman umum untuk rekomendasi serat bagi anak-anak:

  • Usia 1 sampai 3 tahun harus mendapatkan sekitar 19gr serat setiap hari
  • Usia 4 sampai 8 tahun harus mendapatkan sekitar 25g serat setiap hari
  • Anak perempuan usia 9 -13tahun harus mendapatkan sekitar 26g serat setiap hari
  • Anak laki-laki 9-13 tahun harus mendapatkan sekitar 31g serat setiap hari
  • Remaja perempuan 14 -18 tahun harus mendapatkan sekitar 26g serat setiap hari
  • Remaja laki-laki 14-18 tahun harus mendapatkan sekitar 38g serat setiap hari

Jenis makanan apa saja yang baik untuk mencukupi kebutuhan serat anak-anak? Secara umum, sumber serat yang baik meliputi aneka buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, roti, dan sereal. Untuk menemukan makanan tinggi serat untuk keluarga Anda, baca label nutrisi di kemasan makanan untuk melihat seberapa banyak serat yang ada di dalamnya.

Secara umum, makanan yang tinggi serat akan memiliki setidaknya 5gr serat per porsi atau lebih. Dan makanan yang merupakan sumber serat yang baik memiliki setidaknya 2.5gr serat per penyajian.

Sumber Serat Harian

Ini dia daftar makanan tinggi serat yang bisa anda sajikan untuk buah hati tercinta:

  • Pear
  • Rasberry
  • Oatmeal
  • Kacang hijau
  • Bayam
  • Kubis
  • Brokoli
  • Sereal
  • Roti gandum
  • Kismis
  • Raisin

Makanan di bawah ini juga sama baiknya:

  • Strawberies
  • Wortel
  • Kentang (dengan kulit)
  • Jagung
  • Beras merah
  • Apel (dengan kulit)
  • Jeruk
  • Tomat
  • Seledri
  • Melon
  • Anggur
  • Selada

Buatlah daftar menu harian dari bahan makanan tersebut untuk anak Anda, misalnya sup tomat, aneka jus buah, roti kismis, salad, sayur bayam, dan lain sebagianya.
Source: lovira.com
Nurvita Indarini - detikHealth
Stres Bayi Meningkat Jika 6 Jam Baru Lahir Dipisahkan dari Ibu
(Foto: thinkstock)

Ibu dan bayi yang sama-sama sehat tidak seharusnya dipisahkan usai proses persalinan dilalui. Sebab jika bayi dipisahkan dari sang ibu, 6 jam setelah dilahirkan, akan membuat stresnya meningkat.

"Setelah inisiasi menyusui dini (IMD) dilakukan, maka dilanjut dengan rawat gabung selama 24 jam. Artinya selama 24 jam dalam jangkauan ibu," kata dr. Utami Roesli SpA SpA, IBCLC, FABM , IBCLC, FABM.

Hal itu disampaikan dia usai talkshow 'Ibuku, InspirASIku- a Tribute to #NenekASI' yang digelar oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan Save The Children Indonesia di FX Lifestyle X'nter Mall, Jl Sudirman, Jakarta, dan ditulis pada Selasa (25/12/2012)

"6 Jam saja dipisahkan akan meningkatkan gelombang stres hingga dua kali lipat," sambung dr Utami.

Jika stres, maka daya tahan tubuh bayi akan berkurang. Karena itu tidak ada alasan memisahkan ibu dan bayi yang sama-sama sehat.

"Saat melahirkan pilihlah rumah sakit yang tidak memiliki kamar bayi sendiri," lanjut ibu dari 3 anak itu.

Dia menyarankan agar dua jam pertama bayi dilahirkan, sang ayah membisikkan di telinga bayi kata-kata yang baik dan doa. Misalnya bagi yang Muslim, melantunkan adzan di telinga bayi.

(vit/vit)
Source: health.detik.com
Tips Membaca Bersama Anak
SHUTTERSTOCK
Bacakan cerita sambil menunjuk kata-kata yang sedang dibaca agar si kecil mengingatnya.
KOMPAS.com - Membaca cerita bersama anak, atau read aloud adalah aktivitas yang bertujuan untuk membuat anak "mau" membaca, bukan hanya "bisa" membaca. Caranya, dilakukan dengan mengajak anak (bukan memaksa) membaca bersama orangtua. Posisikan anak agar ia bisa melihat huruf dari kata-kata yang dibacakan orangtua. Posisi si anak bisa didalam pangkuan orangtua, sambil berbaring bersebelahan, duduk bersisian, dan lainnya.

Bagaimana cara membaca buku bersama anak yang baik? Berikut ini tips dari Ariyo, salah seorang pendongeng anak yang sudah berkiprah 11 tahun, kini ia merupakan salah satu bagian komunitas Reading Bugs (komunitas yang bertujuan menyebarkan virus giat membaca):

* Tak perlu menghabiskan 1 buku dalam 1 waktu, utamakan pengalaman membaca cerita dengan anak. Ladeni si anak jika ia banyak bertanya dalam 1-2 halaman saja.

* Selalu jujur. "Ajakan untuk membaca bersama anak ini bisa menjadi ajang komunikasi antara orangtua dengan anak dan sebaliknya. Jujurlah jika Anda memang belum pernah membaca buku itu. Katakan, 'Mama belum pernah baca buku ini, nih. Kita baca barengan, ya?' Mengapa? Supaya anak tak punya ekspektasi berlebih Anda tahu segalanya dari buku ini," jelas Ariyo.

* Bacakan dari hati. Jangan terkesan terpaksa dan seperti enggan, apalagi malas-malasan. Membacakan dengan hati akan membuat Anda bersemangat berekspresi dan menarik.

* Posisikan anak dan Anda senyaman mungkin. Upayakan ada sentuhan kulit, dan si anak bisa melihat kata-kata yang Anda tunjuk saat membaca.

* Perkenalkan bukunya. "Bacakan judul bukunya, perlihatkan sampul buku kepada anak. Bacakan pula pihak yang bertanggungjawab atas buku tersebut, siapa pengarangnya, dan siapa ilustratornya."

* Sampul buku juga bisa jadi bahan diskusi tersendiri, misalnya dengan membahas warna busana si tokoh atau atribut lain pada sampul buku tersebut.

* Saat bercerita, penting agar si pembaca cerita tenang dan tidak tergesa-gesa. Ambillah waktu secukupnya.

* Setiap kata yang tertulis di buku, tunjuk dengan jari Anda. Saat si anak mendengar kata itu, ia akan mengasosiasikannya. Awalnya, dia akan menyadari vokal, lalu ia akan melihat huruf yang tertera, kemudian menyadari arti kata. Karena itulah, membaca untuk anak sudah bisa dilangsungkan sejak usia 0.

* Jangan menganggap remeh tanda baca titik, koma, tanda seru, maupun tanda tanya. Tunjukkan dengan intonasi atau gerak-gerik saat ada kata-kata yang menunjukkan sifat, seperti "besar", "kecil", "cepat", dan lainnya. Buat sedikit dramatisasi dari cerita.

* Jangan lupa tetap jaga kontak mata dengan anak.

* Bila ada kata-kata yang sekiranya si anak belum paham, tanyakan apakah si anak paham atau tidak.

* Posisikan buku supaya si anak bisa melihat buku dan gambar-gambarnya.

* Untuk anak prasekolah, apa yang diceritakan tidak harus sesuai buku. Jika ia tertarik hanya dengan 1 halaman saja, karena warnanya atau gambar, atau lainnya, kembangkan saja.

* Usahakan menggunakan suara/intonasi berbeda-beda, sesuai karakter dan teknik "fast, slow, pause".

* Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, stop, sedih, meraung, meringkuk, dan lainnya, sesuaikan dengan karakter dalam cerita.

* Tambahkan "body language".

Menurut Roosie Setiawan, penggagas Reading Bugs, membacakan cerita untuk anak bisa dimulai sejak trimester akhir kehamilan. Membacakan buku saat hamil bisa dilakukan dengan jenis buku apa pun yang ingin kita baca. Saat kehamilan, orangtua membacakan cerita adalah momen untuk memperkenalkan suara. (Penulis : Nadia Felicia )
Source: female.kompas.com
Menjadi Pendengar yang Baik bagi Anak Anda

Salah satu hal yang memiliki andil paling besar dalam tumbuh-kembang anak adalah peran orangtua. Orangtua adalah orang terdekat yang berada di sekitar anak-anak setiap hari dan itu sebabnya mengapa tumbuh-kembang anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana orangtua mendidik dan merawat anak-anaknya. Seringkali, para orangtua terlalu sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya sehingga mereka lupa bahwa anak-anak juga membutuhkan sosok mereka sebagai teman untuk berbagi. Berikut ini adalah beberapa tips tentang bagaimana menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak sehingga mereka bisa benar-benar merasakan kasih sayang dari anda dan pasangan.

Kualifikasi untuk Menjadi Pendengar yang Baik

Untuk menjadi seorang pendengar yang baik bagi anak-anak anda, sebenarnya caranya sangatlah mudah. Anda hanya membutuhkan kemauan yang keras untuk bisa mewujudkannya. Pertama, sediakanlah waktu senggang anda untuk mendengarkan cerita mereka. Jika anda bekerja dari pagi hingga sore atau malam hari, sempatkanlah mengobrol dengan anak-anak di pagi hari saat sarapan atau selepas pulang kerja jika mereka belum tidur. Anda tidak perlu membicarakan hal-hal yang terlalu mendalam, cukup tanyakan saja bagaimana harinya atau apa saja kegiatan yang akan ia jalani hari ini. Meskipun terkesan sederhana, tetapi hal-hal seperti ini bisa membuat anak-anak anda merasa diperhatikan.

Kedua, luangkan waktu di akhir minggu anda untuk menonton film bersama sambil bercanda dengan anak-anak. Anda bisa menyewa film dan menontonnya bersama-sama dengan anak-anak di rumah. Hal seperti ini sangat berguna untuk membangun hubungan yang hangat diantara keluarga anda, sehingga anak-anak anda juga tidak akan segan, takut atau malu bercerita dengan orangtuanya. Di sela waktu santai tersebut, anda bisa menanyakan bagaimana keadaannya di sekolah, apa ada masalah yang sedang ia hadapi atau bagaimana pertemanannya di sekolah dan tempat les. Dari hal kecil seperti ini, mereka akan melihat peran orangtua sebagai teman yang baik bagi mereka. Mereka akan berpikir bahwa tidak apa-apa menceritakan apapun yang sedang mereka hadapi dengan orangtuanya. Anda tidak perlu lagi memaksa atau memancing mereka untuk bercerita, karena mereka akan bercerita dengan sendirinya.

Manfaat menjadi Pendengar yang Baik

Ketika anda berhasil menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak anda, anda sebenarnya sudah memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan sifat, karakter dan psikologisnya. Mereka akan tumbuh sebagai anak yang terbuka dan penyayang, karena mereka pun merasakan hal yang sama dari orangtuanya. Selain itu, tanpa anda harus marah-marah atau melarangnya ini dan itu, anak-anak anda akan merasa segan dengan sendirinya jika mereka melakukan hal-hal yang tidak baik. Karena terbiasa bercerita apapun dengan anda, mereka akan merasa gelisah dan tidak tenang jika menyimpan rahasia dari anda. Dengan menjadi pendengar yang baik, sebenarnya anda bisa mengontrol anak anda tanpa perlu membuat anak-anak menjadi merasa terkekang atau sedang diawasi.
Source: lovira.com
Beberapa Tips Parenting Bagi Anda Sebagai Orang Tua
Menjadi orang tua bukanlah pekerjaan yang mudah dan cepat dikuasai. Perlu kesabaran dan latihan untuk menjadi orang tua yang baik karena membesarkan anak tidak boleh dilakukan dengan setengah hati. Anak-anak merupakan titipan Tuhan yang wajib kita jaga sebaik mungkin. Membesarkan anak menjadi seorang yang baik budi dan dapat dibanggakan oleh kita merupakan harapan kita semua. Ada beberapa tips untuk anda yang baru menjadi orang tua agar dapat membesarkan dan membantu anak berkembang secara baik.

Usahakan selalu membacakan cerita kepada anak sebelum tidur, hal ini dilakukan agar anak jadi senang membaca nantinya. Hal ini juga dapat meningkatkan ikatan antara ibu dan anak. Berikanlah anak anda rasa cinta yang melimpah dan dorongan semangat setiap saat. Jika seorang anak mengetahui bahwa anda mencintai dan selalu mendukungnya, mereka akan memiliki keinginan untuk tidak mengecawakan ibu atau ayahnya. Buatlah aturan-aturan yang sederhana dan usahakan berpegang teguh terhadap aturan tersebut. Aturan sederhana yang bisa anda buat antara lain mengatur porsi anak untuk menonton televisi, menentukan jam belajar anak, atau menentukan jam makan. Usahakan agar anak anda mempunyai waktu yang cukup untuk tidur. Waktu yang disarankan anak untuk tidur adalah sekitar jam 8 malam atau jam 8.30 malam. Masa anak-anak merupakan masa pertumbuhan, disaat anak tertidur maka pertumbuhan badannya dimulai, maka sangat penting anak anda selalu tidur tepat waktu.

Anda juga harus sesering mungkin berbicara dengan anak anda dan menjelaskan beberapa hal yang tidak diketahui oleh mereka. Pastikan anda adalah guru yang pertama dan terpenting bagi anak anda. Anda juga harus dengan tekun mendengarkan perkataan anak anda, jangan sampai mengacuhkan ketika anak anda sedang berbicara dan ingin berbagi cerita dengan anda. Ajarkan mereka untuk selalu menghormati orang lain dan tidak berlaku kasar kepada orang lain. Anda juga harus selalu merasa bangga pada anak anda dan tunjukkan sesering mungkin bahwa anda bangga terhadap anak anak. Hal ini dapat membantu rasa percaya diri anak dan membuat mereka merasa bangga pada diri sendiri. Jadilah contoh yang baik bagi anak anda. Buatlah mereka bangga dan mempunyai rasa hormat pada anda. Ingatlah bagaimana dulu anda selalu ingin seperti orang tua anda karena orang tua anda merupakan contoh yang sangat baik bagi anda. Anda juga bisa menyuruh anak melakukan pekerjaan rumah yang sederhana seperti menyiram bunga atau merapikan meja makan. Hal ini dapat membantu anak untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Ajaklah anak anda bermain permainan yang dapat melatih kemampuannya seperti bermain mmenghitung, membedakan warna, atau menggambar. Yang paling utama dalam membesarkan anak adalah kesabaran dan rasa cinta terhadap anak yang berlimpah.
Source: lovira.com
Dwi Indah Nurcahyani - Okezone
Imunisasi Investasi Kesehatan Anak untuk Masa Depan
Imunisasi bayi (Foto: begadistrictnews.com.au)

IMUNISASI tidak saja menjadi langkah preventif mencegah penularan penyakit, tapi juga investasi kesehatan buah hati di masa depan. Mau bukti?

Siapa pun pasti mengenal imunisasi. Bahkan, mungkin sebagian besar dari kita sudah pernah mendapatkan imunisasi saat kita masih kecil.

Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap penyakit-penyakit tertentu.

Sayangnya, masih ada kelompok masyarakat yang masih meragukan manfaat pemberian imunisasi kepada anaknya. Padahal, imunisasi tidak hanya menciptakan kekebalan tubuh, tapi juga penting untuk memutus mata rantai penularan penyakit pada anak maupun orang-orang di sekitarnya.

Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) masih merupakan penyebab kematian dan kecacatan anak. Sekira lima persen kematian pada anak balita diakibatkan oleh PD3I. Karena itu, upaya imunisasi sangat penting dilakukan untuk menekan angka kesakitan dan kematian tersebut.

Terus diintensifkan

Pemberian imunisasi di Indonesia pertama kali dilakukan pada 1956, diawali dengan imunisasi cacar. Sejak itu, cakupan dan jenis imunisasinya terus diperluas. Dewasa ini, ada lima vaksin yang diberikan Program Imunisasi pada bayi dan anak Indonesia untuk mencegah tujuh penyakit menular, yaitu Tuberkulosis, Polio, Difteria, Pertusis, Tetanus, Campak, dan Hepatitis B.

Kegiatan pemberian imunisasi juga semakin merata di seluruh wilayah. Kalau 2008 baru 68,3 persen dari 65.781 desa yang telah mencapai Universal Child Immunization (UCI), setelah akselerasi pada 2010, cakupannya mencapai 75,3 persen dari 75.990 desa.

Salah satu contoh konkrit keberhasilan penting program imunisasi, yaitu bebasnya penyakit cacar. Pada 1974, Indonesia secara resmi dinyatakan negara bebas cacar. Sementara itu, kasus penyakit PD3I lainnya juga makin menurun. Campak misalnya, dari 24.388 kasus pada 2008, turun menjadi 17.139 kasus pada 2010. Tetanus neonatorum dilaporkan sebanyak 198 kasus pada 2008, beberapa tahun terakhir menjadi sekira 137 kasus.

Untuk polio, walaupun sudah tidak ada lagi kasus polio dalam beberapa tahun ini, ancaman dari luar negeri masih tetap ada. Beberapa negara di dunia masih melaporkan adanya virus polio liar. Karena belum seluruh desa mencapai UCI, berarti masih ada kantung-kantung desa yang berpotensi terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Untuk antisipasi keadaan tersebut, sejak 2009 telah dilakukan kampanye imunisasi tambahan dalam tiga tahap. Tahap pertama dilakukan pada 2009, tahap kedua pada 2010, dan tahap terakhir digelar pada 2011 di 17 provinsi di Indonesia dengan sasaran cakupan minimal 95 persen dari seluruh anak balita.

Tahun ini, Indonesia bersama-sama negara-negara di kawasan Asia Tenggara berkomitmen menjadikan 2012 sebagai Tahun Intensifikasi Imunisasi Rutin atau Intensification of Routine Immunization (IRI).

Menyikapi isu

Imunisasi tentu perlu mendapatkan dukungan penuh dari semua pihak, termasuk masyarakat. Pasalnya, sampai saat ini masih dijumpai sejumlah tantangan dalam pemberian imunisasi, antara lain pemahaman orangtua yang masih kurang di sebagian kalangan masyarakat, mitos yang salah terkait imunisasi, kendala geografis, sampai jadwal imunisasi yang terlambat.

Masyarakat juga perlu lebih cermat dan berhati-hati dalam menyikapi berbagai informasi terkait imunisasi, misalnya menyikapi kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang berat.

Sebagai contoh, ketika wabah polio di Jawa Barat terjadi, beberapa anak lumpuh setelah mendapat vaksin polio. Dengan pemeriksaan virus (virologi) terbukti bahwa kelumpuhan tersebut diakibatkan virus polio liar yang sudah menyerang anak tersebut sebelum dia mendapat imunisasi polio.

Demikian pula dengan kasus KIPI berat lainnya. Setelah diperiksa ahli-ahli di bidangnya, terbukti bahwa KIPI tersebut akibat penyakit lain yang sudah ada sebelumnya, bukan akibat imunisasi.

Untuk menyikapi kasus KIPI, sebaiknya masyarakat mengacu pada informasi yang diberikan oleh Komite Daerah (Komda) KIPI yang ada di provinsi atau Komite Nasional (Komnas) KIPI di Jakarta. Karena berita atau laporan kecurigaan adanya KIPI selalu dikaji secara ilmiah oleh ahli-ahlinya, seperti pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, dan imunologi yang ada di komite tersebut.

Sejatinya, masyarakat tidak perlu ragu akan keamanan dan manfaat imunisasi. Saat ini, 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita.

Bahkan, negara-negara dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi pun masih terus melaksanakan program imunisasi. Termasuk, negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan imunisasi lebih dari 85 persen.

Pencegahan penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah ketimbang terlanjur jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Jadi, imunisasi bisa dikatakan investasi kesehatan untuk masa depan. Sebaiknya, semua bayi dan balita diimunisasi secara lengkap. Dengan terhindarnya anak dari penyakit infeksi berbahaya, maka mereka memiliki kesempatan beraktivitas, bermain, belajar tanpa terganggu masalah kesehatan. (tty)
Source: lifestyle.okezone.com
Mitos Menyusui yang Salah & Dampaknya Pada Bayi
Ketika hamil dan menyiapkan diri untuk melahirkan, tidak sedikit wanita yang merasa takut untuk menyusui. Ketakutan tersebut biasanya karena wanita mendengar mitos-mitos yang salah mengenai menyusui.

Ada banyak mitos menyusui yang salah dan berdampak pada gagalnya bayi mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya dan diganti susu formula. Padahal sudah banyak penelitian yang menyebutkan kelebihan ASI dibanding susu formula, misalnya saja anak akan tumbuh menjadi lebih pintar dan tidak mudah sakit.

Mitos-mitos salah mengenai menyusui di antaranya payudara turun, ibu jadi gemuk, ASI ibu tidak cukup hingga makanan-makanan apa saja yang harus dimakan agar ASI melimpah. Pada liputan khusus kali ini wolipop mencoba menelaah mengenai kebenaran mitos-mitos tersebut. Anda bisa membaca sendiri di sini, apakah memang benar menyusui bisa membuat payudara wanita turun. Para ibu menyusui juga bisa mengetahui olahraga apa yang tepat agar payudara tetap kencang setelah melahirkan.

Bagi ibu menyusui yang punya masalah berat badan, wolipop pun menanyakan kepada ahlinya bagaimana seharusnya pola makan yang benar. Bicara mengenai makanan, sebenarnya bukan hanya hal itu saja yang bisa membuat ASI ibu jadi melimpah. Deputy Chairwoman Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Nia Umar menjelaskan di sini, apa yang lebih penting dari makanan untuk menentukan keberhasilan menyusui.

Dengan semakin canggihnya teknologi, ibu kini tidak perlu takut lagi gagal menyusui. Selama memiliki informasi yang cukup, hambatan dan rintangan apapun bisa dilalui untuk memberikan bayi ASI.

Model seksi Miranda Kerr pernah bilang: "To me breastfeeding is the most natural thing in the world and I love it and the bonding time we have during these precious and beautiful moments".

Menyusui memang aktivitas paling natural yang bisa dilakukan ibu pada bayi. Seperti kata Miranda, momen menyusui itu tidak akan pernah Anda lupakan karena di saat itulah bonding dengan anak bisa tercipta. Happy breastfeeding...
Source: wolipop.detik.com
10 tahap penting perkembangan bayi
Gerakan bayi baru didominasi oleh gerak refleks. Dengan berkembangnya sistem saraf, di usia 2 bulan gerakan refleksnya berkurang, dan kemampuan kognitif serta sosial bayi berkembang pesat. Berikut ini 10 tahap perkembangan penting bayi Anda:

1. Tengkurap (usia 3 - 4 bulan). Tengkurap terjadi ketika bayi berhasil bertumpu pada perutnya dan bertahan pada posisi tersebut beberapa saat. Anak tengkurap diawali dengan kemampuan memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri, lalu ia belajar berguling di usia 1,5 – 2 bulan. Bayi Anda belajar tengkurap pertama kali pada satu sisi, dilanjutkan di sisi lain, kemudian berbalik lagi. Ketika mencapai usia 3-4 bulan, saat otot lehernya semakin kuat ia dapat berbaring telentang dengan memandang lurus ke depan. Lengan dan kakinya pun lebih bebas bergerak sejalan dengan kemampuannya menggerak-gerakkan kepalanya. Ia juga mulai berlatih berguling dan mengangkat kepalanya dalam posisi tengkurap. Baru di usia 5 bulan ia bisa tengkurap sendiri.

2. Mengangkat kepala (usia 4 bulan). Di usia 2 bulan bayi Anda mampu mengontrol gerakan leher dan kepalanya. Ia dapat mengangkat kepala membentuk sudut 45 derajat dengan cara bertopang pada kedua tangannya saat usiannya 3 bulan. Di usia 4 bulan, bayi bisa mengangkat kepalanya dengan sudut lebih besar yaitu 90ยบ dalam posisi tengkurap. Kemampuan mengangkat kepalanya ini membantu melatih ketajaman penglihatannya. Ia pun mulai menengadahkan kepalanya untuk mencari Anda bila mendengar suara Anda.

3. Memekik gembira (usia 4-5 bulan). Pernahkan Anda mendengar si kecil mengeluarkan suara dengan nada tinggi penuh kesenangan saat berhasil meraih benda yang diinginkan atau ketika ia merasa senang dengan kehadiran Anda? Di awal hidupnya, suara-suara yang dikeluarkannya merupakan respons tubuhnya terhadap emosi saat itu. Namun di usia 4 bulan ke atas, bayi mengeluarkan suara dengan tujuan lebih jelas. Ia akan berteriak dengan gembira bila berhasil mencapai keinginannya. Suara yang dikeluarkannya adalah sarana untuk mengungkapkan perasaannya atau berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Masa berceloteh ini memang sangat dinikmati si kecil. Perhatikan saja saat ia melakukan aktivitas sehari-hari, Anda akan mendengar celotehannya. Ia akan mengeluarkan suara yang menyerupai huruf hidup seperti “aaaahh”, “uuuhhh”, “aaiii.”

4. Memegang dua benda di dua tangan ( usia 7–8 bulan). Di usia 4–5 bulan, keduanya tangan anak semakin terampil. Bila Anda memberinya mainan berwarna cerah, ia akan menggerakkan lengan dan tangannya menggapai ke arah mainan tersebut. Gerakan menggapai ini melatihnya untuk meraih lalu menggenggam dan memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan lain. Di usia 7-8 bulan, keterampilan jari-jemari si kecil meningkat. Ia akan menggunakan tangan yang berbeda untuk tujuan berbeda. Satu tangan digunakan untuk bereksporasi, sementara tangan lain untuk memegang. Perhatikan, bila satu tangannya memegang mainan kemudian tangan satunya diberikan mainan lain, ia tetap akan memegang mainan pertamanya namun tangan yang satu mengambil mainan yang Anda tawarkan itu. Jika ada Anda memberikan sebuah mainan lagi, salah satu mainan yang sedang dipegangnya itu akan dibuangnya kemudian ia akan mengenggam mainan ketiga yang Anda tawarkan itu.

5. Duduk (usia 7-8 bulan). Tonggak perkembangan yang mengagumkan dari seorang anak adalah saat ia bisa duduk sendiri. Ketika otot-otot punggung dan lehernya sudah cukup kuat untuk menopang tubuhnya, ia belajar duduk. Setelah belajar mengangkat kepalanya saat tengkurap, tahap selanjutnya si kecil belajar bagaimana menyangga tubuhnya menggunakan kedua lengannya dan mengangkat tubuhnya semacam mini push-up. Sekitar usia 6 bulan, bayi Anda mencoba duduk sendiri dengan mengandalkan satu atau kedua tangannya untuk duduk. Baru di usia 7 – 8 bulan ia mengusai kepandaian baru yaitu dapat duduk sendiri dari tengkurap kemudian bangun sendiri dengan bantuan tangannya. Dengan kemampuan duduk ini, ia dapat meraih benda yang diinginkannya.

6. Merangkak (usia 7-8 bulan). Merangkak adalah cara pertama bayi untuk dapat mengeksplorasi sekeliling ruang untuk mempelajari hal-hal baru yang menarik perhatiannya. Cara anak merangkak adalah ketika ia akan belajar keseimbangan melalui tangan dan lututnya kemudian belajar maju mundur mendorong tubuhnya dengan mendorong lututnya. Kepandaian merangkak ini adalah juga salah satu cara menguatkan otot-otot yang akan membantunya belajar berjalan. Usia rata-rata anak belajar merangkak saat ia mulai dapat duduk tanpa bantuan di usia 7-8 bulan. Dia dapat mengangkat kepalanya untuk melihat sekelilingnya dan otot-otot lengan, kaki dan punggungnya cukup kuat untuk mencegahnya jatuh ke permukaan saat ia mencoba bangkit dengan bantuan tangan dan lututnya. Di usia 9-10 bulan, bayi Anda mencapai kepandaian baru yakni merangkak mundur untuk mengambil ancang-ancang duduk. Si kecil juga menguasai teknik yang lebih maju yaitu “cross-crawling,” gerakan merangkak menggunakan satu tangan dan satu kaki yang berlawanan (misalnya tangan kanan dan kaki kiri) secara bersamaan.

7. Makan sendiri (usia 6-9 bulan). Makan sendiri dimulai sejak usia 6 bulan yaitu saat bayi Anda sudah bisa menggunakan tangan dan jari-jarinya dengan baik dan koordinasi mata serta tangannya yang juga semakin baik. Si kecil dapat meraih benda yang jaraknya sekitar 25 cm dengan kedua tangannya kemudian memindahkan benda dari tangan satu ke tangan lain. Ia juga senang memasukkan segala sesuatu ke mulut, dan dapat memegang dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengambil makanan. Tambahan pula gigi-geliginya yang mulai tumbuh di usia 6 bulan membuat si kecil terdorong mulai belajar menggigit benda yang masuk ke dalam mulutnya. Di usia 6 bulan ia sudah juga mengonsumsi Makanan Pendamping ASI (MP ASI) atau makanan padat. Di usia 8-9 bulan, kedua tangannya semakin terampil mengenggam suatu benda. Ia bisa memegang sendok meski masih kagok ketika memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Biarkan ia bereksperimen menggunakan sendok dan memasukkan benda itu ke mulutnya.

8. Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal (usia 9-12 bulan). Saat si kecil sudah mengenali anggota keluarganya di usia sekitar 6 bulan, ia mulai dapat membedakan wajah orang-orang dekat dalam kehidupannya. Pada masa ini keterikatannya dengan orang yang dikenalnya lebih berarti. Ia dapat melihat, mendengar dan mengingat orang yang dikenalnya. Di usia ini pula ia mampu mengamati wajah dengan seksama. Dari sini ia mulai berkenalan dan akrab dengan orang-orang terdekatnya. Tak heran di usia 9 bulan ke atas ia mulai sadar wajah orang-orang yang asing baginya. Ketika ia menyadari sedang seorang diri dengan orang yang tidak dikenalnya, timbul rasa takut. Bayi usia 8 bulan sudah bisa merasa takut terhadap orang asing. Si kecil yang mau digendong oleh orang yang dikenalnya, jadi tiba-tiba lebih mudah menangis bila ditinggal sendiri bersama orang lain yang tak dikenalnya.

9. Berjalan (usia 12-13 bulan). Langkah pertama merupakan gerakan awal anak untuk menjadi sosok yang mandiri. Di usia 8-9 bulan ia mulai bisa mengangkat tubuhnya ke posisi berdiri. Biasanya si kecil akan menumpukkan kedua tangannya pada meja, kursi atau perabot rumah tangga atau apapun yang bisa menahan berat badannya. Ia kemudian akan belajar merambat, menggeserkan kedua tangannya ke samping diikuti oleh langkah kedua kakinya. Di usia ini kepandaian anak dalam belajar berjalan semakin baik. Jika Anda memegang kedua tangannya ia akan menapak dan mulai melangkah. Lama-lama otot-otot kakinya semakin terlatih dan kuat. Si kecil juga kian semangat menjajal kemampuannya berjalan. Di usia 11 bulan, ia sudah mampu berdiri sendiri dalam waktu sekitar 2 detik tanpa bantuan apa pun karena ia memang sudah pandai menjaga keseimbangan tubuh. Lalu anak mulai mencoba melangkah sendiri 2-3 langkah Di usia 12 bulan, hupla, ia telah siap berjalan meski kadang-kadang masih sedikit limbung.

10 . Bicara (usia 18 - 24 bulan). Rata-rata anak bisa lancar bicara di usia 2 tahun. Sebelum kata-kata pertama keluar dari mulutnya, dia belajar peraturan berbahasa dan melihat bagaimana orang dewasa berkomunikasi. Ia mengawalinya dengan menggunakan lidah, mulut, langit-langit dan gigi-geliginya untuk membuat suara Lambat laun kata-kata tak berbentuk ini menjadi kata yang berarti: “mama”, “papa”, “bubu”, “susu” dan sebagainya. Sejak itu, setiap saat anak mengutip kata-kata yang didengarnya baik dari ibu atau orang-orang di sekitarnya. Kira-kira usia 18-20 bulan, si kecil mempelajari 10 kata per hari. Dari situ ia mulai belajar membentuk kalimat. Di usia 2 tahun, ia dapat membentuk 2-3 kata menjadi satu rangkaian kalimat. Ia dapat menggambarkan apa yang dilihat, didengar, dirasa, dipikirkan dan diinginkannya dalam satu rangkaian kalimat.
Source: www.ayahbunda.co.id
Panduan Memandikan Bayi Sesuai Usia
Shutter Stock
Ini cara tepat memandikan bayi
KOMPAS.com - Menjadi seorang ibu baru memang tak mudah. Banyak pelajaran baru yang harus perlahan-lahan dipelajari ibu untuk merawat sang buah hati dengan baik. Salah satu pekerjaan yang tergolong banyak ditakuti ibu baru adalah saat harus memandikan bayi. Kondisi fisik bayi yang masih ringkih membuat Anda jadi takut untuk memandikannya.

"Selain itu, ada juga ketakutan karena belum berpengalaman untuk memandikan bayi. Misalnya tidak tahu harus pakai air hangat atau air dingin, dan lain-lain," tukas dr. Atilla Dewanti, SpA dalam acara workshop Baby Spa di Graha Unilever, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Menurut Dr. Atilla ada beberapa langkah mudah yang harus dilakukan saat memandikan si kecil tergantung dari usianya.

Bayi usia 0-3 bulan
1. Untuk memandikan bayi yang baru lahir sampai berusia tiga bulan, ia menyarankan untuk menggunakan air yang hangat. "Kulit bayi baru lahir punya kulit yang sangat tipis sehingga masih sensitif. Air dingin bisa membuatnya hipotermia," tukasnya. Siapkan air hangat di dalam bak mandi.
2. Kemudian, awali dengan mengelap tubuh bayi dimulai dari bagian atas, dan kepala. Selanjutnya, mulailah untuk mencuci rambutnya. Namun, biarkan tubuh bayi tetap terbungkus dengan selembar kain flanel yang hangat.
3. Setelah bagian kepala selesai dibersihkan, lanjutkan membersihkan bagian badan bayi. Buka pembungkus flanel bayi, dan awali dengan membersihkan bagian alat kelamin bayi. Terakhir bersihkan badan, tangan dan kaki bayi.
4. Terakhir, bilas dengan seluruh tubuh bayi dengan washlap yang sudah dibasahi air hangat sampai bersih.

Bayi usia 4-11 bulan
1. Usia 4-5 bulan, bayi sebaiknya masih dimandikan dengan air hangat. Dr. Atilla menyarankan untuk bayi diperkenalkan dengan air dingin ini mulai dari usia enam bulan ke atas.
2. Awali dengan membersihkan tubuh bayi bagian depan dan belakang dengan menggunakan washlap yang sudah diberi sabun bayi. Pastikan sabun yang digunakan ini lembut dan aman bagi kulit bayi.
3. Setelah bersih dan cairan sabun hilang semua, angkat bayi dari bak mandi dan keringkan dengan handuk.

Penulis : Christina Andhika Setyanti
Editor : Hesti Pratiwi
Source: female.kompas.com
Hindari Kalimat-kalimat ini Saat Bicara dengan Anak
SHUTTERSTOCK
Jangan bilang ia nakal atau menunjukkan Anda takut padanya, karena ia hanya akan menganggap Anda tak punya otoritas padanya.
KOMPAS.com - Ada saat-saat tertentu ketika orangtua merasa tak sabaran menghadapi anaknya. Marah dan frustasi kadang memicu ucapan yang tak diperhitungkan dengan seksama. Awalnya kita pikir kata-kata itu akan menghilang begitu saja dan tak berpengaruh pada anak, toh, orangtua dari kita sendiri mengucap kata-kata itu ke kita. Jangan salah, ada kata-kata yang seringkali memiliki dampak besar pada emosi dan psikologis anak. Ada beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari saat berbicara dengan anak. Apa saja?

"Kamu seharusnya malu sama diri sendiri"
Kata "malu" adalah emosi yang destruktif dan seringkali memicu rasa bersalah yang sangat mendalam. Meski setiap anak bertingkah nakal, amat penting bagi mereka untuk mengerti mengapa tingkah mereka itu salah dan ia harus paham bahwa adalah hal yang wajar bagi setiap manusia untuk melakukan kesalahan, dan yang terpenting adalah kita semua belajar dari kesalahan itu.

"Karena Mama bilang begitu!"
Anak-anak merespon pada aturan saat mereka melihat alasan di baliknya. Habiskan beberapa detik untuk membantu mereka mengerti mengapa, agar mereka bisa melihat Anda sebagai figur otoritas yang pantas untuk dihormati ketimbang sebagai diktator.

"Mama enggak peduli kamu mau apa!"
Kadang, saat ada lebih dari 1 anak yang harus Anda puaskan, sulit untuk bisa memberikan mereka semua apa yang mereka mau. Kadang, saat mereka merengek di saat bersamaan karena meminta hal-hal yang berbeda, tanpa sadar, banyak orang mengatakan kata-kata semacam ini kepada anaknya. Namun, hal ini bisa membekas di pikiran anak-anak, karena mereka akan berpikir bahwa Anda tak peduli pada kebutuhannya, dan imbasnya mereka bisa tidak menghormati Anda. Ingat, menghadapi emosi mereka tidak berarti menyerah dan memenuhi permintaan mereka.

"Tante minta ciumnya, dong!"
Anda tidak akan mau mencium orang lain secara otomatis saat ada yang bilang mereka minta cium Anda, kan? Begitu pun anak-anak. Hormati wilayah personal mereka dan beri kontrol mengenai siapa yang boleh mendapat afeksi mereka.

"Kenapa kamu enggak bisa kayak..."
Membandingkan anak dengan anak lain, entah itu saudara kandungnya atau teman sekolahnya sama artinya Anda menanamkan bibit kerusakan di dalamnya. Merasa lemah dan tidak baik bisa memicu anak yang akan "meledak" di suatu waktu dan pertikaian di antara saudara. Ketimbang membuat mereka merasa rendah diri dibanding kelebihan orang lain, pujilah ia akan hal-hal baik yang ia bisa, tawarkan bantuan di area yang mereka kurang kuasai.

"Tunggu sampai Papa/Mama pulang nanti!"
Tak hanya hal ini akan memberi kesan bahwa yang mengatakan hal itu adalah orangtua yang takut kepada anaknya, tetapi juga menunjukkan bahwa Anda tidak punya kontrol terhadap situasi. Mengatakan hal ini berarti menyepelekan otoritas Anda dan pada akhirnya membuat si anak berpikir dan bertanya kepada diri sendiri, mengapa mereka mendengar Anda sejak awal?

"Kamu yang paling hebat!"
Ironis memang, tidak semua kata-kata positif itu berdampak positif. Tentu anak Anda adalah yang terbaik, tetapi terlalu banyak pujian tidak spesifik akan membuatnya jadi tidak berarti. Buatlah pujian yang spesifik.

"Enggak usah takut. Enggak kenapa-kenapa, kok!"
Kemampuan seorang anak untuk merasa aman dan mengkomunikasikan perasaannya adalah hal yang sangat penting bagi pertumbuhannya. Meski Anda pikir ini adalah sikap manis dan baik, tetapi sebenarnya kata-kata seperti ini mengimplikasikan bahwa emosi mereka tidak benar. Dengarkan dan hadapi ketakutan mereka ketimbang meremehkan dan membuat mereka mengacuhkan perasaan mereka.

"Kamu nakal sekali!"
Adalah hal yang sangat buruk untuk melabeli anak dengan "nakal/badung/bandel", karena mereka akan berpikir itu adalah jati diri mereka dan berusaha untuk membenarkan Anda. Coba tunjukkan ketidaksukaan Anda akan sikap yang tak baik, jangan anaknya.

"Cepetan, dong! Mama tinggal, Ya!"
Menanamkan isu bahwa Anda akan meninggalkannya bukan hal yang disarankan. Anak tak tahu apakah Anda benar-benar akan meninggalkannya atau tidak. Meski sebenarnya Anda hanya bercanda atau menakut-nakuti, alias ancaman kosong. Bersabarlah menunggunya dan sadari anak-anak amat mudah teralihkan pikirannya, dan cari cara lain untuk mempercepat persiapannya beranjak. (Penulis : Nadia Felicia )
Source: female.kompas.com
>>